Berita

Zulhas: Pilkada Serentak Harus Jadi Pertarungan Politik Kebangsaan

SELASA, 01 SEPTEMBER 2015 | 14:04 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Ketua MPR Zulkifli Hasan RI mengharapkan pertarungan politik dalam Pilkada Serentak 2015 adalah pertarungan politik berwawasan kebangsaan.

"Pertarungan politik dalam Pilkada Serentak semestinya adalah pertarungan politik yang berwawasan kebangsaan yang menguntungkan rakyat," katanya ketika menjadi keynote speech seminar nasional di Universitas Andalas, Padang, Sumatera Barat, Selasa (1/9).

Seminar bertema 'Mewujudkan Partisipasi Politik Kebangsaan dalam Pemilukada Serentak yang Demokratis, Transparan, dan Anti Korupsi' merupakan rangkaian kegiatan Pekan Politik Kebangsaan III yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Politik (HMJIP) Universitas Andalas.


Politik berwawasan kebangsaan, kata Zulkifli, adalah politik yang mementingkan rakyat, bukan politik yang mementingkan kelompok atau golongan.

"Bukan politik pragmatis dan transaksional," jelasnya.

Menurut Zulkifli, untuk mewujudkan pertarungan politik berwawasan kebangsaan itu maka semua perangkat dalam penyelenggaraan Pilkada serentak bisa berfungsi secara optimal.

"Seperti KPU, Bawaslu, Panwas, maupun pengawas pemilu independen," katanya.

Namun, Zulkifli mengakui bahwa bukan perkara mudah untuk memaksimalkan perangkat penyelenggara Pilkada. Dia mencontohkan kasus Pilkada Surabaya.

"Tiba-tiba calon wakil walikotanya lari. KPU memutuskan calon walikota tidak memenuhi syarat," ujarnya.

Bukan hanya terjadi dalam kasus Pilkada Surabaya, tetapi juga di daerah lain. Zulkifli menyebutkan kasus Pilkada di daerah Pacitan.

"Ada calon yang mundur karena takut, diancam, dan dibayar," katanya.

Zulkifli meminta sivitas akademika Universitas Andalas untuk mengawasi pelaksanaan Pilkada serentak.

"Kasus-kasus seperti itu tidak boleh terjadi," ujarnya.

Menilik ke belakang, Zulkifli mengatakan semua itu terjadi karena tidak lagi mengimplementasikan sila keempat Pancasila.

"Sekarang satu orang satu suara. Semua melalui pertarungan dan mengabaikan musyawarah mufakat," katanya.

Pertarungan itu tidak hanya di partai politik tapi juga di kalangan ormas-ormas.

"Demokrasi semestinya untuk kesejahteraan rakyat. Tapi faktanya, demokrasi belum mensejahterakan rakyat. Apakah kita sudah mengarah ke sana (demokrasi untuk kesejahteraan)," pungkas ketum PAN itu. [ian]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Waspadai Modus Penipuan Mengatasnamakan Bantuan Sosial

Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:21

Ayam Mati di Lumbung Listrik

Sabtu, 13 Juni 2026 | 06:04

Narasi 'Sell Indonesia' Manipulatif

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:52

Krisis 1998 Meninggalkan Trauma Strategis

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:28

Titin Rita Lestari, Air Mata yang Tak Sempat Jatuh

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:09

Sangat Janggal Kejagung Tak Periksa Nanik S Deyang

Sabtu, 13 Juni 2026 | 05:01

BUMD Didorong Bertransformasi sebagai Lokomotif Ekonomi Daerah

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:35

Farhan Pastikan Bandung Aman Hadapi Musim Liburan

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:19

Bosnia-Herzegovina Gagal Bungkam Tuan Rumah Kanada

Sabtu, 13 Juni 2026 | 04:07

Jaringan Narkoba Sumsel-Jabar Dibongkar Polisi

Sabtu, 13 Juni 2026 | 03:35

Selengkapnya