Berita

‎Airbus A350 Perunit 51,9 juta‎, Kenapa Pinjamnya 44,5 Miliar Dolar AS?

KAMIS, 20 AGUSTUS 2015 | 04:29 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Polemik soal rencana pembelian 30 unit pesawat Airbus 350 terus‎ bergulir. Partai Gerindra mempertanyakan kenapa pinjaman untuk pembelian pesawat tersebut empat kali lebih besar dari harga yang mestinya dibayarkan oleh Garuda.

"‎Pembelian 30 unit hanya diperlukan dana pinjaman 10,56 miliar dolar AS, jadi patut dipertanyakan kenapa pinjaman dari Bank of China Aviation ‎sebesar 44,5 miliar dolar AS," ujar Wakil Ketua Gerindra, Arief Poyuono kepada Kantor Berita Politik RMOL, Rabu (19/8).

‎Perhitungan Arief didasarkan pada harga tiap satu unit Airbus A350-XWB series 1000 yang akan didatangkan Garuda sebagaimana ‎tertuang dalam letter of intent (LOI) yang diteken dengan pihak Airbus di sela  even Paris Airshow 2015 ‎ pada Juni lalu di Paris.‎‎

Dari siaran pers pabrikan Airbus dengan judul New Airbus Aircraft List Prices for 2015 pada bulan Januari 2015, harga Airbus tipe itu yang paling mahal perunit adalah 351,9 juta dolar AS.‎‎

Selain kerjasama pinjaman 44,5 miliar dolar AS dari B‎ank of China Aviation‎ yang diteken Menteri BUMN Rini Soemarno di sela event tersebut, Gerindra juga mempertanyakan pinjaman lainnya dari Bank Of China Aviation sebesar 4,5 miliar dolar AS, atau setara Rp 58 triliun.‎

Perjanjian pinjaman ini ditandatangani Direktur Utama Garuda Indonesia Arif Wibowo dengan Chief Executife Officer Bank of China Aviation, Robert Martin.

‎"Menteri Rini datang ke Paris menyaksikan p‎enandatanganan pinjaman ini," tukasnya.

Rencana pembelian pesawat oleh Garuda menjadi sorotan setelah diungkap pertama kali oleh Menteri Kemaritiman dan Sumber Daya Rizal Ramli. Rizal mengusulkan agar Presiden Jokowi membatalkan rencana pembelian pesawat tersebut karena dinilainya justru akan membuat bangkrut Garuda.

Menurutnya, selain dibeli dengan pinjaman, pesawat Airbus A350 hanya cocok untuk rute internasional yang tidak menguntungkan untuk Garuda.[dem]

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

UPDATE

KSP Kawal Pembangunan MRT Jakarta sebagai Proyek Strategis Nasional

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:24

BI Rate Naik Lagi Jadi 5,75 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:19

Putusan Hakim Tegaskan Keabsahan Tanda Tangan Ketum PPP dan Wasekjen

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:17

PPKGBK Memverifikasi Penghuni Hotel Sultan Usai Eksekusi Pengosongan

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:17

Pemerintah Harus Benahi Kebijakan Domestik agar Investor Tak Kabur

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:10

PKB Usul Ambang Batas Parlemen 5 Sampai 7 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 16:01

Disinggung Aliran Duit ke Gus Yaqut, Fuad Hasan: Bahaya Kamu!

Kamis, 18 Juni 2026 | 15:57

UMKM Binaan Pertamina Gelar Promo Gila-gilaan di Jakarta Fair 2026

Kamis, 18 Juni 2026 | 15:55

Rapimnas II di Banten, KAMMI Teguhkan Arah Gerakan Kebangsaan

Kamis, 18 Juni 2026 | 15:51

Pertamina Patra Niaga Pastikan Harga BBM Nonsubsidi Ikuti Formula Pasar

Kamis, 18 Juni 2026 | 15:48

Selengkapnya