Berita

Politik

Empat Menteri Layak Dicopot Jokowi

SELASA, 21 APRIL 2015 | 19:32 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Usul agar Presiden Joko Widodo mereshuffle Kabinet Kerja terus disuarakan.

Labor Institute Indonesia mencatat menteri yang harus dicopot antara lain Menaker Hanif Dakhiri, Menteri BUMN Rini Sumarno, Menteri ESDM Sudirman Said dan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.

"Mereka tidak profesional menjalankan tugas memimpin kementerian," kata analis ekonomi dan politik Labor Institute Indonesia, Andy William Sinaga dalam keterangannya, Selasa (21/4).


Indikator ketidakprofesionalan Menaker Hanif Dhakiri ditunjukkan dari tidak cakapnya dia dalam mengatur tata laksana dan perlindungan tenaga kerja Indonesia (TKI) di luar negeri.

Hanif gagal mencegah hukuman mati bagi TKI di Arab Saudi. Hanif juga terbukti telah gagal menjalankan program 'Tri Layak' yang pernah diusung oleh Jokowi ketika kampanye Pilpres di depan para buruh, yaitu hidup layah, upah layak, dan kerja layak.

"Selain itu, grafik konflik hubungan industrial di Indonesia masih cukup tinggi seperti anti serikat buruh, konflik pengupahan, dan sistem kerja alih daya atau outsourcing," papar Andy.

Sementara itu, Menteri Sudirman Said layak dicopot karena kebijakan yang dibuatnya tidak membela kepentingan rakyat. Terbaru, dia mengusulkan kepada Presiden Jokowi untuk mengeluarkan Perpu Minerba terutama berisi pembatalan atas kewajiban perusahaan tambang membangun smelter yang justru dapat menyerap tenaga kerja.

"Dia juga terbukti tidak mampu menjelaskan kepada masyarakat tentang kenaikan harga BBM sebanyak dua kali, sehingga beban ekonomi masyarakat semakin berat," imbuh Andy.

Kemudian menteri yang kurang profesional sehingga harus dicopot adalah Menteri BUMN Rini Soemarno. Enam bulan menjabat sebagai menteri, tidak ada terobosan yang dilakukan oleh Rini terhadap pengembangan BUMN menjadi BUMN yang lebih profesional.

Alih-alih itu, Menteri Rini malah melakukan politisasi terhadap perusahaan pelat merah papan atas terbukti dengan menempatkan politikus partai dan orang yang tidak memiliki pemahaman mumpuni sebagai komisaris di sejumlah BUMN.

Kasus penarikan 1300 traktor dari petani di Ponorogo, Jawa Timur jadi bukti ketidakprofesionalan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.

Meskipun beberapa hari setelah penarikan traktor-traktor tersebut kembali diserahkan kepada para petani, namun hal itu dilakukan setelah meluasnya kritik dari publik karena sebelumnya sudah diserah terimakan oleh Presiden Jokowi.

"Kejadian ini mengesankan Menteri Pertanian tidak profesional dalam mengatur anak buahnya," imbuh dia.

Dikatakan, saat ini Jokowi layak melakukaan evaluasi terhadap para menterinya. Menteri berapor merah harus diganti.

"Dengan begitu menteri-menteri di kabinet kerja adalah menteri-menteri yang berbobot dan sebagai "dream team" dalam mendukung program Nawa Cita," tukas Andy.[dem]

Populer

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Oknum Brimob Jadi Tersangka, KPK Pastikan Sanksi Pidana hingga Etik Menanti

Jumat, 31 Juli 2026 | 13:44

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Terkejut Mantan Ajudan Jadi Tersangka KPK, Alexander Marwata Kenang Kinerja Dias

Kamis, 30 Juli 2026 | 11:52

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

UPDATE

Polri Didesak Usut Donatur Penyebar Hoaks Kerusuhan Agustus

Minggu, 09 Agustus 2026 | 17:47

Zelensky Klaim 50 Ribu Tentara Korut Sedang Dalam Perjalanan ke Rusia

Minggu, 09 Agustus 2026 | 17:24

Ekonomi Indonesia Mustahil Saingi Vietnam jika Abaikan Sektor Luar Negeri

Minggu, 09 Agustus 2026 | 17:23

Rezim Hubungan Industrial Maritim Indonesia Belum Terintegrasi

Minggu, 09 Agustus 2026 | 17:14

KPK Kuliti Ahmad Dedi Usut Dugaan Pengaturan Jalur Merah-Hijau Impor Blueray

Minggu, 09 Agustus 2026 | 16:51

Iran Waspadai Pakta Pertahanan Mekkah Bentukan Turki, Saudi, dan Pakistan

Minggu, 09 Agustus 2026 | 16:29

Kejari Tanjung Perak Bantah Isu Pemerasan 6 Eks Pejabat Pelindo dan APBS

Minggu, 09 Agustus 2026 | 15:36

Penguatan Kopdes Merah Putih Kunci Kemandirian Ekonomi Papua

Minggu, 09 Agustus 2026 | 15:08

Turki Tegaskan Pakta Pertahanan Mekkah Dibentuk Bukan untuk Hadapi Iran

Minggu, 09 Agustus 2026 | 14:53

Usai Putusan MK, Siaga 98 Dorong Penataan BGN Lewat Perpres Baru

Minggu, 09 Agustus 2026 | 14:36

Selengkapnya