Berita

hendardji soepandji/net

Politik

Johan: Hendradji Berhak Di-endorse Jadi Capim KPK

KAMIS, 18 JUNI 2015 | 13:22 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Semua warga negara Indonesia (WNI) berhak dan boleh mencalonkan diri sebagai calon pimpinan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), asalkan tak lagi aktif dalam suatu institusi.

Begitu ditegaskan pelaksana tugas (Plt) Wakil Ketua KPK Johan Budi SP saat ditemui di gedung DPR, Senayan, Jakarta (Kamis, 18/6).

"Menurut saya setiap warga negara Indonesia semua punya hak yang sama termasuk mendaftar capim KPK," ujarnya.


Johan juga tidak mempermasalahkan Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko yang merekomendasikan mantan calon gubernur DKI Jakarta, Mayjen Purn Hendardji Soepandji untuk maju mencalonkan diri sebagai pimpinan KPK. Dengan catatan, calon yang mendaftar sudah tak lagi aktif di TNI dan mencalonkan diri atas nama perseorangan.

"Boleh saja Panglima mengendorse seseorang, tapi kan tergantung yang melamar, mau nggak diendorse. Yang penting sudah tak lagi aktif di institusinya. Tapi kalau mendaftarnya kan perorangan bukan institusi," lanjut Johan.

Panglima TNI, Jenderal TNI Moeldoko sebelumnya merekomendasikan nama Hendardji Soepandji sebagai capim KPK. Menurut Panglima, Hendardji punya prestasi gemilang sewaktu menjadi Komandan Pusat Polisi Militer (Danpuspom) pada 2006-2007.

"Sementara ini menurut pengamatan dari saya Pak Hendardji cukup memenuhi. Pengalaman empiriknya pada saat mengelola jadi Danpuspom, ada persoalan konektivitas dia tangani dengan baik," jelasnya di Mabes TNI Cilangkap, Selasa (17/6)

Lanjut Moeldoko, capim KPK dari kalangan militer bukanlah suatu hal baru. Menurut dia, siapapun dapat menjadi capim KPK selama itu memiliki kapasitas dan niat untuk memberantas korupsi.

"Sebenarnya bukan TNI, hanya mantan Prajurit TNI yang menurut kami siapapun dari beliau-beliau senior kami memiliki background, kapasitas untuk itu tidak ada salahnya. Panglima TNI memberi rekomendasi. Kami punya keyakinan beliau bisa," tuturnya.[wid]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lagi Sakit, Jangan Biarkan Jokowi Terus-terusan Temui Fans

Senin, 12 Januari 2026 | 04:13

Eggi-Damai Dicurigai Bohong soal Bawa Misi TPUA saat Jumpa Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 04:08

Membongkar Praktik Manipulasi Pegawai Pajak

Senin, 12 Januari 2026 | 03:38

Jokowi Bermanuver Pecah Belah Perjuangan Bongkar Kasus Ijazah

Senin, 12 Januari 2026 | 03:08

Kata Yaqut, Korupsi Adalah Musuh Bersama

Senin, 12 Januari 2026 | 03:04

Sindiran Telak Dokter Tifa Usai Eggi-Damai Datangi Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 02:35

Jokowi Masih Meninggalkan Jejak Buruk setelah Lengser

Senin, 12 Januari 2026 | 02:15

PDIP Gelar Bimtek DPRD se-Indonesia di Ancol

Senin, 12 Januari 2026 | 02:13

RFCC Complex Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 01:37

Awalnya Pertemuan Eggi-Damai dengan Jokowi Diagendakan Rahasia

Senin, 12 Januari 2026 | 01:16

Selengkapnya