Berita

Politik

Rizal Ramli: Perlu Terobosan Atasi Lampu Merah Perekonomian Indonesia

SELASA, 16 JUNI 2015 | 00:21 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Ekonom senior Dr. Rizal Ramli menyebut perekonomian Indonesia saat ini dalam kondisi lampu merah.

"Awal krisis ekonomi saat ini adalah warisan SBY yang nyaris tidak lakukan apa-apa untuk mengurangi quatro deficits sejak 2012," kata Rizal Ramli dalam akun twitternya, @RamliRizal, Senin malam (15/6).

RR, demikian Rizal Ramli disapa, mewanti-wanti mengenai akibat dari kondisi ini. Banyak pemimpin tenggelam karena krisis, tapi ada yang berhasil membuatnya menjadi peluang dan kebangkitan.


Jika diatasi dengan cara-cara konvensional, RR yakin krisis tidak akan bisa teratasi.

"Masalah (ekonomi) Indonesia sudah terlalu ruwet dan ribet, tidak bisa diselesaikan dengan cara-cara konvensional. Harus dengan terobosan-terobosan," katanya.

RR yang pernah menjabat Menko Perekonomian era pemerintahan Abdurrahman Wahid mengatakan, untuk mengatasi krisis tidak cukup hanya dengan meningkatkan biaya pengeluaran untuk infrastruktur. Langkah ini perlu ditambah dengan kebijakan investasi, perdagangan, dan konsumsi. Langkah lainnya, lakukan revaluasi asset-asset BUMN yang jika ini dilakukan akan meningkat nilai modal BUMN 4-5 kali.

"Tambahkan ke modal sehingga BUMN bisa terbitkan obligasi untuk biayai proyek-proyek infrastruktur," katanya.

RR pernah melakukan langkah ini. Revaluasi asset yang dilakukan RR di PLN tahun 2000 membuat aset perusahaan setrum nasional itu naik 4 kali. Tidak hanya itu, modal PLN pun mengalami kenaikan dari minus 9 triliun menjadi positif 104 triliun. Dengan cara ini, RR menyelamatkan PLN tanpa suntikan dana pemerintah.

"Paradigma infrastruktur dibiayai oleh APBN harus diubah dengan pembiayaan BUMN via revaluasi aset dan swasta. Prioritaskan APBN hanya untuk pengurangan kemiskinan dan fasilitas rakyat," kata RR menjelaskan terobosan lainnya.

Tak lupa, katanya, mafia-mafia impor pangan harus disikat. Ganti sistem quota dengan tarif. Kalau sistem kuota dihapuskan dan diganti dengan sistem tarif, dipastikan impor akan lebih kompetitif dan harga bahan pangan akan lebih murah.

"Harga gula, daging, kedele dan lain-lain akan turun, rakyat akan senang" katanya.

Hal penting lainnya, kata dia, paradigma hanya bisa naikkan harga-harga harus diganti dengan paradigma turunkan harga. Harga dapat diturunkan antara lain dengan peningkatan effisiensi, sikat KKN, mafia dan kartel.

"Saat ini, penjualan ritel merosot 30%. Banyak kelebihan kapasitas Industri DN. Berikan fasilitas kredit export untuk manfaatkan kelebihan kapasitas untuk tembus pasar ekspor baru," tukasnya.[dem]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Arahan Tugas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 11:54

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Kubu Jokowi Babak Belur Hadapi Kasus Ijazah

Kamis, 01 Januari 2026 | 03:29

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Lagi Sakit, Jangan Biarkan Jokowi Terus-terusan Temui Fans

Senin, 12 Januari 2026 | 04:13

Eggi-Damai Dicurigai Bohong soal Bawa Misi TPUA saat Jumpa Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 04:08

Membongkar Praktik Manipulasi Pegawai Pajak

Senin, 12 Januari 2026 | 03:38

Jokowi Bermanuver Pecah Belah Perjuangan Bongkar Kasus Ijazah

Senin, 12 Januari 2026 | 03:08

Kata Yaqut, Korupsi Adalah Musuh Bersama

Senin, 12 Januari 2026 | 03:04

Sindiran Telak Dokter Tifa Usai Eggi-Damai Datangi Jokowi

Senin, 12 Januari 2026 | 02:35

Jokowi Masih Meninggalkan Jejak Buruk setelah Lengser

Senin, 12 Januari 2026 | 02:15

PDIP Gelar Bimtek DPRD se-Indonesia di Ancol

Senin, 12 Januari 2026 | 02:13

RFCC Complex Perkuat Ketahanan Energi Nasional

Senin, 12 Januari 2026 | 01:37

Awalnya Pertemuan Eggi-Damai dengan Jokowi Diagendakan Rahasia

Senin, 12 Januari 2026 | 01:16

Selengkapnya