Berita

foto:dok

6 Syarat Kebangkitan Islam di Indonesia Versi Azyumardi Azra

KAMIS, 09 JULI 2015 | 12:40 WIB | LAPORAN:

Nurcholish Madjid Society dan Mizan Publika beberapa waktu lalu menggelar acara Bedah Buku berjudul 'Kebangkitan Kedua Umat Islam: Jalan Menuju Kemuliaan' karya Yusuf Effendi.

Penulis merupakan seorang purnawirawan TNI AL yang pernah menjabat Panglima Armada Kawasan Barat dan Direktur Jenderal di Kementerian Pertahanan.

Dalam bukunya, Yusuf mengungkit kemiskinan dan keterbelakangan sebagai wajah buran umat Islam saat ini. bertolak dari hal itu, Yusuf mengajak pembaca menggali spirit kejayaan Islam di masa lalu sebagai bekal untuk melakukan kebangkitan umat Islam di masa mendatang.


Menurutnya, kejayaan Islam masa lalu antara lain terjadi karena sikap open religion dan open humanism terhadap peradaban lain. Maka tak heran jika umat Islam di masa lalu lebih maju beberapa langkah dibandingkan masyarakat dunia lainnya saat itu.

Lewat kajian yang mendalam dan menyeluruh, penulis berkesimpulan bahwa kebangkitan kedua umat Islam mesti berpegang pada demokrasi, akhlak, dan ilmu. Dengan demikian, kemiskinan dan keterbelakangan dapat bertransformasi menjadi kesejahteraan dan kemajuan.

"Saya berpikir ide kebangkitan Islam yang diusung buku ini selaras, bukan ancaman terhadap umat agama lain," ujar Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Azyumardi Azra yang juga hadir sebagai pembahas dalam bedah buku tersebut.

Meski sepakat dengan penulis yang mengemukakan tiga syarat kebangkitan umat Islam yang terletak pada demokrasi, ilmu, dan akhlak, Azyumardi memiliki enam syarat lainnya.

Keenam syarat itu, yakni: Pertama, stabilitas politik. Kemajuan umat Islam tergantung dari stabil atau tidaknya sistem politik. Semakin stabil sistem politik suatu negara, semakin tinggi potensi kebangkitan.  Sebaliknya, semakin tidak stabil sistem politik suatu negara, semakin rendah potensi kebangkitan tersebut.

Kedua, kekuatan ekonomi, terutama yang bersumber dari minyak. Semakin ketergantungan suatu negara pada minyak, maka semakin rendah potensi kebangkitan itu. Oleh karena itu ekonomi yang bersumber dari sumber daya minyak harus diubah menjadi bersifat services.

Ketiga, pemahaman keagamaan (Islamic world view). Semakin inklusif pandangan keagamaan di sebuah negara, maka peluang maju di negara tersebut akan semakin terbuka. Sebaliknya, semakin sektarian pandangan keagamaan di sebuah negara, maka akan semakin suli kemajuan tercipta di dalamnya.

Keempat, pemikiran keislaman. Semakin moderen pemikiran keislaman umat Islam, maka peluang untuk maju semakin terbuka. Namun jika umat Islam selalu berorientasi ke belakang niscaya hanya kemunduran yang akan terjadi. Demikian pula halnya, jika umat Islam semakin adaptif terhadap ilmu, maka peluang untuk maju akan mudah dicapai.

Kelima, sistem sosial budaya. Semakin sistem sosial budaya itu menjunjung domestifikasi, maka semakin kecil peluang untuk maju.

Dan keenam, semakin umat Islam bergantung pada orang lain (tidak mandiri), maka peluang untuk maju sangat kecil.  

Dari tesisnya di atas, Azyumardi sepakat jika kebangkitan kedua umat Islam dapat terjadi di Indonesia. Hal tersebut didasarkan pada tiga hal, yakni pertama, mayoritas penduduk Indonesia memeluk agama Islam yang menerima dan menjunjung demokrasi; kedua, umat Islam Indonesia memiliki kecintaan yang tinggi terhadap Islam; dan ketiga, di Indonesia terjadi harmonisasi antara Islam dan modernitas yang terbuka terhadap keragaman.

Pembicara lain yang juga hadir yakni intelektual muslim, Musa Kazhim yang berpendapat perlu upaya serius untuk melakukan rekonsiliasi pemahaman keislaman saat ini. Dan Indonesia sangat layak menjadi tempat kebangkitan kedua umat Islam daripada Timur Tengah yang terlalu lelah dengan berbagai konflik.

"Saya kira, kebangkitan umat Islam di Indonesia bukanlah mimpi di siang bolong," tandas Musa.[wid]


Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Lagi Sakit, Jangan Biarkan Jokowi Terus-terusan Temui Fans

Senin, 12 Januari 2026 | 04:13

Eggi-Damai Dicurigai Bohong soal Bawa Misi TPUA saat Jumpa Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 04:08

Membongkar Praktik Manipulasi Pegawai Pajak

Senin, 12 Januari 2026 | 03:38

Jokowi Bermanuver Pecah Belah Perjuangan Bongkar Kasus Ijazah

Senin, 12 Januari 2026 | 03:08

Kata Yaqut, Korupsi Adalah Musuh Bersama

Senin, 12 Januari 2026 | 03:04

Sindiran Telak Dokter Tifa Usai Eggi-Damai Datangi Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 02:35

Jokowi Masih Meninggalkan Jejak Buruk setelah Lengser

Senin, 12 Januari 2026 | 02:15

PDIP Gelar Bimtek DPRD se-Indonesia di Ancol

Senin, 12 Januari 2026 | 02:13

RFCC Complex Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 01:37

Awalnya Pertemuan Eggi-Damai dengan Jokowi Diagendakan Rahasia

Senin, 12 Januari 2026 | 01:16

Selengkapnya