Berita

Nigel Pearson/net

Bola Bagus

Dianggap Nggak Sejalan Dengan Klub The Foxes Pecat Nigel Pearson

KAMIS, 02 JULI 2015 | 10:05 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Leicester City sedang dipus­ingkan untuk mencari pelatih baru setelah memecat Nigel Pearson, kemarin WIB.

Kini, klub berjuluk The Foxes itu membuat keputusan menge­jutkan dengan memecat Pearson karena dianggap tidak sejalan dengan perintah klub.

Alasan pemecatan tidak di­jelaskan secara detail yang pasti masalah perbedaan pendapat yang tidak dapat ditolerir oleh Leicester. Namun dari rumors yang berkembang, keputusan ini nampak dilatar belakangi rentetan hal memuakkan yang dilakukan Pearson.


"Hari ini kami tidak akan lanjut berkomentar tentang siapa calon pengganti sebelum ada kesimpulan dari tim," katanya Vichai di situs resmi klub.

Musim 2014/15 sosok Nigel Pearson namanya tercatat dalam sejumlah kontroversi. Pada Desember 2014, dia didenda 10 ribu Poundsterling dan skorsing satu pertandingan karena protes saat tim dikalahkan Liverpool.

Februari lalu, Person terperg­kok sedang mencengkeram leher gelandang James McArthur saat timnya kalah dari Crystal Palace.

Bulan berikutnya dia me­nyebut jurnalis dengan sebutan 'Burung Unta' karena kesal den­gan beberapa pertanyaan yang diajukan kepadanya.

Untuk sementara tugas kepelati­han pada tim utama The Foxes diambil alih Craig Shakespeare dan Steve Walsh. Keduanya ada­lah asisten terbaik dari Pearson selama masih menjadi manajer.

Keputusan yang dibuat Pemilik Leicester City, Vichai Srivaddhanaprabha ini sekilas dipandang arogan dan otoriter. Apalagi hal itu dilakukan saat Liga Primer Inggris sedang di­panaskan tentang bursa transfer yang terfokus hanya pada per­gantian pemain.

Bagi tim yang berisi pemain minim bintang tentu prestasi manajer berusia 51 tahun ini yang mampu menghindarkan Leicester dari degradasi di Liga Inggris semestinya patut diacungi jempol.

Pearson menangani klub di King Power Stadium sejak November 2011. Lelaki kelahiran Nottingham itu membantu klub mendapat tiket promosi pada musim 2013/14 ke divisi terbaik.

The Midlands-julukan lain Leicester City mengalami kesulitan sepanjang musim lalu. Mereka terpaku di papan bawah klasemen, akibat kalah 18 kali dari 29 partai pertama di liga.

Namun, mereka mampu menuai tujuh kemenangan dari sembilan laga terakhir kompetisi, sehingga posisi mereka terangkat dari tiga terbawah dan menempati urutan ke-14 klasemen akhir.

Namun, pencapaian tersebut rupanya tidak cukup untuk mempertahankan posisi Pearson di jabatan manajer Leicester City.  ***

Populer

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

UPDATE

Tak Hanya Mobil Listrik, Hybrid Juga Diusulkan Bebas Ganjil-Genap

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:31

Kabinet Watch Penting untuk Ruang Dialog Menteri dan Kelompok Kritis

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:25

Dumai Transshipment Hub: Ujian Geopolitik Maritim Indonesia

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:17

Laba Emiten Naik 15 Persen, Danantara Minta Investor Tak Terpaku Sentimen Pasar

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:16

Apple Siap Gelar Acara Pro and Tell Akhir Oktober 2026

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:09

12.000 Lowongan Kerja Dibuka di Jakarta untuk Semua Kalangan

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:08

BAZNAS dan Ruang Amal Indonesia Antarkan 47 Mustahik ke Dunia Kerja

Kamis, 22 Oktober 2026 | 12:06

KPK Bakal Secepatnya Kembali Panggil Nusron Wahid

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:48

Wacana Dumai Transshipment Hub Perlu Dukungan, Pelindo Harus Lebih Bertaring di Selat Malaka

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:47

Terancam Turun Kelas, Danantara Akui Sentimen MSCI Tak Bisa Dianggap Enteng

Kamis, 22 Oktober 2026 | 11:33

Selengkapnya