Berita

Sampah Bantar Gebang dan Serangan Ahok Untuk Alihkan Isu Korupsi RSSW dan APBD ‎

SELASA, 03 NOVEMBER 2015 | 22:43 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Polemik ‎Pengelolaan Sampah Bantar Gebang dianggap sekadar pencitraan dan upaya pengalihan isu Gubernur DKI Basuki Tjahja Purnama dari kasus pembelian lahan Rumah Sakit Sumber Waras (RSSW) dan APBDP DKI 2015 yang terindikasi korupsi.

"Ahok panik dengan kasus RSSW dan APBDP 2015," kata Direktur Eksekutif Indonesia For Transparency and Accountability (INFRA) Agus A. Chairudin kepada Kantor Berita Politik RMOL, Selasa (3/11).

‎Tak hanya polemik Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang, sebut Chairudin, upaya pengalihan opini juga dilakukan Ahok dengan ‎menyerang oknum BPK. Ahok menyebut BPK dendam kepada dirinya sehingga melancarkan serangan dengan cara menuduhnya bersalah dalam pengadaan lahan RSSW. Motif yang sama menurut Ahok, mendasari BPK menyerang adiknya yang juga Bupati Belitung Timur Basuri Tjahja Purnama.‎

"Upaya Ahok alihkan opini masyarakat atas kasus RSSW dan APBDP Tahun 2015 dengan polemik TPST Bantar Gebang gagal. Upaya‎ terakhir Ahok dengan "jurus" menyerang oknum BPKP," imbuh Agus.

K‎egagalan Ahok mengalihkan opini dengan kasus TPST Bantar Gebang‎, dalam hemat Agus, terlihat dari adanya rencana perbaikan MoU antara Pemprov DKI dengan Pemkot Bekasi dan isu oknum DPRD Bekasi bermain dengan PT Godang Tua Jaya, tak lama setelah masalah TPST "dibunyikan" oleh Ahok.

‎"Sekarang Ahok berupaya mencari simpati masyarakat dengan mengungkap isu oknum BPKP dendam menyerang pribadi dan adiknya sebagai Bupati Belitung. Jika demikian kami mendorong BPKP dan BPK segera melakukan audit investigasi APBD Belitung Timur sejak Ahok menjabat Bupati Belitung serta kepemimpinan Basuri sebagai bupati," saran Chairudin.

‎Di lain pihak, Chairudin mengatakan pihaknya memiliki bukti dokumen mengenai berbagai program bermasalah yang dijalankan Ahok saat menjabat Bupati Belitung Timur. Proyek-proyek tersebut yakni pembangunan tugu di perempatan kota Belitung yang terbengkalai selama tiga tahun. Pantai Burung Mandi yang tidak terurus sementara jalan menuju rumah keluarga Ahok yang lokasinya di sana tampak mulus. Kemudian juga indikasi KKN dalam pengadaan alkes dan pelanggaran pertambangan perusahaan milik Ahok di kawasan Hutan Lindung.

‎"Pertanyaannya, kenapa aparat penegak hukum menutup mata atas fakta-fakta dugaan KKN Ahok sejak menjabat Bupati Belitung dan Gubernur DKI. Ini menjadi tolok ukur kredibilitas dan integritas penegak hukum dalam memberantas KKN pejabat negara (Ahok). Dengan begitu publik tidak menganggap penegakan hukum dilakukan tebang pilih," tukasnya.[dem]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

AS Gempur ISIS di Suriah

Minggu, 11 Januari 2026 | 18:14

Aksi Kemanusiaan PDIP di Sumatera Turunkan Tim Kesehatan Hingga Ambulans

Minggu, 11 Januari 2026 | 18:10

Statistik Kebahagiaan di Jiwa yang Rapuh

Minggu, 11 Januari 2026 | 17:52

AS Perintahkan Warganya Segera Tinggalkan Venezuela

Minggu, 11 Januari 2026 | 17:01

Iran Ancam Balas Serangan AS di Tengah Gelombang Protes

Minggu, 11 Januari 2026 | 16:37

Turki Siap Dukung Proyek 3 Juta Rumah dan Pengembangan IKN

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:53

Rakernas PDIP Harus Berhitung Ancaman Baru di Jawa Tengah

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:22

Rossan Roeslani dan Ferry Juliantono Terpilih Jadi Pimpinan MES

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:15

Pertamina Pasok BBM dan LPG Gratis untuk Bantu Korban Banjir Sumatera

Minggu, 11 Januari 2026 | 14:50

Pesan Megawati untuk Gen Z Tekankan Jaga Alam

Minggu, 11 Januari 2026 | 14:39

Selengkapnya