Berita

Politik

Publik Percaya Jokowi Terapkan Menajemen Konflik Jika...

MINGGU, 20 SEPTEMBER 2015 | 14:57 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Presiden Joko Widodo diminta untuk segera menghentikan kegaduhan yang bersumber dari pertentangan di Kabinet Kerja. Hal ini penting untuk menghapus kesan bahwa Presiden tidak sedang menerapkan manajemen konflik dalam mengelola pemerintahannya.

"Presiden harus segera menggunakan kekuasaan dan wewenangnya menegakan etika di lingkungan kabinet dan menghentikan kegaduhan. Jika tidak, publik akan percaya bahwa presiden menerapkan manajemen konflik dalam mengelola pemerintahan," ujar Bendahara Umum Partai Golkar, Bambang Soesatyo dalam pesan yang dipancarluaskanya sesaat lalu, Minggu (20/9).

Apa yang sedang terjadi di tubuh Kabinet Kerja akhir-akhir ini, sebut Bamsoet demikian ia disapa, sungguh sulit dipahami. Ada menteri mengritisi dan bersikukuh mengoreksi target yang ingin diwujudkan pemerintah. Ada menteri yang membangkang terhadap perintah menteri kordinatornya.


Lalu, ada seorang direktur badan usaha milik negara memerintahkan menteri menyampaikan pesannya kepada presiden, bahkan juga mengejek menteri lainnya.

"Harap digarisbawahi oleh Presiden bahwa kegaduhan justru bersumber dari Istana. Wajar jika kemudian publik curiga Istana tengah memainkan manajemen konflik karena kegaduhan itu dibiarkan berlarut-larut," imbuh Bambang.
 
Bahkan, katanya, kerapuhan Kabinet Kerja sudah menjadi pengetahuan umum. Bisa dibaca melalui portal berita, surat kabar maupun disaksikan melalui tayangan televisi. Tidak butuh orang pintar atau sosok ahli untuk menilai apa yang sedang terjadi di dalam Istana.
 
"Persoalannya bukan semata-mata siapa yang paling benar dan siapa yang salah. Keprihatinan banyak kalangan lebih tertuju pada soal soliditas kabinet yang sudah barang tentu sangat dipengaruhi oleh gaya kepemimpinan Presiden Jokowi. Publik melihat bahwa kerusakan etika di lingkungan kabinet saat ini lumayan parah," demikian Bamsoet.[dem]

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Dicurigai Ada Kaitan Gibran dalam Proyek Sarjan di Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 00:40

UPDATE

Dana Asing Banjiri RI Rp2,43 Triliun di Akhir 2025

Sabtu, 03 Januari 2026 | 10:09

Pelaku Pasar Minyak Khawatirkan Pasokan Berlebih

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:48

Polisi Selidiki Kematian Tiga Orang di Rumah Kontrakan Warakas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:41

Kilau Emas Dunia Siap Tembus Level Psikologis Baru

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:19

Legislator Gerindra Dukung Pemanfaatan Kayu Hanyut Pascabanjir Sumatera

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:02

Korban Tewas Kecelakaan Lalu Lintas Tahun Baru di Thailand Tembus 145 Orang

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:51

Rekor Baru! BP Tapera Salurkan FLPP Tertinggi Sepanjang Sejarah di 2025

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:40

Wall Street Variatif di Awal 2026

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:23

Dolar AS Bangkit di Awal 2026, Akhiri Tren Pelemahan Beruntun

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:12

Iran Ancam Akan Targetkan Pangkalan AS di Timur Tengah Jika Ikut Campur Soal Demo

Sabtu, 03 Januari 2026 | 07:59

Selengkapnya