Berita

ilustrasi/net

Bisnis

DPR: Proyek Kereta Cepat Bisa Ganggu Bisnis Utama PTPN VIII

Pakai Lahan Perkebunan Untuk Bangun Infrastruktur
RABU, 21 OKTOBER 2015 | 08:15 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Rencana pemakaian lahan perkebunan teh milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) VIII dalam pembangunan mega proyek kereta cepat (high speed train) Jakarta-Bandung dikhawatirkan menimbulkan efek negatif. Dengan memanfaatkan lahan aset milik salah satu BUMN itu, dikhawatirkan bisa mempengaruhi kinerja perusahaan pengelolaan perkebunan.
 
Anggota Komisi VI DPR Refrizal berharap pembangunan proyek kereta cepat Jakarta-Bandung yang akan melewati jalur Jakarta, Karawang, Walini dan berakhir di kawasan Gedebage, Bandung, dievaluasi sebelum proyek itu dikerjakan.

"Hampir sebagian besar lahan PTPN VIII di kawasan Walini Bandung akan dilalui dan dibangun infrastruktur kereta cepat. Selama ini, lahan tersebut kan dimanfaatkan untuk perkebunan. Kita khawatir, pembangunannya mengganggu bisnis utama PTPN," kata Refrizal kepada Rakyat Merdeka di Jakarta, kemarin.


Ia melanjutkan, lahan PTPN VIII yang nantinya dialokasikan untuk infrastruktur kereta cepat juga cukup luas, diperkirakan lebih dari 2 ribu hektare. Hal ini tentunya akan banyak mengurangi land bank (bank tanah) PTPN VIII dalam menjalankan bisnis perkebunan.

Refrizal menilai, efektivitas untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan nilai bisnis kereta cepat tidak akan besar karena jarak Jakarta-Bandung yang tidak terlalu jauh.

"Jaraknya tanggung, dengan investasi mencapai Rp 70-an triliun, apa bisa balik modal dan menguntungkan? Sementara kita tahu, kalau perkebunan PTPN kan bisnis pasti, tiap tahun ada hasilnya," ketus Refrizal.

Ia berpendapat, sebaiknya pemerintah selaku pemegang saham PTPN  VIII memberikan modal tambahan untuk mengembangkan industri pengolahan produk-produk perkebunan ketimbang berinvestasi di proyek kereta cepat.

"Kalau mau, sekalian dibuat yang jauh sekalian seperti Jakarta-Surabaya, tentu akan lebih efektif. Nilai ekonomisnya juga tinggi," katanya.

Dalam waktu dekat, kata Refrizal, Komisi VI DPR akan mengundang Kementerian BUMN beserta konsorsium BUMN yang tergabung dalam proyek ini untuk dimintai keterangan terkait pelaksanaan proyek tersebut.

"Nanti akan kita undang untuk dimintai penjelasannya, baik kementerian maupun masing-masing BUMN. Saat ini kita masih fokus menyelesaikan rencana anggaran untuk 2016. Kalau sudah rampung, baru kita bahas kereta cepat," tegasnya.

Menanggapi hal ini, Direktur Utama PTPN VIII Dadi Sunardi mengatakan, lahan yang bisa digunakan untuk jalur kereta cepat merupakan lahan perkebunan teh yang sudah tidak bagus lagi ditanami teh dan dirasa lebih bermanfaat digunakan untuk aktivitas lainnya.

"Lahan itu lahan teh yang sudah enggak bagus untuk teh, tingkat kematiannya tinggi. Jadi lebih baik kita manfaatkan untuk dapat nilai lebih baik," katanya.

Dadi menjelaskan, adanya perubahan iklim membuat lahan tersebut saat ini terbilang jelek jika ditanami teh. Selain itu, daerah tersebut kini kian terbuka yang menyebabkan peningkatan suhu.

Padahal kata dia, untuk menanam teh tidak boleh di tempat yang bersuhu di atas 30 derajat karena membuat pucuk teh menjadi tidak tumbuh dan mengurangi produksi.

"Saat ini lahannya memang masih berproduksi tapi hasilnya tidak maksimal. Kurang lebih produksi hanya 30-40 persen. Sebelumnya produksinya 1.300-an kilogram per hektare per tahun. Sekarang tinggal 600-800 kg per hektare per tahun," papar Dadi.

Untuk itulah, kata Dadi, agar tetap berguna, maka lahan tersebut harus tetap dimanfaatkan dan dioptimalkan.

"Lahannya ada di kilometer 92-97 tol Daerah Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat. Luasnya nanti saya sampaikan karena masih hitung-hitungan," katanya.

Pengamat Urban Planning Hendricus Andy Simarmata menambahkan, pembangunan kereta cepat harus tetap memperhatikan lahan hijau dan resapan air.

"Jangan sampai mengurangi fungsi perkebunan dan resapan air yang selama ini terjaga di lahan PTPNVIII. Begitupun infrastruktur di perkotaannya nanti, harus dikontrol dengan baik, dan memperhatikan resapan air agar tidak rawan bencana," ungkap Andy.

Yang terpenting, lanjutnya, dari pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung, pemerintah bisa mengembangkan proyek perkotaan di setiap wilayah Jakarta dan Bandung, tapi tetap memperhatikan tata ruang.

"Kota-kota yang ada di proyek kereta cepat harus didesain sebaik mungkin, agar orang yang turun dari kereta cepat bisa jalan kaki, jadi tidak perlu menggunakan kendaraan lain agar bisa melihat keindahan," katanya. ***

Populer

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

UPDATE

Tinjau Situs Bersejarah

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:59

KPK Harus Berani Ungkap 'Borok' Sejumlah Forwarder di Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:40

Kalkulasi Strategis Akuisisi Rudal BrahMos

Jumat, 26 Juni 2026 | 03:27

Gabungan Aliansi BEM Nasional Tolak Penunggangan Gerakan Mahasiswa

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:57

Siapa Sebenarnya Pengkhianat?

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:40

Perlindungan Warga Sipil Papua Harus Berbasis Riset dan Demokrasi

Jumat, 26 Juni 2026 | 02:20

Ini Pesan Panglima TNI kepada 1.737 Perwira Remaja yang Baru Dilantik

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:58

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Berikut Usulan Perpemindo ke KSP soal Penempatan PMI

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:01

Jembatan Pemikiran Frans Seda

Jumat, 26 Juni 2026 | 00:53

Selengkapnya