Berita

adhie m. massardi/rmol

Adhie M Massardi

RENUNGAN RAMADHAN

Ketika Ucapan Pemimpin Bertentangan dengan Perbuatannya

SELASA, 16 JUNI 2015 | 13:38 WIB | OLEH: ADHIE M. MASSARDI*

SEJAK era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY (2004-2009), rakyat Indonesia terbiasa hidup di alam penuh dusta. Kita menjadi sangat permisif terhadap kebohongan. Bahkan kosa kata "kebohongan" berubah menjadi "pencitraan" sehingga tidak lagi menjadi aib.

Maka bila para kandidat pemimpin, dari tingkat pusat (presiden) sampai daerah (bupati, walikota, gubernur) tampil di panggung-panggung politik menebar kebohongan yang dikemas dalam janji pemilu, tidak lagi disebut sebagai "sedang menebar kebohongan" melainkan dianggap sedang melakukan "pencitraan".

Itulah sebabnya ketika para pimpinan umat beragama pada 10 Januari 2011 mencanangkan "Tahun Perlawanan Terhadap Rezim Kebohongan (SBY)", tidak mendapat respon dari masyarakat.


Dunia kampus yang dianggap sebagai sentra kekuatan moral rakyat juga tidak bergeming. Sedangkan DPR yang anggotanya lazim disebut "yang terhormat" merasa tidak perlu menggunakan "hak interpelasi" untuk bertanya kepada presiden, karena kebohongan sudah tidak dianggap sebabagi perbuatan tercela dalam kamus kepemimpinan di negeri ini.

Kini para pendusta memang menjadi orang paling berhasil dalam merebut kursi-kursi kepemimpinan dalam pemerintahan. Seakan sudah digariskan bahwa hanya orang paling andal dalam berdusta yang paling punya kans memenangi pertarungan perebutan kursi kekuasaan.

Padahal dalam agama Islam yang dianut oleh mayoritas rakyat Indonesia, kebohongan merupakan perbuatan dosa besar, karena itu sangat tercela. Sehingga pembohong mendapat sebutan bernada kutukan: Munafik!

Islam mengutuk keras pendusta karena ia bisa menyesatkan dan menyengsarakan banyak orang. Makanya, bukan saja banyak hadits yang mengisahkan kejengkelan dan kemarahan Rasulullah saw terhadap para pendusta.

Bukan hanya itu. Bahkan Alloh SWT menurunkan Surah Al-Munafiqun dalam Al Qur’an yang berisi (11) ayat khusus untuk mengutuk dan mengingatkan untuk berhati-hati terhadap orang-orang munafik. Sedangkan kategori orang munafik dijelaskan secara lugas.

Orang yang disebut munafik adalah, 1. Bila berkata ia dusta, 2. Bila berikar ia ingkar, dan 3. Bila diberi amanat ia khianat. Itulah tiga hal yang lazim kita saksikan dengan takzim dilakukan secara terbuka oleh para calon pemimpin di panggung-panggung kampanye.

Memang, sekarang ini banyak orang menganggap mustahil "menyatukan kata dan perbuatan". Apalagi contoh yang dipakai adalah mayoritas kalangan elite negeri ini.

Sesungguhnya bagi umat Islam hal itu mudah saja, karena Tuhan telah memberikan pertolongan yang jelas, lugas dan praktis agar umat Muhammad tidak masuk dalam golongan orang-orang munafik, melainkan orang-orang yang bisa menyatukan kata-katanya dengan perbuatan.

Hal itu tercermin dalam kata "usholli..." (saya berniat sholat...) yang diucapkan dalam setiap menegakkan sholat, baik yang wajib (5 waktu) per hari, maupun yang sunat. Padahal kita tahu, sebenarnya begitu seseorang bergerak hendak mengambil air wudhu untuk mensucikan diri, niscaya "niat" sholat itu sudah muncul di dalam hati.

Tapi Islam mengajarkan umatnya untuk mengucapkan, dan detik berikutnya niat itu dijalankan. Jadi nyaris tak ada jeda antara niat, ucapan, dan pelaksanaan dari ucapan itu.

Demikian pula dalam menjalankan ibadah puasa. Begitu bangun dari tidur untuk melaksanan makan sahur (dini hari), sesungguhnya di dalam hati sudah terbetik niat untuk berpuasa. Tapi Islam mengajarkan kepada umatnya untuk membaca doa menjelang makan sahur: Nawaitu shauma gadhin 'an adaai fardhu syahri ramadhaan haadzihis sanati lillahi ta'aalaa (Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, aku berniat puasa sehari penuh besok dalam bulan Ramadhan ini, karena Engkau, ya Allah.)

Begitulah Islam mengajarkan kepada para penganutnya untuk terbiasa menyatukan kata (niat) dan perbuatan dalam satu tarikan nafas. Nyaris tanpa jeda.

Jadi, kenapa di negara yang mayoritas rakyatnya beragama Islam, kemunafikan (para pemimpinnya) dianggap hal biasa? Semoga pada Ramadhan yang penuh berkah ini umat Islam Indonesia mendapat pencerahan untuk memahami kemunafikan itu perbuatan terkutuk.

Selamat menjalani ibadah puasa. Marhaban, ya Ramadhan! [***]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

Silfester Langsung Dicopot dari Jabatan Komisaris Independen Anak Usaha Pelindo

Kamis, 24 September 2026 | 20:07

UPDATE

Dudung Resmi Jabat Menko Polkam, Geser Djamari Chaniago

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:23

Pelantikan Suyudi Momentum Perkuat Profesionalisme Polri

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:20

Kuseryansyah Perlu Jelaskan Absen di Kejagung Terkait Kasus PT Crowde

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:19

Profil Suyudi Ario Seto, Kapolri Baru Pengganti Listyo Sigit

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:18

Harta Menko PMK Sugiono Tembus Rp13,15 Miliar

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:10

Prabowo Lantik Dua Wamenkeu Baru untuk Bantu Suahasil

Kamis, 01 Oktober 2026 | 16:08

7 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Ini Daftarnya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Inflasi Tahunan September 2026 Capai 3,28 Persen, Ini Biang Keroknya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:55

Utang BLBI Lunas, Hak Tagih Negara Rp 110 Triliun Belum Tuntas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:50

Pulung Agustanto: Pendidikan dan Dunia Usaha Harus Berjalan Seiring

Kamis, 01 Oktober 2026 | 15:46

Selengkapnya