Berita

ilustrasi/net

Hukum

Komisi Ad Hoc Menkopolhukam Justru Mereduksi Nawacita Jokowi

SENIN, 28 SEPTEMBER 2015 | 16:29 WIB | LAPORAN:

Terpilihnya Joko Widodo (Jokowi) sebagai Presiden diharapkan dapat menyelesaikan pelanggaran HAM masa lalu. Pasalnya, dalam nawacitanya Jokowi berjanji akan ungkap peristiwa pelanggaran HAM masa lalu.

Harapan itu sempat menguat ketika Menkopolhukkam dan Jaksa Agung memprakarsai pembangunan mekanisme penyelesaian HAM berat masa lalu.

Namun sayang, prakarsa kemudian menyimpang dari nawacita Jokowi. Ini lantaran penyelesaian pelanggaran HAM berat masa lalu direduksi dalam bentuk Komisi Ad Hoc Pengungkapan Kebenaran dan Pemulihan Korban, yang justru mengabaikan pengungkapan kebenaran.


"Prakarsa itu hanya akan berfokus pada rekonsiliasi tanpa dasar kebenaran. Siapa yang akan diajak rekonsliliasi, siapa korban, siapa pelaku tidak pernah akan teridentifikasi. Langkah ini akan semakin kabur, mengenai kepada siapa pemulihan akan diperuntukkan," begitu dikatakan Wakil Ketua Setara Institute Bonar Tigor Naipospos dalam konferensi pers di Kantornya, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, Senin (28/9).

Ia kemudian mendesak Jokowi untuk bentuk Komisi Ad Hoc Pengungkapan Kebenaran dan Pemulihan Korban yang berbeda dari bentukkan Menko Polhukkam dan Kejaksaan Agung, yang hanya mendesain rencana permintaan maaf dan pemulihan korban.

Menurutnya, Komisi Ad Hoc bentukan Jokowi itu harus terdiri dari tokoh-tokoh masyarakat yang mempunyai komitmen tinggi terhadap kemanusiaan dan HAM.

"Mereka bukanlah perwakilan dari berbagai Kementerian atau institusi negara seperti TNI, Polri, dan BIN. Tetapi tokoh independen dan imparsial. Mustahil lembaga ini diisi oleh elemen negara, karena dalam konstruksi hukum HAM, aktor utama pelanggaran HAM adalah negara," tegas pria yang akrab dipanggil Coki ini. [ian]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

UPDATE

Plesetan Gelar Adat Jokowi: ‘Baginda Raja Rakus Bin Tamak’

Minggu, 28 Juni 2026 | 05:50

Proyek Kapal Perang Filipina di PT PAL Dongkrak Industri Lokal Naik Kelas

Minggu, 28 Juni 2026 | 05:20

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

Pengelolaan Sawit Butuh ‘Nexus Baru’ Hidupkan Ekonomi Sirkular

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:39

Program BISA Biru TelkomGroup Lestarikan Ekosistem Terumbu Karang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:19

TNI dan Tentara Malaysia Perkuat Kesiapsiagaan dan Kerja Sama Kemanusiaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:57

Perjanjian Kerja Bersama Cerminkan Hubungan Industrial yang Sehat

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:45

Sultan Didapuk jadi Ketum TP Sriwidjaja Perkuat Pembangunan Daerah

Minggu, 28 Juni 2026 | 03:20

Indonesia Berpotensi Terima 260 Juta Dolar AS Lindungi Ekosistem Laut

Minggu, 28 Juni 2026 | 02:59

Politisi Mutan Bernama Prabowo

Minggu, 28 Juni 2026 | 02:45

Selengkapnya