Berita

misbakhun/net

Politik

Berlebihan, SBY Seakan-akan Merasa Dirinya Masih Presiden

JUMAT, 28 AGUSTUS 2015 | 18:10 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, M Misbakhun menilai Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyoni (SBY) terlalu berlebihan soal sarannya mengenai kondisi perekonomian Indonesia yang kian melemah.
‎
"Sebagai warga negara sah-sah saja, tapi jangan seakan-akan mempuyai pengalaman, terlalu berlebihan," sebut Misbakhun di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta (Jumat, 28/8).

Menurutnya, pernyataan Presiden Keenam RI itu dengan menggelar jumpa pers hanya untuk memberikan saran dan masukan terhadap pemerintah Presiden Jokowi seakan-akan masih menganggap dirinya sebagai presiden.


‎"Saya kaget juga melihat itu, saya melihat Pak SBY masih berasa dirinya sebagai presiden," sindir Misbakhun.

Seharusnya, lanjut Misbakhun, SBY bisa memberikan masukan melalui Fraksi Demokrat di Senayan.

"Pertanyaan saya terhadap konpres itu, Pak SBY kan punya fraksi di DPR disampaikan saja melalui fakrasi di DPR," ungkapnya.

Saat ditanya apakah tepat saran SBY untuk meningkatkan kembali perekonomian, Misbakhun enggan menjawab secara rinci.

"Ada proprosinya Pak SBY sampaikan itu, walaupun beliau mantan presiden, beliaukan ketum partai sampaikan saja mealalui fraksinya," tukasnya.

Diketahui, kemarin malam SBY mengundang sejumlah awak redaksi ke kediamannya di Cikeas, Bogor. Di kesempatan itu, SBY memberikan usulan dan masukan terkait gejolak ekonomi global yang berdampak terhadap ekonomi Indonesia. SBY meminta pemerintah menjaga pertumbuhan ekonomi agar tidak terus menurun, lalu juga meminta pemerintah menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok.

Selain itu, SBY menyarankan pemerintah memberi insentif kepada pelaku usaha, lalu ‎SBY berharap pemerintah membuat terobosan untuk menjaga nilai tukar rupiah tidak tembus Rp 15.000 per dolar AS.

SBY juga meminta pemerintah dengan cermat menggunakan ruang fiskal. Nominal APBN harus dibuat dengan pas. Kemudian terakhir SBY berharap pemerintah dapat menjaga kepercayaan publik meski ekonomi sedang bergejolak.[dem]

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Menguji Klaim MBG Kunci Pertumbuhan Ekonomi Triwulan 1

Kamis, 07 Mei 2026 | 04:12

JK Disarankan Maafkan Ade Armando

Kamis, 07 Mei 2026 | 04:07

41,7 Persen Jemaah Haji Aceh Lansia

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:43

Bank Pelat Merah Cabang Joglo Dipolisikan

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:26

Empat Hakim Ad Hoc PHI PN Medan Disanksi Kode Etik

Kamis, 07 Mei 2026 | 03:03

Presensi Ilegal 3.000 ASN Brebes Alarm Serius bagi Integritas Birokrasi

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:42

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

Digitalisasi Parkir Genjot Pendapatan Daerah

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:02

Ini Cerita Penumpang Selamat dari Bus ALS Terbakar di Sumsel

Kamis, 07 Mei 2026 | 01:31

Impor Blueray 90 Persen Tetap Jalur Merah

Kamis, 07 Mei 2026 | 01:28

Selengkapnya