Berita

foto:rmol

Peringati Hari Tani Nasional, 2 Ribu Pendemo Tumplek di Depan Istana

SENIN, 21 SEPTEMBER 2015 | 13:47 WIB | LAPORAN:

Diperkirakan lebih dari 2 ribu orang memadati depan Istana Negara, Jakarta Pusat, dalam rangka memperingati Hari Tani Nasional, siang ini (Senin, 21/9).

Ribuan orang yang tergabung dalam Komite Aksi Hari Tani Nasional itu berasal dari berbagai organisasi di antaranya KPA, STI Indramayu, Amanat Bogor, GPM Majalengka, FPBI, SMI, PMII Jabar, KPOP, SEPETAK Karawang, AMAN, JKPP, SPKS, SP, Bindes, KontraS, SPKS, Elsam, Walhi, Pilnet IHCS, Jatam, SW, Pusaka, AGRA, KPRI, RMI, Sains, Tuk Indonesia, SPP, FPMR-Tasik, FARMACI-Ciamis, FPPMG -Garut, GMNI Unas, KBM-Ciputat, KIARA, FPPI Jakarta.

Dalam orasinya, mereka menuntut pemerintahan Jokowi-JK tidak mengulangi kesalahan pemerintahan sebelumnya yang tidak punya kemauan politik untuk menjalankan pembaharuan agraria sejati.


"Hari ini, kami mengingatkan pemerintah Jokowi-JK mengenai buruknya situasi agraria di Tanah Air akibat tidak dijalankannya agenda pembangunan agraria. Petani sebagai mayoritas rakyat Indonesia telah menjadi warga negara yang tertindas dan terbelakang, dan desa-desa tempat petani bermukin telah menjadi kantong-kantong kemiskinan," jelas koordinator umum AHTN, Iwan Nurdin di sela-sela unjuk rasa, kawasan Monumen Nasional, Jakpus.

Menurutnya kemiskinan petani terjadi lantaran ketiadaan kepemilikan, akses, dan kontrol petani atas tanah. Sekitar 56 persen penduduk pedesaan adalah buruh tani atau petani gurem dengan kepemilikan tanah rata-rata di bawah 0,5 hektar.

Ia menambahkan, Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2013 menunjukan indeks Gini Tanah Nasional mencapai 0,72 yang mengindikasikan struktur kepemilikan dan penguasaan tanah masih sangat timpang. Keadaan ini menurutnya tidak pernah terdeteksi oleh pengambil kebijakan dalam pengentasan kemiskinan.

Puluhan triliun rupiah yang telah digelontorkan pemerintah untuk program-program kemiskinan, dinilainya telah gagal mengurangi angka kemiskinan dan ketimapngan di pedesaan dan perkotaan.

"Akibatnya, mayoritas pertanian skala rumah tangga saat ini tidak dapat memberikan kesejahteraan kepada keluarga mereka. Kami sangat prihatin bahwa petani telah menjadi profesi sekaligus kelas sosial yang dikucilkan," sesalnya.[wid]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

AS Gempur ISIS di Suriah

Minggu, 11 Januari 2026 | 18:14

Aksi Kemanusiaan PDIP di Sumatera Turunkan Tim Kesehatan Hingga Ambulans

Minggu, 11 Januari 2026 | 18:10

Statistik Kebahagiaan di Jiwa yang Rapuh

Minggu, 11 Januari 2026 | 17:52

AS Perintahkan Warganya Segera Tinggalkan Venezuela

Minggu, 11 Januari 2026 | 17:01

Iran Ancam Balas Serangan AS di Tengah Gelombang Protes

Minggu, 11 Januari 2026 | 16:37

Turki Siap Dukung Proyek 3 Juta Rumah dan Pengembangan IKN

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:53

Rakernas PDIP Harus Berhitung Ancaman Baru di Jawa Tengah

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:22

Rossan Roeslani dan Ferry Juliantono Terpilih Jadi Pimpinan MES

Minggu, 11 Januari 2026 | 15:15

Pertamina Pasok BBM dan LPG Gratis untuk Bantu Korban Banjir Sumatera

Minggu, 11 Januari 2026 | 14:50

Pesan Megawati untuk Gen Z Tekankan Jaga Alam

Minggu, 11 Januari 2026 | 14:39

Selengkapnya