Berita

presiden joko widodo/net

BLOK MASELA

Kilang LNG Terapung Tidak Sejalan dengan Konsep Tol Laut Jokowi

JUMAT, 25 SEPTEMBER 2015 | 06:26 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Kesuksesan konsep Tol Laut yang digadang-gadang Presdien Joko Widodo juga sangat bergantung pada pertumbuhan ekonomi kawasan timur Indonesia.

Dari sudut pandang ini, dapat disimpulkan bahwa pembangunan infrastruktur pipanisasi LNG di Lapangan Abadi, Blok Masela, Maluku Selatan lebih bisa mendongkrak pembangunan kawasan timur itu dibandingkan dengan pembangunan LNG terapung (FLNG).

"Ini (pembangunan LNG darat) akan menimbulkan efek yang berlipat-lipat pada pertumbuhan ekonomi masyarakat kawasan Aru," ujar peneliti dari Lingkar Studi Perjuangan (LSP), Agus Priyanto, dalam perbincangan dengan redaksi.


Pernyataan ini disampaikan Agus Priyanto terkait silang pendapat mengenai pembangunan infrastruktur LNG Masela antara Kantor Menko Maritim dan Sumber Daya dengan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Hulu (SKK) Migas.

Menko Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli beberapa waktu lalu menyatakan, biaya pembangunan pipanisasi infrastruktur LNG Masela lebih murah dibandingkan dengan konsep LNG terapung. Selain itu juga menimbulkan multiplier effect berupa perluasan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi kawasan timur Indonesia.

Sementara Ketua SKK Migas Amin Sunaryadi hanya melihat dari sisi pembangunan LNG terapung yang menurutnya lebih murah dibandingkan dengan LNG darat yang mengandalkan pemasangan pipa di darat dan dasar laut.

Adapun Agus Priyanto mengatakan, penyelenggara negara harus benar-benar memikirkan kemakmuran rakyat Indonesia yang lebih luas sesuai amanat pasal 33 UUD 1945.

"Pertimbangan yang paling penting tentu adalah bagaimana pembangunan kawasan Timur Indonesia terjadi, sehingga konsep Tol Laut Presiden Jokowi benar-benar dapat terwujud," ujarnya.

Dengan pipanisasi, industri pipa nasional akan tumbuh untuk memenuhi kebutuhan pipa bawah laut sepanjang 600 km. Industri petrokimia di Aru juga akan menciptakan lapangan kerja bagi rakyat di kawasan itu. Diikuti oleh kapal-kapal dan penerbangan dari berbagai wilayah yang akan ramai pulang-pergi ke Aru. Pada gilirannya Aru dapat menjadi New Balikpapan.

"Semua hal ini tidak dapat diwujudkan bila yang dipilih adalah fasilitas LNG terapung, karena kabarnya hanya menggunakan kurang dari 10 persen kandungan lokal. Baik itu dalam bahan baku, teknologi, dan sumber daya manusia," kata dia lagi.

Agus Priyanto juga mengingatkan, sumber daya manusia Indonesia memiliki kemampuan mengerjakan proyek LNG darat karena sudah membangun tiga kilang LNG di darat. Sementara LNG terapung yang diinginkan SKK Migas belum teruji. Teknologi ini baru akan beroperasi untuk pertama kali di blok Prelude, Australia, pada 2017 nanti.

Keuntungan lainnya adalah bila kemudian terdapat penemuan cadangan-cadangan gas baru di antara Masela dan Aru, dapat diambil dengan melakukan penyambungan pada pipa yang sedang dibangun saja, tidak perlu beli unit FLNG yang baru.

Bagaimana dengan risiko pipanisasi bawah laut sepanjang Masela dan Aru?

Menjawab pertanyaan ini, Agus mengatakan, teknologi metalurgi dan perpipaan saat ini telah mampu mengatasi kondisi lingkungan dasar laut Lapangan Abadi.

"Di Laut Utara telah ada pipa gas alam dasar laut sepanjang 1.200 km yang terletak pada kondisi lingkungan dasar laut yang lebih ekstrim," katanya membandingkan. [dem]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

UPDATE

Bos Exxon Prediksi Harga Minyak Bakal Lebih Meledak

Sabtu, 02 Mei 2026 | 14:21

SSMS Bagikan Dividen Rp800 Miliar dari Laba 2025

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:51

Postidar Kecam Video Diduga Pernyataan Amien Rais soal Sekkab Teddy

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:18

Bank Dunia Proyeksikan Harga Emas dan Perak Turun pada 2027

Sabtu, 02 Mei 2026 | 13:00

Hardiknas 2026, Komisi X DPR Ingin Pendidikan Berkualitas Merata ke Pelosok

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:37

Polda Metro Pulangkan 101 Orang yang Diamankan Saat May Day

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:30

China Minta PBB Tinjau Ulang Rencana Penarikan Pasukan UNIFIL dari Lebanon

Sabtu, 02 Mei 2026 | 12:21

Ratusan Demonstran Ditangkap dalam Aksi Hari Buruh di Turki

Sabtu, 02 Mei 2026 | 11:17

Komisi III DPR: Pemberantasan Narkoba Tak Boleh Kendor!

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:59

Yen Bergolak: Intervensi Jepang Paksa Dolar AS Rasakan Kerugian Mingguan Terburuk

Sabtu, 02 Mei 2026 | 10:41

Selengkapnya