Berita

sby/net

Politik

Jelang Kongres, Konsistensi SBY Sedang Diuji

SELASA, 28 APRIL 2015 | 08:51 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Menjelang Kongres III Partai Demokrat di Surabaya pada 11-13 Mei 2015, keseimbangan antara pikiran dan perbuatan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sedang diuji.

Pasalnya, saat SBY menjadi ketua umum pada Kongres Luar Biasa yang digelar di Bali akhir Maret 2013 lalu, SBY mengajukan sejumlah syarat, antara lain, dia hanya menjadi ketua umum untuk waktu yang terbatas.

"Jabatan ketua umum ini sifatnya benar-benar sementara dalam proses penyelamatan dan konsolidasi partai. Waktunya paling lama dua tahun. Bahkan kalau dapat, saya mengakhiri segera setalah pemilu selesai. Setelah itu kita jalankan dan laksanakan kongres yang reguler untuk memimpin ketua umum. Saya siap menjalankan tugas ini dalam rentangan waktu 1,2 tahun sampai 2 tahun," ujar SBY dalam rekaman yang dirangkum dan diedarkan di Youtube.


Namun jelang kongres saat ini, nama SBY kembali digadang-gadang untuk memimpin Partai Demokrat untuk periode mendatang, 2015-2020.

"Ini adalah ujian konsistensi SBY," ujar pengamat politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Pangi Syarwi Chaniago kepada redaksi, Selasa (28/4).

Pangi sangat setuju partai politik tidak lagi tergantung dengan figur sentral, tetapi harus mulai mengungulkan mesin suprastruktur.

"Menurut saya partai yang moderen dan cangih itu memang tidak lagi mengandalkan figur atau sosok tertentu, namun lebih membangun sistem kepartaian yang automatically, berjalan dengan mesin," sebutnya.

Menurut peneliti IndoStrategi ini, Pilpres 2004 yang mengantar SBY ke kursi RI 1 adalah kemenangan figur, bukan semata-mata karena mesin Partai Demokrat.

Pangi mengungkapkan, sosok SBY pada waktu itu membuat rakyat terhipnotis memilihnya menjadi presiden karena kegantengan dan kelihatan lebih pintar. Begitu juga pemilu 2009, sosok SBY memberi insentif yang luar biasa. Demokrat menjadikan SBY sebagai komoditas politik pendulang suara. Hasilnya Demokrat memenangkan pileg dan pilpres 2009.

"Sosok SBY tsunami demokrat dan mengalahkan dan dominan menang. Menariknya lagi, caleg caleg demokrat yang menjadikan SBY sebagai komoditas politik tiba-tiba bisa menang pemilihan anggota DPRD propinsi dan DPR, dengan menjual foto SBY di spanduk, awalnya tak begitu dikenal, tiba-tiba bisa terpilih karena pada waktu itu hebatnya magnet SBY," katanya. [rus]

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Indeks Kecakapan Bahasa Inggris di Indonesia Masih Rendah, Ini Sebabnya

Selasa, 09 Juni 2026 | 22:16

Putusan Kasasi MA Sengketa Lahan Digugat, Prinsipal Lapor Badan Pengawas

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:53

KPK dan Polri Ternyata Lakukan Joint Investigation dalam OTT Bupati Muara Enim

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:44

Badak Kalimantan Terakhir di Alam Liar Segera Dievakuasi

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:16

Nadiem Kecewa Replik Jaksa Abaikan Fakta Persidangan

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:05

Budi Bantah Ditawari Jadi Menkeu: Sekarang Masih Menkes!

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:00

Citizen Lawsuit, Rangkap Jabatan Otto Hasibuan Digugat ke Pengadilan

Selasa, 09 Juni 2026 | 20:52

DEN Ingatkan Risiko Inflasi Imbas Rupiah Melemah

Selasa, 09 Juni 2026 | 20:45

Besok Prabowo ke Lampung, Tinjau RSUD Krui

Selasa, 09 Juni 2026 | 20:36

Luhut: 80 Persen Data Pemerintah Sudah Terhubung Lewat GovTech Berbasis AI

Selasa, 09 Juni 2026 | 20:21

Selengkapnya