Berita

Hukum

Usut Dalang Pembunuh Salim Kancil!

RABU, 30 SEPTEMBER 2015 | 12:59 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Komisi Hukum DPR meminta kepolisian mengusut tuntas kasus pembunuhan Salim Kancil, petani petolak tambang pasir di Desa Selok Awar-Awar, Lumajang, Jawa Timur. Salim dibunuh dengan keji; disetrum dan digergaji.

"Saya berharap Polda Jatim dapat membentuk tim khusus dan bisa melibatkan Komnas HAM dalam mengusut kasus ini, sampai pada pengungkapan aktor intelektual di balik konflik yang terjadi selama ini," ungkap anggota Komisi III DPR, Muhammad Nasir Djamil.

Nasir berharap tragedi kemanusiaan seperti yang dialami Salim tidak terulang kembali. Nasir mengatakan pihaknya bersama Komisi III DPR RI akan memantau perkembangan kasus ini.


"Komisi III tentu akan memantau dan mengawasi langkah apa yang akan dilakukan Polri serta memperhitungkan berapa lama Polri sanggup mengungkap dalang di balik tragedi ini," tegas Nasir.

Sabtu (26/9), Salim dijemput paksa dari rumahnya di Selok Awar-Awar saat menggedong cucunya yang baru berusia 5 tahun. karena panik, dia lantas menaruh cucunya di lantai.

Puluhan massa langsung menangkap dan mengikat kedua tangan Salim. Korban dipukuli dengan kayu dan batu. Tak puas, korban dibawa ke balai desa dengan cara diseret. Jarak rumah korban dengan balai desa sejauh 2 km. Di balai desa, selain dipukuli dan di gergaji lehernya, Salim disetrum selama setengah jam.

Keberingasan penyerang terus berlanjut. Salim dibawa ke makam desa. Korban diminta berdiri dengan tangan terikat dan diangkat ke atas. Massa membacok perut Salim sebanyak tiga kali namun tidak menimbulkan luka sama sekali. Kemudian kepala korban dikepruk pakai batu dan mengakibatkan korban meninggal dalam posisi telungkup.

Di saat hampir bersamaan sekelompok orang menganiaya rekan Salim, Tosan. Korban dijemput paksa di rumahnya setelah menyebarkan selebaran berisi penolakan penambangan ilegal di desanya. Tosan dipukul dengan pentungan kayu, clurit, pacul dan batu. Hingga kemarin korban masih kritis dan dirawat di rumah sakit.
 
Menurut Nasir, kasus ini menambah deret panjang kasus kekerasan yang dialami petani dalam kasus pertambangan. Dia pun mempertanyakan kinerja Polri selama ini.

Lebih lanjut Nasir menyayangkan lambatnya respon aparat penegak hukum dalam menangani dugaan kekerasan yang diduga sudah dimulai sejak 10 September lalu.

"Konflik dan ancaman pembunuhan terhadap sejumlah aktivis di sekitar wilayah tambang itu sudah cukup lama, kenapa polisi baru bergerak setelah ada korban?" demikian Nasir.[dem]

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

UPDATE

Ini Lima Kebutuhan Dasar yang Jadi Tantangan Jakarta Versi Fahira Idris

Minggu, 21 Juni 2026 | 04:21

Dari Modal Rp300 Ribu, IDEacraft Tembus Pasar Jateng Berkat Pemberdayaan BRI

Minggu, 21 Juni 2026 | 04:09

Islam, Sosialisme, dan Keindonesiaan: Jalan Perjuangan Kader SEMMI

Minggu, 21 Juni 2026 | 04:05

Penahanan Roy Suryo dan Dokter Tifa Masih Bisa Dilawan

Minggu, 21 Juni 2026 | 03:41

Harga Pertamax Cs Diprediksi Turun pada Juli 2026

Minggu, 21 Juni 2026 | 03:10

Pemprov DKI Perkuat Infrastruktur Sambut HUT ke-499

Minggu, 21 Juni 2026 | 03:04

Belanda Buka Asa Lolos 32 Besar Usai Gulung Swedia 5-1

Minggu, 21 Juni 2026 | 02:28

Kemendikdasmen Ditagih soal Putusan MK terkait Sekolah Swasta Gratis

Minggu, 21 Juni 2026 | 02:06

Penangkapan Roy Suryo dan Dokter Tifa Untungkan Kubu Jokowi secara Opini

Minggu, 21 Juni 2026 | 02:01

Aliansi BEM Persatuan Indonesia Dukung MBG, Ini Syaratnya

Minggu, 21 Juni 2026 | 01:34

Selengkapnya