Berita

Eks Orang Dalam: Tak Masalah Capim KPK dari Polri dan Kejagung

SENIN, 22 JUNI 2015 | 21:34 WIB | LAPORAN: FEBIYANA

. Abdulah Hehamahua pesimis apabila dirinya mencalonkan diri sebagai calon pimpinan lembaga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Alasannya, mantan penasehat KPK itu tidak ingin terintegrasi dengan DPR RI.

"Gak, pokoknya kalo berhubungan dengan DPR gak deh. Kan dulu saya rangking tiga. Apalagi sekarang gak di ranking. Di rangking aja gak bisa apalagi gak di rangking," sindir Abdullah, di gedung KPK, Senin (22/6).

Dia menolak melakukan loby agar dirinya terpilih menjadi calon pimpinan KPK. Selain itu, Abdulah juga mengusulkan final capim itu hanya sampai di pansel saja, sedangkan DPR tinggal mau menerimanya atau tidak.


"Sebab saya tidak mungkin lobi, tidak pernah lobi,dulu saya tidak pernah lobi, dan sampai kapanpun saya tidak pernah lobi.Dan kemudian dalam Disertasi saya, saya usulkan pimpinan lembaga negara teramsuk  pimpinan KPK itu final di pansel, jadi di DPR itu tinggal menerima atau menolak. Karen itu pansel beda-bed atipis dengan malaikat lah," terang Abdullah.

Abdullah melanjutkan, apabila pemilihan calon pimpinan KPK final hanya sampai di pansel, pihaknya mau mengajukan diri sebagai calon pimpinan KPK.

"Ya tapi kan klo kita sudah tau nabrak tembok kenapa harus maju, kecuali kalau final di pansel mungkin saya mau, tapi karena DPR lembaga politk tidak lepas dari kepentingan politik, itu problem," komentarnya.

Disinggung mengenai adanya list nama-nama capim KPK yang berlatar belakang dari aparat penegak hukum seperi Polri dan Kejagung, Abdullah bilang hal itu sah-sah saja selagi mereka mengikuti proses yang benar. Utamanya, apabila sudah terpiih menjadi pimpinan KPK, harus berani mati, lanjut Abdullah.

"Ya gak apa-apa,yang penting mereka ikut seleksi, kemudian punya kompetensi, punya integritas, profesioanal dan siap mati. Kalau istri anda siap jadi janda, anak anda siap jadi yatim piatu silahkan anda daftar." imbuhnya.

Namun, yang sebetulnya menjadi masalah adalah pimpinan KPK yang terpilih nanti yang berlatar belakang dari penegak hukum masih aktif dijabatan sebelumnya.

"Yang jadi persoalan adalah apakah kalau penegak hukum yang masih aktif pejabat yang aktif di kepolisian, kejagung, BPKP, itu ada problem," komentar pria dari Timur Indonesia tersebut. [sam]

Populer

Dicurigai Ada Peran Mossad di Balik Pengalihan Tahanan Yaqut

Senin, 23 Maret 2026 | 01:38

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

SBY Menolak Silaturahmi Lebaran Anies?

Jumat, 27 Maret 2026 | 03:43

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

TNI Tegas dalam Kasus Andrie Yunus, Beda dengan Polri

Sabtu, 21 Maret 2026 | 05:03

Nasib Hendrik, SPPG Ditutup, 150 Karyawan Diberhentikan

Jumat, 27 Maret 2026 | 06:07

Pertemuan Megawati-Prabowo Menjungkirbalikkan Banyak Prediksi

Sabtu, 21 Maret 2026 | 04:12

UPDATE

Efisiensi Perjalanan Dinas: Luar Negeri 70 Persen, Dalam Negeri 50 Persen

Selasa, 31 Maret 2026 | 22:18

MPR Minta Pemerintah Tarik Pasukan TNI dari Misi UNIFIL

Selasa, 31 Maret 2026 | 22:11

Imparsial: Andrie Yunus Buka Sinyal Gelap Pembela HAM

Selasa, 31 Maret 2026 | 22:05

Tanpa Terminal BBM OTM, Cadangan Pertamax Berkurang Tiga Hari

Selasa, 31 Maret 2026 | 21:53

Kemenkop–KemenPPPA Kolaborasi Perkuat Peran Perempuan Lewat Kopdes

Selasa, 31 Maret 2026 | 21:45

Lippo Cikarang Tegaskan Tidak Terkait Perkara yang Diusut KPK

Selasa, 31 Maret 2026 | 21:35

Membaca Skenario Merancang Operasi Gagal

Selasa, 31 Maret 2026 | 21:28

BSA Logistics Melantai di Bursa Bidik Dana Rp306 Miliar

Selasa, 31 Maret 2026 | 21:18

Jusuf Kalla Bereaksi atas Gugurnya 3 Prajurit TNI di Lebanon

Selasa, 31 Maret 2026 | 21:01

Diaspora RI Antusias Sambut Kedatangan Prabowo di Seoul

Selasa, 31 Maret 2026 | 20:56

Selengkapnya