Sutiyoso selalu dituding sebagai dalang dan master mind di balik penyerbuan kantor PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta, 27 Juli 1996. Ketika peristiwa Kudatuli itu terjadi Sutiyoso adalah Pangdam Jaya, Jakarta. Dia disebutkan memimpin langsung penyerangan ke kantor PDi yang dikuasai pendukung Megawati Soekarnoputri.
Maka ketika Presiden Joko Widodo mengajukan nama Sutiyoso sebagai calon Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), tak sedikit kalangan internal partai banteng gemuk itu yang getah dan bereaksi negatif.
Tetapi bagi Bambang Beathor Surydi, aktivis PDI Perjuangan dan orang dekat alm. Taufiq Kiemas, Sutiyoso adalah pahlawan reformasi. Tanpa Sutiyoso mustahil kekusaan Soeharto berakir dua tahun kemudian.
Beathor yang kini bertugas di kantor Kepala Staf Kepresidenan mengatakan, peristiwa Kudatuli tidak bisa dibaca terpisah dari berbagai peristiwa politik yang terjadi sebelumnya di tanah air. Bahkan ia adalah salah satu episode penting dari gerakan melawan Orde Baru.
Sutiyoso, dan beberapa perwira tinggi TNI Angkatan Darat ketika itu, berada di balik perlawanan terhadap Soeharto. Kelompok Sutiyoso ini pada masa-masa itu aktif menggalang pertemuan dengan melibatkan tokoh-tokoh sipil untuk menggulingkan Soeharto.
"Di dalam sebuah rapat, Sutiyoso dengan tegas mengatakan dirinya siap pasang badan dan bertanggung jawab demi mengakhiri kekusaan Soeharto," ujar Beathor dalam perbincangan dengan redaksi.
Di era 1977/78, Orde Baru semakin represif. Gerakan mahasiswa dibungkam dengan kebijakan yang dikenal sebagai Normalisasi Kehidupan Kampus dan Badan Kordinasi Kampus atau NKK/ BKK.
"Karena tak bisa bergerak di dalam kampus, maka mahasiswa pun keluar dan melakukan perlawanan dengan metode mengadvokasi rakyat yang tertindas, umumnya dalam kasus agraria," kata Beathor.
Pada pertengahan 1980an Panglima ABRI LB Moerdani yang diikuti Try Soetriano sempat menyatakan kelahiran generasi keempat komunis.
Pada Desember 1990 cikal bakal Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) lahir dalam sebuah seminar di Malang. Ini membut konflik semakin besar antara kelompok militer ijo royo-royo dan kelompok militer merah-putih.
Keadaan semakin panas. Di pertengahan 1990an lahirlah berbagai elemen politik yang secara terang-terangan melawan Orde Baru, seperti Partai Rakyat Demokratik (PRD), juga Partai Uni Demokrasi Indonesia (PUDI). Belum lagi Orde Baru kemudian membreidel tiga media kritis ketika itu.
"Sampai akhirnya terjadi perpecahan di tubuh PDI yang semakin melambungkan nama Megawati sebagai ikon penantang Soeharto," masih kata Beathor.
Dia mengaku, tadinya dia juga punya pandangan bahwa Sutiyoso adalah orang yang harus bertanggung jawab dalam kerusuhan Kudatuli, sampai akhirnya dia mendapatkan banyak informasi sahih mengenai peranan Sutiyoso menggulingkan Soeharto.
"Ini juga sebabnya Sutiyoso selalu mendaptkan posisi strategis setiap kali PDIP berkuasa. Saat Mega menjadi Presiden RI, Sutiyoso dipercaya menjadi Gubernur DKI. Sekarang menjadi Kepala BIN," tambah Beathor.
"Melihat peranannya dalam kronik reformasi, saya kira Sutiyoso pantas disebut sebagai pahlawan reformasi, juga pantas dipercaya menjadi Kepala BIN," demikian Beathor.
[dem]