Berita

jokowi/net

Ekonom: Jokowi Bukan Penyebab Ekonomi Melambat

Ekonomi Indonesia Sudah Turun Sejak 2012
JUMAT, 08 MEI 2015 | 10:45 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Pelambatan ekonomi saat ini tidak bisa dilihat dari satu sisi. Misalnya menyalahkan kinerja pemerintah semata, atau secara lebih spesifik menyudutkan Kementerian Keuangan.

Menurut ekonom Destry Damayanti, pelambatan ekonomi sebenarnya sudah terjadi sejak 2012. Pada tahun 2011, pertumbuhan ekonomi mencapai puncaknya, dengan angka 6,5 persen. Pada tahun 2012 turun menjadi 6,23 persen, lalu pada tahun 2013 turun menjadi 5,7 persen, pada tahun 2014 turun menjadi 5, 2 persen, dan memasuki kuartal pertama 2015 kini menjadi 4,7 persen.

"Di satu sisi, memang ada masalah struktur ekonomi kita yang harus dibedah. Ekonomi kita melambat, bertepatan dengan harga komoditi yang turun. Atau dengan kata lain, harga komiditi yang turun, akhirnya juga mempengaruhi ekonomi secara signifikan," kata Destry kepada Kantor Berita Politik RMOL beberapa saat lalu (Jumat, 8/5).


Di sisi yang lain, lanjut Destry, kondisi global juga sedang tidak terlalu baik. Amerika Serikat (AS) misalnya sudah bicara normalisasi kebijakan ekonomi yang menyebabkan ketidakpastian. Pun demikian dengan pertumbuhan  ekonomi China yang juga melambat, dan mencapai titik terendah.

"China baru di akhir kuartal ini mulai ada kejelasan dengan menurunkan suku bunga dan menaikkan stimulus," ungkap Destry.

Sisi lain lagi, lanjut Destry, adalah terkait dengan persoalan domestik Indonesia yang memasuki masa transisi. Bila saja tidak ada momentum transisi, artinya masih dalam satu pemerintahan, mungkin juga tidak akan terlalu turun. Di masa transisi misalnya, ada persoalan mengurus APBNP yang cukup komplek dibandingkan dalam kondisi biasa, juga ada perubahan nomenklatur di kementerian.

"Over all, tidak bisa melihat sisi kinerja pemerintah saja. Pelambatan ekonomi sudah lama, cuma karena baru terlihat sekarang, yang kesannya memburuk. Ada masalah struktur ekonoimi, kondisi global, persoalan domestik dan lain-lain. Maka kita kasih waktu dulu pemerintah bekerja," demikian Destry. [ysa]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

UPDATE

Beruang di Istana

Kamis, 30 April 2026 | 12:14

Rincian 13 Proyek Hilirisasi Bernilai Rp116 Triliun yang Baru Diresmikan Prabowo

Kamis, 30 April 2026 | 11:56

KPK Periksa Pejabat Pemkot Madiun dalam Kasus Dugaan Pemerasan Wali Kota Maidi

Kamis, 30 April 2026 | 11:43

Menteri PPPA Disorot Usai Minta Maaf, Dinilai Perlu Tingkatkan Sensitivitas dan Komunikasi Publik

Kamis, 30 April 2026 | 11:27

Arab Saudi Beri Asuransi Khusus Risiko Panas Saat Puncak Haji

Kamis, 30 April 2026 | 11:06

Bangkit dari Kubur! Friendster Sang Pelopor Medsos Resmi Kembali di 2026

Kamis, 30 April 2026 | 11:05

Hasil Komunikasi Dasco dengan Presiden Prabowo, Pemerintah Siapkan Rp 4 Triliun Perbaiki Perlintasan Kereta Api

Kamis, 30 April 2026 | 11:02

Harga Emas Antam Ambruk ke Rp2,7 Juta per Gram di Akhir Bulan

Kamis, 30 April 2026 | 10:50

Suami Bupati Pekalongan Dicecar KPK soal Aliran Uang Perusahaan Keluarga

Kamis, 30 April 2026 | 10:45

Prabowo Dijadwalkan Hadiri Puncak Hari Buruh di Monas Besok

Kamis, 30 April 2026 | 10:28

Selengkapnya