Berita

oso/net

OSO Kecewa Jika Transmigrasi Dilarang

SENIN, 24 AGUSTUS 2015 | 15:09 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Wakil Ketua MPR RI Oesman Sapta mengatakan dirinya kecewa bila ada orang melarang program transmigrasi. Ia berprinsip sejak dulu bahwa wilayah yang kosong harus diisi agar bisa memakmurkan rakyat.

Pernyataan itu ia sampaikan saat menjadi keynote speaker pada Seminar Ketransmigrasi bertajuk "Peran Transmigrasi dalam Mendukung Kemandirian Pangan serta Reforma Agraria" di Hotel Arya Duta, Jakarta, Senin (24/8)

"Kalau kosong bagaimana bisa memakmurkan rakyat," ujarnya di hadapan peserta seminar, termasuk Menteri Desa PDT dan Transmigrasi Marwan Ja'far.


‪Meski demikian, OSO sapaan akrabnya dengan tegas mengatakan program transmigrasi jangan sampai menyisihkan orang-orang lokal. Dikatakan jangan sampai orang yang mengikuti program transmigrasi datang namun tidak bekerja, tanahnya dijual, dan mengambil alih kerja di sektor orang-orang lokal.

Menurut, antara MPR dengan Kementerian Desa PDT dan Transmigrasi mempunyai keinginan yang sama yakni untuk menciptakan masyarakat yang makmur. Masyarakat makmur bagi OSO tercipta bila aparatnya patuh pada aturan.

Di hadapan beberapa kepala daerah yang hadir dalam acara seminar, OSO mendorong agar kepala daerah lebih digiatkan dalam program transmigrasi.

"Kepala daerah harus menggerakkan rakyat dalam pembangunan," paparnya.

Bagi OSO dalam program transmigrasi harus dilibatkan banyak kementerian seperti Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup.

Sebagai Wakil Ketua MPR, Oesman menceritakan dirinya sering berkunjung ke daerah dalam rangka mensosialiasikan 4 Pilar MPR. Diakui sekarang rasa nasionalisme mengalami kemunduran atau memudar. Dicontohkan bentuk memudarnya rasa nasionalisme seperti ada anggapan bahwa tanah lokal hanya milik orang lokal. Perasaan demikian bila dimiliki oleh elit lokal akan diwujudkan dalam bentuk aturan yang diskriminatif.

Menurut OSO, sikap demikian bentuk mereka lupa bahwa alam diciptakan oleh Tuhan untuk dinikmati semua. OSO juga mengingatkan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928 yang menyatukan satu nusa, bahasa, dan bangsa Indonesia.

Kendala transmigrasi yang lain disebutkan oleh OSO adalah adanya ego sektoral antar kementerian terkait.[ian]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

Dadan Hindayana Kena Batunya

Rabu, 03 Juni 2026 | 01:04

UPDATE

Ketua MPR Bicara Islam dan Kemajuan di Forum Mufti Dunia

Jumat, 12 Juni 2026 | 20:15

Cara Reaktivasi MyPertamina agar QR Code Aktif Lagi, Bisa Lewat Website dan Aplikasi

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:57

Dua Akses Stasiun MRT Dukuh Atas Ditutup Imbas Demo

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:54

Sinopsis Backrooms, Film Horor Adaptasi Serial YouTube yang Pecahkan Rekor Box Office

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:44

Demonstran Depan UOB

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:39

Palsukan Tanda Tangan, Bendahara BUMDes Diduga Korupsi Rp1,6 Miliar

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:35

KPK Didesak Naikkan Status Pejabat DJBC Ahmad Dedi ke Penyidikan

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:32

BRI Gelontorkan Dana Rp500 Miliar untuk Buyback Saham

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:14

Jadwal Lengkap Fase Grup Piala Dunia 2026

Jumat, 12 Juni 2026 | 19:13

PDIP Diminta Tertibkan Kader Diduga Terlibat Program MBG

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:47

Selengkapnya