Kepala Staf Presiden Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Panjaitan mengaku bahagia mengawaki wadah baru di Kantor Kepresidenan yang bertugas membantu Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla.
Dia pun bernostalgia ikut membentuk Detasemen 81 Penanggulangan Teror saat bertugas di Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
"Kita tak mau negara rusak. Sekarang ini dunia sudah transparan. Kalau ada permainan macam-macam dengan fasilitas di Kantor Presiden ini, tak ada yang tidak diketahui," kata Luhut Panjaitan ketika melantik sejumlah pejabat dan tenaga professional di lingkungan Sekertariat Negara dan Staf Kepresidenan di Gedung III Setneg, Jakarta, Senin (1/6).
Luhut melantik dan mengambil sumpah 53 pejabat dan tenaga profesional terdiri enam tenaga ahli utama atau setingkat eselon I b, 14 tenaga ahli madya setingkat eselon IIa, 18 tenaga ahli muda atau setingkat eselon IIIa dan 15 tenaga terampil setingkat eselon IIIa.
Dalam sambutannya, Luhut menegaskan, Kantor Staf Presiden memiliki sejumlah fungsi di antaranya, pengendalian pembangunan sesuai visi dan misi presiden, upaya komprehensif pelaksanaan program, pemantauan, pengelolaan isu strategis maupun penyajian data-data.
"Saya ini bertugas 30 tahun lebih di militer. Yang terpenting, di samping seseorang pintar dibutuhkan sikap loyal yang mampu bekerja dalam tim," bebernya.
Menteri Perindustrian semasa era Presiden Gus Dur ini menguraikan lagi, ketika tahun 80-an membentuk detasemen 81 penanggulangan teror (Dengultor) di satuan Kopassus. Menurut Luhut, kedua tugas itu, saat dinas di militer maupun memimpin kantor kepala staf presiden memiliki kesamaan.
"Butuh kerja tim. Dulu jika terjadi kesalahan, bisa ada anak buah bisa tertembak. Sekarang ini, jika terjadi kesalahan punya dampak yang luas, karena negara bisa rusak," imbuhnya.
Sekalipun begitu, dia menambahkan, para staf di Kantor Kepresidenan tidak usah takut dan ragu-ragu menjalankan tugasnya . Yang penting, seluruh pejabat dan tenaga profesional mempelajari tugas pokok masing-masing dan menjalankannya sesuai koridor yang digariskan.
"Jika terjadi suatu kesalahan tapi sudah dilakukan secara professional sesuai koridor, apapun yang terjadi tanggungjawab saya," tandasnya.
Dia pun memesankan, para staf mengubah paradigma dengan menjalankan organisasi secara efisien dan efektif. [zul]