Berita

Menteri Kesehatan Nila F Moeloek/net

Menkes Nila Moeloek Ditunggu Orang Rimba

Kasus Kematian 11 Orang Suku Anak Dalam
KAMIS, 14 MEI 2015 | 07:37 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Sejak kunjungan Menteri Khofifah ke rumah rimba, tak ada lagi menteri Kabinet Kerja yang datang menengok dan peduli kesehatan orang rimba. Termasuk Menteri Kesehatan Nila F Moeloek pun belum pernah berkun­jung ke tempat ini.
 
Komnas HAM meminta pe­merintah, terutama Kementerian Kesehatan proaktif menyikapi kematian beruntun 11 Orang Rimba di Jambi. Faktor lingkun­gan yang sudah tidak layak dan akses kesehatan diduga menjadi penyebab kematian tersebut.

"Pemerintah sudah seyog­yanya melakukan komunikasi secara langsung dengan ko­munitas masyarakat adat yang saat ini berjumlah 3.900 jiwa. Supaya pemerintah tahu persis, bagaimana kebutuhan mereka," ujar Komisioner Komnas HAM, Siti Noor Laila kepada Rakyat Merdeka, kemarin.


Siti mengatakan, saat ini Komnas HAM sedang meny­usun rekomendasi kebijakan me­nyikapi temuan tersebut. Dalam rekomendasinya, Komnas HAMmeminta Kemenkes mulai me­mikirkan sebuah layanan kes­ehatan yang sesuai dengan kebu­tuhan Orang Rimba. "Kemenkes harus membuat jadwal rutin pemeriksaan, dan berkomu­nikasi dengan mereka mengenai pengobatan secara medis, serta menanyakan konsep pengobatan seperti apa yang dapat mereka terima," jelas dia.

Bicara mengenai Orang Rimba, sebutan lain untuk Suku Anak Dalam yang mendiami kawasan hutan Taman Nasional Bukit Dua Belas di provinsi Jambi, menurut Laila, tidak dapat dipandang dari kaca mata masyarakat umum. Orang Rimba memiliki tradisi dan tatanan kehidupan yang berbeda, seh­ingga kebutuhannya tidak dapat disamakan dengan masyarakat pada umumnya. Sementara, saat ini pemerintah terlihat hanya menyelesaikan persoalan den­gan perspektif mereka sendiri. Misalnya dengan digulirkan­nya wacana menjadikan Orang Rimba seperti masyarakat um­um. "Tidak fair jika pemerintah memaksakan pola hidup seperti kita (masyarakat modern) terh­adap mereka," tuturnya.

Dia mencontohkan, hingga saat ini, Orang Rimba masih memelihara tradisi Melangun, yaitu berpindah tempat tinggal bila ada anggota kelompoknya yang meninggal. Selain itu, Orang Rimba sangat menghin­dari kontak fisik dengan masyarakat luar.

Dalam hal perdagangan, lanjut dia, mereka juga masih men­genal sistem barter. Caranya dengan meletakkan barang atau hasil hutan di satu tempat, lalu menunggu warga desa mengam­bil meletakkan barang yang menjadi penukarnya. Hal itu dilakukan sebab bagi mereka, kontak fisik dengan warga diluar komunitasnya dipercaya sebagai siyal-sinyal pembawa bencana.

"Dengan kondisi semacam itu, saya kira akan sulit bagi mereka untuk menjadi seperti masyarakat pada umumnya, se­bagaimana yang diwacanakan oleh pemerintah. Maka dari itu, pemerintah harus memiliki cara untuk bisa memfasilitasi kebutu­han mereka," tandasnya.

Manager Komunikasi WARSI, Rudi Syaf menambahkan, sudah saatnya pemerintah melakukan aksi nyata, untuk memenuhi kebutuhan mereka. Sejak isu ini bergulir, hanya Menteri Sosial Khofifah Indarprawansa yang da­tang dan memberikan perhatian secara langsung. Baru-baru ini Dirjen Bina Usaha Kehutanan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan juga datang. Menteri Kesehatan(Menkes) Nila F Moeloek belum juga datang dan mengunjungi Orang Rimba.

"Tetapi itu belum cukup, karena sifatnya baru ceremo­nial belaka. Sekarang yang kami tunggu adalah tindakan selan­jutnya, terutama dalam bidang kesehatan," tukas dia.

Seperti diberitakan sebelum­nya, selama April 2015, sebanyak 11 Orang Rimba yang mendiami Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD) Jambi meninggal dan 26 orang dirawat di RSUD Hamba. Sebagian besar adalah anak-anak berusia dibawah 10 ta­hun. Berdasarkan hasil temuan Komnas HAM, telah terjadi pengabaian terhadap hak-hak dasar Orang Rimba yaitu hak keyakinan dan hak untuk ke­hidupan yang layak. ***

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Dicurigai Ada Kaitan Gibran dalam Proyek Sarjan di Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 00:40

UPDATE

Dana Asing Banjiri RI Rp2,43 Triliun di Akhir 2025

Sabtu, 03 Januari 2026 | 10:09

Pelaku Pasar Minyak Khawatirkan Pasokan Berlebih

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:48

Polisi Selidiki Kematian Tiga Orang di Rumah Kontrakan Warakas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:41

Kilau Emas Dunia Siap Tembus Level Psikologis Baru

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:19

Legislator Gerindra Dukung Pemanfaatan Kayu Hanyut Pascabanjir Sumatera

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:02

Korban Tewas Kecelakaan Lalu Lintas Tahun Baru di Thailand Tembus 145 Orang

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:51

Rekor Baru! BP Tapera Salurkan FLPP Tertinggi Sepanjang Sejarah di 2025

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:40

Wall Street Variatif di Awal 2026

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:23

Dolar AS Bangkit di Awal 2026, Akhiri Tren Pelemahan Beruntun

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:12

Iran Ancam Akan Targetkan Pangkalan AS di Timur Tengah Jika Ikut Campur Soal Demo

Sabtu, 03 Januari 2026 | 07:59

Selengkapnya