Berita

Hidayat Nur Wahid/net

Wawancara

WAWANCARA

Hidayat Nur Wahid: PKS Sudah Pasti di Luar Pemerintah, KMP Belum Tentu Mau Masuk Kabinet

RABU, 17 JUNI 2015 | 11:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Seandainya Presiden Jokowi mengajak tokoh-tokoh Koalisi Merah Putih (KMP) menjadi menteri saat reshuf­fle kabinet nanti, sudah bisa ditebak dari partai mana akan bergabung dengan pemerintah.

Yang jelas, sudah ada dua par­tai politik di KMP yang tegas-tegas menyatakan berada di luar pemerintahan. Yakni Partai Gerindra dan PKS.

Sedangkan Partai Demokrat yang menyatakan sebagai partai penyeimbang juga sudah menyatakan tetap berada di luar pemerintahan.


Ini berarti yang mungkin masuk kabinet bila reshuffle dilakukan adalah PAN, Partai Golkar, PPP hasil Muktamar Jakarta yang dikomando Djan Faridz.

Bagaimana reaksi tokoh PKS Hidayat Nur Wahid melihat hal itu? Berikut wawancara Rakyat Merdeka dengan Wakil Ketua MPR itu, Senin (15/6):

Presiden Jokowi telah me­nyatakan bisa KMP menjadi menteri, tanggapan Anda?
Secara prinsip mau reshuf­fle atau tidak reshuffle itu hak prerogatif presiden. Terserah saja kalau ada menteri dari KMP.

Bagaimana dengan PKS?
PKS tetap berada di luar pe­merintahan. Kami bisa menja­min itu karena sudah diputuskan menjadi sikap partai. Tapi kalau partai lain yang bergabung di KMP, tentu terserah teman-teman lain.

Kenapa tidak mau ber­gabung di pemerintahan Jokowi?
Sikap kami ini tidak bisa diar­tikan bahwa kami menghalang-halangi program pemerintah. Berada di luar kabinet juga terhormat. Karena kami di DPR dan MPR bisa melaksanakan program membangun bangsa dan negara melalui fungsi DPR dan MPR, yakni mengawasi agar janji-janji pemerintah, janji Presiden Jokowi bisa terlaksana maksimal.

Prinsipnya kami menyerahkan semuanya kepada Presiden. Jangan sampai hak prerogatif itu digunakan hanya untuk me­muaskan pihak koalisi manapun, oposisi atau non oposisi. Tapi betul-betul porosnya kepada peningkatan kinerja, mereal­isasikan janji-janji saat kam­panye. Karena banyak negara menyebut Indonesia ini darurat macam-macam gitu.

Maksudnya?
Sekarang ini ada darurat per­lindungan anak, darurat narkoba, darurat korupsi. Bahkan ada mengkhawatirkan Indonesia akan masuk ke dalam resesi ekonomi karena dolar semakin menguat. Belum lagi masalah penegakan hukum yang belum berjalan maksimal. Ini tentu me­merlukan kinerja kabinet yang sangat bagus. Makanya alasan reshuffle hanya untuk itu, bukan karena kepentingan koalisi, baik KIH maupun KMP.

Harusnya bagaimana?
Harusnya betul-betul karena penilaian objektif Presiden un­tuk meningkatkan kinerja yang bisa merealisasikan janji kam­panyenya. Kemudian menyela­matkan Indonesia dari kondisi darurat, maupun resesi ekonomi yang membayangi ini.

Bukankah mengambil men­teri dari KMP agar tidak ada kritik di DPR?
Malah saya khawatir membuat beliau dikritik oleh kawan-kawan dari KIH. Ini juga perlu dipertimbangkan. Sebab, saat Presiden salah menyebut kota kelahiran Soekarno, KIH sangat keras mengkritiknya.

Kalau tetap ada menteri dari KMP?
Jangan sampai kebijakan be­liau justru bukan menyelesaikan masalah, tapi malah menam­bah kerumitan masalah. Rumit dengan KIH dan rumit dengan KMP yang juga belum tentu mau ditawari menjadi menteri. Kalau masuk, saya yakin tidak atas nama KMP, tapi atas nama individu.

Apa saran Anda kepada Jokowi?

Kami berpendapat, kalau dilakukan reshuffle kabinet, ambil dari kalangan ahli. Dulu kan beliau menjanjikan bahwa kabinet itu tidak transaksional, tapi kabinet ahli, kabinet kerja. Itu saja dinomorsatukan. Jangan malah seolah-olah ini gara-gara KMP, sehingga program pemer­intah nggak jalan.

Itu semua diserahkan kepada penilaian rakyat. Secara prin­sip silakan lakukan reshuffle kabinet, dan silakan rakyat menilainya. Apakah pilihannya betul-betul profesional atau bagaimana. ***

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Jasa Kiai Kampung

Minggu, 30 Agustus 2026 | 04:26

Waketum MUI Usul Gaji Guru Pesantren di Atas UMR

Minggu, 30 Agustus 2026 | 04:16

Jangan Takut Kritik Pemerintah

Minggu, 30 Agustus 2026 | 04:04

Saham BYAN Mencuat, IAW Ingatkan soal Pengawasan Regulator

Minggu, 30 Agustus 2026 | 03:20

Melawan Amplop di Muktamar NU

Minggu, 30 Agustus 2026 | 03:08

Program Streamlining Danantara Tak Boleh Identik dengan PHK

Minggu, 30 Agustus 2026 | 02:38

Investor Diajak Terlibat 37 Proyek Investasi Strategis di Jakarta

Minggu, 30 Agustus 2026 | 02:17

Budi Arie Tolak Cabut Analisis Pemilu sebelum 2029

Minggu, 30 Agustus 2026 | 02:02

Jangan Berhenti pada Janji 15 Desember

Minggu, 30 Agustus 2026 | 01:35

Pajak Diduga Bocor Rp5 Triliun, Purbaya Kantongi 40 Nama Perusahaan Baja

Minggu, 30 Agustus 2026 | 01:21

Selengkapnya