Indonesia bisa berubah dari negara demokrasi menjadi negara otoriter. Bahkan, tanda-tandanya sudah terlihat dengan munculnya banyak hal yang bertentangan dengan prinsip-prinsip demokrasi.
Begitu pandangan peneliti Utama Bidang Politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Siti Zuhro pada dialog Pilar Kenegaraan bertema "Etika Politik Pemilukada", di gedung DPR, Senin (7/9).
"Dalam demokrasi itu bisa dilihat jika tentara sudah mundur dari politik, politik kekerabatan tidak ada lagi.Sementara di Indonesia politik kekerabatan justru semakin kuat di era yang dikatakan demokrasi seperti saat ini. Politik kekuasaan justru dilestarikan,†terangnya.
Siti menegaskan, dalam kaitan itu seharusnya para pemimpin yang terpilih dalam pemilu sampai pemilukada adalah orang-orang terbaik. Sebab, orang terbaik akan menjadi pemimpin dan bukan sekedar menjadi penguasa. Nah, pemimpin akan rela berkorban untuk rakyatnya, sementara penguasa justru hanya bertujuan menguasai.
"Sayangnya yang banyak terpilih dalam pilkada itu penguasa dan bukan pemimpin karena pemimpin itu rela berkorban. Nah, bagaimana seorang bisa jadi pemimpin dan berkoban kalau sebelum menang sudah banyak korban dengan mengeluarkan biaya yang sangat besar di Pilkada," ujar Siti lagi.
Pemenang pilkada seharusnya adalah seorang yang terbaik diantara yang terbaik dan bukan seadanya. Saat ini justru menurutnya situasi makin tambah rumit karena mantan narapidana pun bisa ikut dalam pilkada.
"Dengan demikian ribuan pemilukada yang telah kita laksanakan selama ini tidak menghasilkan yang baik. Intergritas seorang calon seharusnya tidak boleh ditawar. Masyarakat akan marah kalau seorang yang tidak diinginkan tetap dicalonkan oleh partai politik,†tegas Siti.
Makanya, menurutnya, jangan heran tujuan pilkada untuk meningkatkan pelayanan publik dan kesejahteraan rakyat tidak pernah tercapai.
"Dengan fakta bahwa persiapan, penyelenggara dan para peserta pilkada dalam hal ini partai politik tidak siap, maka akan sulit bagi kita untuk bisa bersikap positif terhadap pelaksanaan pilkada serentak,†demikian Siti.
[sam]