Berita

ilustrasi/net

Bisnis

Harga Baja Turun & Rupiah Loyo, Krakatau Steel Rugi Rp 552 M

Gejolak Ekonomi Pengaruhi Kinerja
RABU, 06 MEI 2015 | 08:27 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

PT Krakatau Steel Tbk mengalami kerugian bersih sebesar 42,28 juta dolar Amerika Serikat (AS), atau setara Rp 552 miliar. Kerugian dipicu oleh depresi nilai rupiah dan turunnya harga baja dunia.

Dari hasil laporan keuangan perseroan kuartal-I 2015, pe­rusahaan baja pelat merah itu mencatat rugi bersih sebesar 42,28 juta dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini sedikit menurun dibandingkan periode sebelum­nya sebesar 46,27 juta dolar AS, atau setara Rp 604 miliar. Namun perseroan optimistis target produksi bisa tercapai tahun ini.

"Meski perusahaan diterpa kondisi kurang baik sejak tahun lalu, perseroan tetap optimis target produksi pada tahun ini bisa meningkat," kata Direktur Utama Krakatau Stell Sukandar di Jakarta, kemarin.


Ia menuturkan, jika target produksi baja perusahaan milik negara pada tahun ini meningkat sebesar 26 persen, dari 2,3 juta ton pada tahun lalu, menjadi 2,9 juta ton di 2015.

Ia mengatakan, target yang in­gin dicapai Krakatau Steel tidak muluk-muluk di kondisi perse­roan yang tengah terpuruk. Pasal­nya, saat ini pemerintah tengah menggenjot pembangunan in­frastruktur secara besar-besaran, sehingga permintaan baja dari pemerintah akan meningkat.

"Pembangunan infrastruktur butuh steel dan semen. Mudah-mudahan itu akan membawa perbaikan bagi industri ke de­pan," ujar Sukandar.

Ia mengakui, selama ini per­mintaan baja terus menurun tiap tahunnya. Bahkan, penurunan tersebut cukup drastis, yakni mencapai angka 30-40 persen per tahunnya.

"Mudah-mudahan kondisi buruk ini temporer sehingga tahun ini kinerja perseroan bisa makin membaik," harap Sukandar.

Sementara Komisaris Kraka­tau Steel Roy E Maningkas me­minta pemerintah mendukung industri baja dalam negeri den­gan melakukan pengawasan leb­ih intens terhadap Tingkat Kand­ungan Dalam Negeri (TKDN) dalam proyek pengadaan pipa baja di industri dalam negeri. Yang terjadi saat ini, industri baja luar negeri mendominasi penjualan di dalam negeri.

"Penyebabnya adalah kurang berpihaknya perusahaan-pe­rusahaan pemilik proyek ke­pada industri baja dalam negeri." Karenanya, pemerintah perlu melakukan pemeriksaan yang mendalam terhadap TKDN dari para penyedia barang dan jasa dalam negeri.

Seperti diketahui, berdasarkan laporan keuangan Krakatau Steel yang disampaikan Bursa efek Indonesia, pendapatan bersih perseroan mengalami penurunan menjadi 352,02 juta dolar AS, atau Rp 4,5 triliun pada kuartal I 2015 dibandingkan periode sebelumnya sebesar 459,49 juta dolar AS, atau mencapai Rp 6 triliun.

Untungnya, beban pengeluar­an perseroan ikut turun menjadi 349,35 juta dolar AS, atau Rp 4,5 triliun pada kuartal I 2015, dari sebelumnya 448,93 juta dolar AS setara Rp 5,8 triliun.

Sedangkan kerugian tercatat sebesar 42,28 juta dolar Amerika Serikat (AS), atau Rp 552 miliar pada kuartal I 2015. Angka ini sedikit menurun dibandingkan rugi periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 46,27 juta dolar AS yakni Rp 604 miliar.

Sementara rugi operasional justru kembali naik tajam men­jadi 29,92 juta dolar AS, atau Rp 390 miliar pada kuartal I 2015 dari rugi operasional tahun sebe­lumnya yang sebesar 9,19 juta dolar AS atau Rp 120 miliar.

Namun, perseroan tertolong laba selisih kurs senilai 26,27 juta dolar AS, atau Rp 343 mil­iar dari sebelumnya rugi 14,35 juta dolar AS setara Rp 187 miliar. Hal tersebut, membuat rugi sebelum pajak turun jadi 43,72 juta dolar AS atau Rp 571 miliar dari rugi sebelum pajak tahun sebelumnya yang sebesar 54,11 juta dolar AS yakni Rp 706 miliar. ***

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

DPR Paripurna Bahas RAPBN 2027 Hari Ini, Purbaya Dijadwalkan Hadir

Kamis, 02 Juli 2026 | 10:21

Indonesia Hidupkan Kembali Pusat Pelatihan Pertanian di Gambia

Kamis, 02 Juli 2026 | 10:20

Emas Antam Terbang Rp15.000, Satu Gram Jadi Rp2,64 Juta

Kamis, 02 Juli 2026 | 10:08

AS Desak SPBU Turunkan Harga Bensin Seiring Anjloknya Minyak Dunia

Kamis, 02 Juli 2026 | 10:00

Sanksi Tegas Harus Dijatuhkan ke Pihak yang Terlibat Kasus Helikopter KPU

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:47

Heddy Lugito Ungkap Peran Penting Media Massa bagi Eksistensi DKPP

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:40

IHSG Terbang 1,2 Persen, Rupiah Loyo Rp17.979 per Dolar AS

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:32

Purbaya Tegaskan Surat Utang Danantara Tak Buka Ruang TPPU

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:26

Penyaluran KPP Melesat, Pemerintah Tingkatkan Plafon Pembiayaan Jadi Rp50 Triliun

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:17

Prabowo Dijadwalkan Gelar Pertemuan Bilateral dengan Lukashenko Pagi Ini

Kamis, 02 Juli 2026 | 09:08

Selengkapnya