Berita

Mukhamad Misbakhun/net

Politik

Kasus Century Jadi Noktah Hitam Sejarah Bangsa

RABU, 19 AGUSTUS 2015 | 11:44 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Kurang lebih tujuh tahun yang lalu, kebijakan bailout kepada Bank Century menuai kritikan tajam. Gelontoran Rp 6,7 triliun tidak serta-merta diterima begitu saja oleh publik. Riak-riak penentangan mengemuka dan menggelegar, hingga menciptakan suasana yang tidak lagi bisa dipandang sebelah mata. Publik meradang, media massa berwacana, hingga menyentuh sensitifitas nurani wakil rakyat.

Demikian disampaikan anggota DPR Fraksi Partai Golkar/inisiator Hak Angket Bank Century, Mukhamad Misbakhun dalam peluncuran bukunya "Sejumlah Tanya Melawan Lupa, Mengungkap 3 Surat SMI kepada Presiden SBY" di Hotel Atlet Century, Senayan, Jakarta (Rabu, 19/8). Hadir dalam peluncuran sekaligus diskusi "Siapa Dalang Century?" dua Inisioator Hak Angket Bank Century, Bambang Soesatyo dan Akbar Faizal, serta Direktur Eksekutif Lingkar Madani Ray Rangkuti dan testimoni dari Isri dan puteri Budi Mulya.

Menurut Misbakhun, tidak semua kalangan bersuara lantang dalam kasus Century. Sebagian berbisik sayup hampir tidak terdengar. Meski logika sehat mengamini, ada yang salah dari kebijakan tersebut. Ada manuver senyap di balik retorika yang mengatasnamakan krisis. Ada rekayasa di balik setiap tindakan yang mengatasnamakan penyelematan. Semua terbungkus rapi di etalase rezim kekuasaan.


"Namun, siapa yang menduga. Sekumpulan wakil rakyat bersuara lantang. Kesamaan visi memadukan keberanian dan nyali mereka. Tidak sedikit dari mereka dihuni oleh figur yang baru saja mencicipi tugas sebagai wakil rakyat. Mereka adalah TIM 9, Inisiator Hak Angket Bank Century. Kaum muda dan berjiwa muda. Tidak sedikitpun tampak aura ketakutan, bahkan di hadapan rezim yang berkuasa saat itu," beber Misbakhun.

Kasus Century telah menjadi noktah hitam dalam sejarah perjalanan bangsa ini. Rekomendasi Pansus Bank Century dengan jelas dan tegas menyatakan, telah terjadi pelanggaran atas kebijakan bail-out kepada Bank Century. Telah terjadi penyalahgunaan kekuasaan yang menguntungkan pihak-pihak tertentu. Lagi-lagi, kekuasaanlah yang menerima keuntungan.

"Namun, kekuasaan memiliki banyak cara menepis vonis tersebut. Kaki tangan rezim bergeliat menyisir segala bentuk penentangan. Opini dihembuskan, kriminalisasi dijalankan. Satu-persatu, kritisisme dibungkam. Aksi hegemonik bagai rezim Machiavellian dilakoni hanya untuk menunjukkan bahwa fakta dan kebenaran bisa diputar-balikkan," papar Misbakhun.

Pada gilirannya, lanjut Misbakhun, kasus Century tidak cukup mampu disembunyikan di bawah karpet kebangsaan kita. Aroma yang menyengat tidak cukup mampu menutupi citra dan wewangian rezim yang penuh dengan polesan. Rezim yang melupakan keniscayaan sejarah tentang kekuasaan yang lekang oleh waktu. Kekuasaan yang tidak pernah mengenal keabadian. Kekuasaan boleh saja menutupi diri di hadapan rakyat. Tapi tidak pernah mampu melarikan diri dari sejarah.

"Saya menyadari, buku 'Sejumlah Tanya Melawan Lupa' ini hanyalah segelintir upaya untuk senantiasa memantik memori publik. Sebuah memori yang acapkali begitu pendek untuk mengingat masa lalunya yang kelam. Bukan hanya karena sejarah yang begitu mudah diselubungi oleh kepentingan. Tapi juga karena rezim yang enggan mendefinisikan masa lalu sesuai dengan porsi dan tempatnya," kata Misbakhun.

Di balik tindak lanjut proses hukum yang sedang berlangsung, sambung Misbakhun, tidak sepantasnya Kasus Century menggantung di langit angan-angan kita. Tidak sepatutnya Kasus Century memilah-milah mereka yang justru menjadi korban. Hingga membuyarkan mimpi generasi masa depan tentang dalang yang sesungguhnya. Dalang yang hingga saat ini masih berdiri tegak yang akan terus mengangkangi sejarah masa depan bangsa ini.

"Melawan lupa adalah dua kata yang tiada henti dipatrikan dalam sanubari kita. Melupakan sejarah yang sesungguhnya hanya akan menimbun "kebisuan" yang tiada henti. Mencipta trauma dan mendzolimi sejarah masa depan. Buku ini hendak merefleksikan tentang bagaimana sejarah seharusnya dimaknai. Kita tidak hanya perlu berlaku adil pada diri sendiri, tapi juga pada generasi kita," ungkapnya.

"Pada akhirnya, buku ini tidak lebih dari sebuah darma yang akan menghantarkan karma pada tempatnya. Melalui tulisan dan buku, kita dapat mengabadikan karya yang akan menjadi monumen sejarah. Sejarah tentang kekuasaan yang pernah ternoda. Sejarah tentang perjuangan yang tidak pernah lekang oleh waktu. Hingga kebenaran menampakkan dirinya yang sesungguhnya," tukas Misbakhun menambahkan. [ian]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

PSI Ketar-ketir Lawan Jusuf Kalla

Jumat, 08 Mei 2026 | 06:47

UPDATE

Konversi LPG Ke CNG Jangan Sampai Jadi "Luka Baru" Indonesia

Rabu, 13 Mei 2026 | 20:11

Apa Itu Love Scamming? Waspada Ciri-Cirinya

Rabu, 13 Mei 2026 | 20:04

Rano Karno Ingin JIS Sekelas San Siro

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:49

Prabowo Geram Devisa Hasil Ekspor Sawit-Batu Bara Tak Disimpan di Indonesia

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:42

KPK Didesak Tetapkan Tersangka Baru Kasus Korupsi DJKA

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:38

Ini Strategi OJK Jaga Bursa usai 18 Saham RI Dicoret MSCI

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:35

Cot Girek dan Ujian Menjaga Kepastian Hukum

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:27

Prabowo Bakal Renovasi 5 Ribu Puskesmas dari Duit Sitaan Satgas PKH

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:25

Prabowo Siapkan Satgas Deregulasi demi Pangkas Keruwetan Izin Usaha

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:11

Kementerian PU Bangun Akses Tol, Maksimalkan Konektivitas Kota Salatiga

Rabu, 13 Mei 2026 | 19:02

Selengkapnya