Berita

ilustrasi/net

Hukum

KPK Masih Punya Nyali dan Tak Pandang Bulu

SABTU, 24 OKTOBER 2015 | 21:15 WIB | LAPORAN:

Sudah tiga orang kader partai yang mendukung Pemerintah, Koalisi Indonesia Hebat ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi.

Sebelumnya, Anggota Fraksi PDI Perjuangan Andriansyah, adalah orang pertama yang ditangkap tangan oleh KPK dikarenakan menerima suap. Setelah itu Patrice Rio Capella dari Partai NasDem ditahan KPK dengan kasus pengamanan penyelidikan kasus Bansos di Kejati Sumut dan Kejagung.

Lalu terakhir, KPK menangkap anggota Fraksi Partai Hanura, Dewi Yasin Limpo. Dewi ditangkap KPK dalam operasi tangkap tangan terkait pembahasan anggaran.


Muncul pertanyaan apakah KPK melakukan aksi balas dendam dengan melakukan kriminalisasi kepada kader partai-partai pendukung pemerintah secara bergiliran. Apalagi, beberapa bulan lalu, ketiga partai tersebut aktif mendukung revisi Undang-Undang 30/2002 tentang KPK. Revisi UU KPK diduga berpotensi melemahkan lembaga yang telah berdiri selama 13 tahun itu.

Pakar politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro menilai langkah yang dilakukan KPK adalah murni penegakan hukum dalam memberantas korupsi.

Menurutnya, hal tersebut merupakan bukti kongkrit KPK masih mempunyai nyali, dan  tidak pandang bulu.  "KPK telah menjalankan tupoksinya, justru ini bukti kongkrit KPK masih punya nyali, ini menunjukkan fungsi KPK masih berjalan," ujar Siti saat dikontak Kantor Berita Politik RMOL, Sabtu (24/10).

Meski demikian, penangkapan tersebut bisa saja dijadikan isu rekayasa politik untuk membongkar partai yang tergabung di koalisi Pemerintah. Hal ini jugalah yang harus menjadi perhatian penegak hukum dalam membongkar kasus-kasus korupsi.

"Itu yang harus dihindari oleh KPK, agar setiap langkahnya harus dilengkapi dengan fakta hukum. Kalau KPK melakukan politisasi hukum, rakyat akan marah, dan membuat citra dari penegak hukum itu luntur. jika itu terjadi maka penegak hukum akan kehilangan kepercayaan dari masyarakat," tutup Siti. [sam]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Tiket Jakarta Fair Tidak Ramah Kantong Rakyat Berpenghasilan Rendah

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:21

UPDATE

Iran Tak Terima Dituding Langgar Gencatan Senjata

Sabtu, 27 Juni 2026 | 10:21

Riak Penolakan Jokowi di Lampung, Baliho Sambutan Raib

Sabtu, 27 Juni 2026 | 10:01

Ramai di Medsos, Purbaya Respons Pajak Pencairan JHT BPJS Ketenagakerjaan

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:59

Ajukan Kasasi, Kerry Riza Anggap Putusan PT DKI Janggal

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:46

Harga Minyak Anjlok ke Level 71 Dolar AS

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:39

bank bjb Perluas Kolaborasi dengan Whuush Ojol, Kadin Jabar dan MUJ

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:38

AS Serang Target Militer Iran, Balas Serangan Drone terhadap Kapal Kargo di Selat Hormuz

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:21

Emas Antam Naik Usai Mandek Dua Hari Beruntun

Sabtu, 27 Juni 2026 | 09:09

Trump Sebut Iran Lakukan Pelanggaran Bodoh Terkait Pelanggaran Gencatan Senjata

Sabtu, 27 Juni 2026 | 08:51

Emas Rebound 1,3 Persen usai Data Inflasi AS

Sabtu, 27 Juni 2026 | 08:33

Selengkapnya