Berita

ilustrasi/net

KPK Amankan 700 Dolar AS di Rumah Petinggi PTUN Medan

MINGGU, 12 JULI 2015 | 01:34 WIB | LAPORAN: FEBIYANA

RMOL. Sabtu malam tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menggeledah beberapa titik bekas tempat operasi tanggkap tangan (OTT) Kamis lalu (9/7) di Medan.

Salah satu penggeledahan dilalukan di kantor Gubernur Sumatera Utara, Gatot Pujo Nugroho. Penggeledahan ini dilakukan untuk kepentingan penyidikan dugaan skandal korupsi para hakim PTUN Medan dan oknum pengacara anak buah OC Kaligis.

"Pada hari ini dilakukan penggeledahan di Medan, untuk kepentingan penyidikan dugaan tindak pidana korupsi pemberian dan penerimaan hadiah lepada hakim PTUN Medan," terang Kabag Informasi dan Publikasi KPK, Priharsa Nugraha saat di konfirmasi, Sabtu malam (11/7).


Priharsa melanjutkan bahwa penggeledahan sebelumnya akan dilakukan di rumah keempat tersangka yaitu kediaman Tripeni Irianto Putro, Dermawan Ginting, Amir Fauzi, dan Syamsir Yusfan. Namun ketika tim penyidik KPK sampai ke rumah Tripendi urung gagal sebab rumah yang bersangkutan tidak berpenghuni.

"Penyidik melakukan penggeledahan di beberapa lokasi, yaitu rumah keempat tersangka, TIP, DG, AF, dan SY. Namun penggeledahan di rumah TIP batal dilaksanakan karena tidak ada orang di dalam rumah sehingga penyidik tidak dapat masuk," tambahnya.

Penyidik sudah menggeledah pada pukul 19.00 WIB di kantor PTUN Medan dan lanjut ke kantor Gubernur Sumut, Gatot Pujo Nugroho pada pukul 23.00 WIB.

Dari hasil penggeledahan di rumah dinas sekretaris PTUN, rimah dinas ketua PTUN tim penyidik mengamankan sejumlah uang senilai 700 dollar AS.

"Penyidik melakukan penggeledahan di beberapa lokasi, yaitu rumah dinas sekretaris PTUN, rumah dinas Ketua PTUN, dan kantor PTUN. Dari rumah tersebut penyidik menyita uang sejumlah 700 dolar AS," beber dia.

Ketika disinggung sejauh mana dugaan keterlibatan Gatot dalam perkara ini, Priharsa belum dapat berkomentar banyak. Dia mengaku saat ini pihaknya belum bisa menyimpulkan hal tersebut.

"Enggak bisa langsung disimpulkan," tandasnya. [ysa]

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

UPDATE

Gugurnya Prajurit Jadi Panggilan Indonesia Tak Lagi Jadi Pemain Cadangan

Selasa, 31 Maret 2026 | 12:20

Aktivis KontraS Ungkap Kondisi Terkini Andrie Yunus di RSCM

Selasa, 31 Maret 2026 | 12:19

Trump Ngotot akan Tetap Hancurkan Listrik dan Semua Pabrik di Iran

Selasa, 31 Maret 2026 | 12:17

KPK Kembangkan Kasus Suap Importasi

Selasa, 31 Maret 2026 | 12:09

Pertamina Bantah Kabar Harga Pertamax Tembus Rp17 Ribu per Liter

Selasa, 31 Maret 2026 | 12:02

Siang Ini Jakarta Diprediksi Kembali Hujan Ringan

Selasa, 31 Maret 2026 | 12:00

Tiga Prajurit RI Gugur di Lebanon, Menlu Desak DK PBB Rapat Darurat

Selasa, 31 Maret 2026 | 11:45

Transparansi Terancam: 37 Ribu Pejabat Belum Serahkan LHKPN

Selasa, 31 Maret 2026 | 11:40

Kasus Penyiraman Air Keras Aktivis KontraS Dilimpahkan ke Puspom TNI

Selasa, 31 Maret 2026 | 11:27

Gibran Didorong Segera Berkantor di IKN Agar Tak Mubazir

Selasa, 31 Maret 2026 | 11:18

Selengkapnya