Berita

Bisnis

Bersiap Impor Beras, Pemerintah Berbohong Lagi

JUMAT, 08 MEI 2015 | 17:13 WIB | LAPORAN:

Kesiapan impor beras dari pemerintah Joko Widodo-Jusuf Kalla dengan alasan demi menjaga stok dan stabilitas harga beras menjelang puasa dan lebaran menunjukkan bukti kebohongan pada komitmennya menjalankan roda pemerintahan.

Demikian kritik anggota Badan Anggaran DPR sekaligus anggota Komisi IV DPR, Andi Akmal Pasluddin melalui keteragan tertulisnya, Jumat (8/5).

Padahal, pada kampanye Pilpres 2014 lalu, pasangan Jokowiâ€"JK telah mendeklarasikan tidak akan impor beras. Bahkan, setelah dilantik jadi presiden, Jokowi pada tanggal 26 Desember 2014, di depan petani kecamatan Bojong Jaya, Subang, Jawa Barat menyatakan rasa malunya ketika ditanya presiden Vietnam, kapan  mau beli beras Vietnam.


"Kini melalui Kementerian Perdagangan, kok pemerintah sudah menyatakan kesiapan untuk impor beras, yang berarti pemerintah sudah menyiapkan kebohongan terhadap janji-janji yang sudah dilontarkan kepada masyarakat," ujarnya.
 
Pemerintah saat ini, lanjut dia, telah ini berancang-ancang akan melakukan impor beras, dengan alasan, Bulog tidak sanggup menyerap beras petani sesuai kebutuhan nasional. Target Bulog yang seharusnya menyerap 2,7 juta ton beras petani, hanya mampu 20 persen saja sekitar 470 ribu ton. Padahal, semester awal tahun 2015 ini panen raya di mana Bulog berkesempatan menyerap beras petani minimal 65 persen.

"Sehingga, sangat perlu dipertanyakan kinerja Bulog sebagai penyerap beras petani dan Kementerian Pertanian sebagai penanggung jawab produksi, mengapa serapan beras di semester awal tahun ini sangat rendah," kritiknya.

Ia curiga adanya permainan data dan stok beras di lapangan supaya beras mahal dan langka di pasaran. Indikasi ini bisa saja terjadi agar pemerintah memiliki alasan kuat untuk melakukan impor beras. Karena impor beras ini cara yang sangat mudah untuk meraup keuntungan tanpa keluar keringat banyak.

Andi mengingatkan, tidak ada satupun rezim yang memerintah negara ini yang tidak impor beras.

"Impor beras sebenarnya tidak haram. Namun sebaiknya, yang diimpor itu beras premium saja," pungkasnya.[wid]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

DPR Paripurna Bahas RAPBN 2027 Hari Ini, Purbaya Dijadwalkan Hadir

Kamis, 02 Juli 2026 | 10:21

Indonesia Hidupkan Kembali Pusat Pelatihan Pertanian di Gambia

Kamis, 02 Juli 2026 | 10:20

Emas Antam Terbang Rp15.000, Satu Gram Jadi Rp2,64 Juta

Kamis, 02 Juli 2026 | 10:08

AS Desak SPBU Turunkan Harga Bensin Seiring Anjloknya Minyak Dunia

Kamis, 02 Juli 2026 | 10:00

Sanksi Tegas Harus Dijatuhkan ke Pihak yang Terlibat Kasus Helikopter KPU

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:47

Heddy Lugito Ungkap Peran Penting Media Massa bagi Eksistensi DKPP

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:40

IHSG Terbang 1,2 Persen, Rupiah Loyo Rp17.979 per Dolar AS

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:32

Purbaya Tegaskan Surat Utang Danantara Tak Buka Ruang TPPU

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:26

Penyaluran KPP Melesat, Pemerintah Tingkatkan Plafon Pembiayaan Jadi Rp50 Triliun

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:17

Prabowo Dijadwalkan Gelar Pertemuan Bilateral dengan Lukashenko Pagi Ini

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:08

Selengkapnya