Berita

samad

Sindir Samad, Plt Pimpinan: KPK Tidak Perlu Memberi Stabilo Merah ke Calon Menteri

MINGGU, 16 AGUSTUS 2015 | 18:09 WIB | LAPORAN: FEBIYANA

RMOL.  Komisi Pemberantasan Korupsi sebaiknya tidak memberikan label kepada calon menteri yang diangkat Presiden Joko Widodo. Sebab, kurang tepat seseorang diberi stabilo merah atau kuning.

"Memang sebaiknya kriteria calon tidak perlu ada istilah stabilo merah-kuning," ujar Plt Wakil Pimpinan KPK Indriyanto Seno Adji kepada Kantor Berita Politik RMOL, Minggu (16/8).

Indrianto mengungkapkan KPK sebaiknya hanya sebatas memberikan masukan tentang kriteria seorang calon dengan masalah hukum, tidak dalam konteks memberikan label.


"Bahwa KPK memberikan masukan tentang kriteria terbatas berupa tersangkut tidaknya calon dengan masalah hukum di KPK sebagai sesuatu wajar. Pemberian label atau stabilo merah-kuning layaknya KPK sebagai lembaga clearing house adalah tidak benar," tegasnya

Menurutnya, ada lembaga yang lebih kompeten untuk memberikan label kepada seseorang. "Seperti BIN (Badan Intelijen Negara) misalnya. Bukan otoritas KPK sebagai clearing house," tegasnya.

Sebagaimana diketahui, Presiden Jokowi sebelum menunjuk para menteri meminta masukan dari KPK. Nah, KPK yang saat itu dipimpin Abraham Samad memberikan label merah, kuning, dan hijau. Disebut-sebut, ada calon menteri yang mendapat merah akhirnya tidak jadi diangkat.

Namun, pada saat reshuffle kemarin Jokowi tidak lagi meminta penilaian KPK.

Wakil Presiden Jusuf Kalla beberapa waktu lalu mengatakan wajar kalau Presiden tidak melibatkan KPK untuk melihat merekam jejak para tokoh yang akan diangkat untuk menggantikan sejumlah menteri.

Sebab stabilo merah maupun kuning dari KPK sangat tidak jelas dan tidak dilengkapi dengan bukti yang konkret. "Kan kami belajar dari yang dulu. Kadang juga respons KPK itu tak jelas. Merah, kuning, kami tidak tahu apa itu alasannya" ujar Kalla, Kamis lalu, (13/8).  [zul]

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Polisi Diminta Profesional Tangani Kasus VCS Bupati Lima Puluh Kota

Jumat, 20 Maret 2026 | 00:50

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

Kubu Jokowi Bergerak Senyap untuk Jatuhkan Prabowo

Rabu, 25 Maret 2026 | 06:15

UPDATE

Pasar Jaya Minta Maaf soal Gunungan Sampah di Pasar Induk Kramat Jati

Minggu, 29 Maret 2026 | 00:01

BRIN Gandeng UAG University Kolaborasi Perkuat Talenta Peneliti Indonesia

Sabtu, 28 Maret 2026 | 23:40

Masyarakat Apresiasi Bazar dan Hiburan Rakyat di Monas

Sabtu, 28 Maret 2026 | 23:30

Menata Ulang Skema Konsesi Bandara

Sabtu, 28 Maret 2026 | 23:00

Tak Bisa Asal Gugat, Sengketa Partai Harus Selesai di Internal Dulu

Sabtu, 28 Maret 2026 | 22:41

Peradilan Militer Punya Legitimasi dan Tak Bisa Dipisahkan dari Sistem

Sabtu, 28 Maret 2026 | 22:21

Pasar Murah di Monas, Pemerintah Salurkan Ratusan Ribu Paket Sembako

Sabtu, 28 Maret 2026 | 22:05

Juara Hafalan Al-Quran di Lybia, Pratu Nawawi Terima Kenaikan Pangkat

Sabtu, 28 Maret 2026 | 21:41

Rudal Israel Hantam Mobil Pers, Fatima Ftouni Jurnalis Al Mayadeen Gugur

Sabtu, 28 Maret 2026 | 21:37

DPR Optimistis Diplomasi Pemerintah Amankan Kapal Pertamina di Selat Hormuz

Sabtu, 28 Maret 2026 | 21:17

Selengkapnya