Berita

rizal ramli/net

Adhie M Massardi

TENDANGAN BEBAS

Setelah Dikepret Rajawali...

MINGGU, 20 SEPTEMBER 2015 | 06:42 WIB | OLEH: ADHIE M. MASSARDI

MUNCULNYA Rizal "Rajawali" Ramli di langit kekuasaan negeri ini membuka kembali harapan akan adanya perubahan, setelah melihat pemerintahan Jokowi-Kalla yang sudah 10 bulan berkuasa tapi nyaris tak bisa berbuat apa-apa menghadapi kemerosotan pertumbuhan ekonomi nasional yang membuat rakyat kian melarat.

Namun di mata komplotan saudagar produk KKN dan tikus-tikus pemerintahan, kehadiran Sang Rajawali membuat nyali mereka ciut. Apalagi, belum genap 24 jam menjabat Menko Maritim & Sumber Daya, Rajawali itu menukik ke kiri dan kanan. Sayapnya "mengepret" srigala dan tikus yang bersembunyi di balik semak-semak kekuasaan.

Maka srigala pun melolong, mengabarkan adanya bahaya kepada kawanannya, dan tikus-tikus serabutan masuk lagi ke lubang di balik meja birokrasi. Sedang rakyat, terutama kaum pergerakan, sangat maklum karena mereka tahu, sejak mahasiswa (medio tahun 70-an) Rizal Ramli itu memang gemar mematuk penguasa KKN.


Tapi kepretan rajawali yang cukup telak itu bikin mereka "gegar kekuasaan" dan "meracau tentang nasionalisme dan kecintaan yang besar kepada rakyat". Karena meracau yang mirip-mirip mengigau, para pejabat yang mendadak nasionalis itu, tentu saja, jadi tampak wagu, janggal.

Soal Garuda, misalnya. Mereka bilang, pembelian pesawat untuk Garuda tetap perlu dan akan dilakukan untuk peremajaan agar bisa bersaing dengan maskapai penerbangan lain.

Padahal sebelumnya, mereka paksa Merpati Nusantara beli pesawat mubazir sehingga maskapai penerbangan perintis nasional itu kolaps. Sementara di dunia bisnis pesawat, kita tahu, ada komisi 20-30 persen bagi si pembeli. Tentu ini masuk kantong komplotan mereka.

Proyek listrik 35 ribu MW yang "dikepret" rajawali jadi separuhnya, dibantah dengan mendompleng nasib rakyat. Masih banyak rakyat Indonesia yang belum menikmati listrik. Kasihan mereka. Harusnya malah 70 ribu MW!”

Padahal kita tahu, kalau proyek 35 ribu MW itu dibuat surat kontrak (tender) per 1000 MW, akan menghasilkan 35 surat tender. Kalau per tender dijual Rp 10 M saja, akan menghasilkan uang korupsi Rp 350 M. Dan ini tidak ada urusan dengan apakah proyek 35 ribu MW itu sukses atau tidak!

Kasihan rakyat? Lha, tempo hari dengan nyaris tanpa hati dan tanpa perduli akan penderitaan rakyat, mereka naikkan tarif listrik, untuk menutupi pemborosan (KKN) produksi listrik yang mereka lakukan. Bahkan lewat penjualan listrik sistem pulsa, rakyat miskin pun mereka palak dengan kamuflase administrasi bank.

Paling nista adalah nasionalisme yang mereka umbar untuk menutupi KKN di sektor migas. Proyek "storage" (pembangunan tangki penyimpanan) BBM untuk meningkatkan cadangan dari 21 hari menjadi sebulan, semula akan dibangun Pertamina dengan biaya sekitar Rp 30 trilyun.

Kata Rizal Ramli, ngapain Pertamina menghabiskan uang sebanyak itu buat hal yang tidak ada urgensinya? Suruh importirnya dong yang bikin kilang penyimpanan. Tukang kerupuk saja menyediakan kaleng di warung-warung.

Mereka bilang, tidak layak cadangan BBM negara dikelola pihak lain (asing). Pertaminan tetap akan membangun storage itu. Ini kepentingan nasional. Begitu mereka bilang.

Padahal mereka juga yang tempo hari menyerahkan hak impor BBM kepada pihak di luar Pertamina. Ladang-ladang minyak dan gas yang melimpah cadangannya juga diserahkan kepada pihak asing. Bahkan Blok Mahakam, yang kontraknya dengan pihak asing sudah nyaris habis, tak rela dilanjutkan oleh Pertamina, meskipun sudah kami minta dengan berbagai cara untuk itu.

Memang aneh bunyinya kalau orang yang "mendadak nasionalis" bicara nasionalisme! [***]

Pembaca bisa berinteraksi dengan penulis melalui akun @AdhieMassardi

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

KPK Dikabarkan Gelar OTT di Cilacap Jawa Tengah

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:54

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Fahira Idris Dukung Pelarangan Medsos Buat Anak di Bawah 16 Tahun

Minggu, 08 Maret 2026 | 01:58

UPDATE

Bahaya Tersembunyi Kerikil di Ban Mobil dan Cara Mengatasinya

Sabtu, 14 Maret 2026 | 10:15

PKS: Pemerintah harus Segera Tetapkan Aturan Pembatasan BBM Bersubsidi

Sabtu, 14 Maret 2026 | 10:14

Mengupas Bahaya Air Keras Menyusul Kasus Penyerangan Aktivis KontraS di Jakarta

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:52

Kemenhaj Tegaskan Komitmen Haji Inklusif bagi Lansia dan Disabilitas

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:47

Qatar Kutuk Serangan Brutal Israel di Lebanon

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:23

Harga Minyak Brent Tembus 103 Dolar AS

Sabtu, 14 Maret 2026 | 09:10

AS Kirim Ribuan Marinir ke Timur Tengah, Iran Terancam Invasi Darat

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:41

Wall Street Rontok Menatap Kemungkinan Inflasi Global

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:23

Transformasi Kinerja BUKA: Dari Rugi Menjadi Laba Rp3,14 Triliun di 2025

Sabtu, 14 Maret 2026 | 08:08

Anggaran Pendidikan Diperebutkan, Sistemnya Tak Pernah Dibereskan

Sabtu, 14 Maret 2026 | 07:48

Selengkapnya