Berita

presiden Joko widodo/net

Kekurangan Tim Ekonomi Jokowi Tak Punya Kepercayaan Diri

JUMAT, 24 JULI 2015 | 01:33 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Pemulihan ekonomi saat krisis tidak hanya tergantung pada kebijakan yang tepat tetapi perlu ada faktor "subjektif", seperti kepercayaan pasar pada tim ekonomi pemerintah.

Begitu disampaikan politisi Partai Demokrat Ulil Absar Abdalah. Menurut dia "confidence" atau kepercayaan bisa membuat banyak hal menjadi lain dan berbeda. Sebaliknya, "lack of confidence" bisa membuat gagal sebuah kebijakan.

"Zaman Mega dan SBY dulu, ada faktor Boediono dan Sri Mulyani yang berhasil memenangkan "confidence" dari pelaku pasar," katanya.


"Saat ini yang kurang pada pemerintahan Jokowi adalah confidence itu, serta apa yang ingin saya sebut sebagai "lack of Boediono factor"," sambung Ulil di akun twitter @ulil, Kamis (23/5).

Memang, sebut Ulil, Jokowi menjadi presiden di saat situasi global yang agak sial. Pertumbuhan ekonomi dunia melambat dan boom harga komoditas sudah berlalu.

"Tetapi justru di situlah tantangan Jokowi: bisakah dia mengatasi "constraint" lingkungan ekonomi global yang sedang tak ramah ini," katanya.

Lebih lanjut menurut Ulil, setiap presiden pasca reformasi menghadapi tantangannya sendiri. Megawati sebut Ulil, situasi ekonomi yang jelek pasca krisis 1997. Lalu, SBY menghadapi krisis ekonomi global pada 2008, dan bisa melewatinya dengan sukses.

"Sekarang, ekonomi global sih sebetulnya tidak sedang krisis. Hanya melambat saja pertumbuhannya. Ini tantangan bagi Jokowi, tentunya. Ekonomi kacau, bisa bahaya," demikian Ulil.[dem]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harta Zita Anjani PAN Melonjak Seribu Persen dalam Dua Tahun

Selasa, 16 Juni 2026 | 17:30

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

UPDATE

Belajar dari Hanson, Sritex dan Duta Palma: Korporasi Terseret Korupsi Tak Harus Ikut Mati

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:05

Tiba-tiba Ramai Bicara Adab

Kamis, 18 Juni 2026 | 06:00

Manuver Sony Sonjaya Pengaruhi Opini Publik

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:38

Satpam Didorong Jadi Garda Terdepan Pelayanan dan Keamanan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:32

Inggris Kalahkan Kroasia Lewat Drama Enam Gol

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:21

Pesan Khusus Kiai Suyuti Toha untuk Bangsa dan Negara

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:07

1945-1950: Kota Pengungsi, Kota Ketakutan

Kamis, 18 Juni 2026 | 05:02

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

Membaca Tomy Winata: Ketika Modal, Negara, dan Kekuasaan Belajar Bertahan

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:14

Kelompok Oposisi Cari Celah Bangun Narasi Pemerintah Tidak Kompeten

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:02

Selengkapnya