Berita

11 Alasan Universitas Moestopo Menganugerahkan Gelar Guru Bangsa ke SBY

SENIN, 20 APRIL 2015 | 14:35 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Setidaknya ada sebelas alasan Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama) memberikan anugerah gelar Guru Bangsa kepada mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Terutama terkait jasa-jasanya kepada Negara Republik Indonesia.

"Sebagai guru bangsa, bapak SBY dinilai mempunyai wawasan yang luas, seorang pemikir, punya kearifan untuk mengatasi persoalan bangsa dan motivator bagi generasi muda," ungkap Rektor Universitas Prof Dr Moestopo Jakarta, Prof. Dr. H. Sunarto, M.S.dalam rilisnya Senin (20/4).

Pengukuhan gelar tersebut dilangsungkan pada Kamis kemarin (16/4) bersamaan dengan pelaksanaan wisuda.


"Pertama, Bapak SBY jelas memiliki penguasaan keilmuan dan pengalaman yang luas dan juga kearifan yang nyata dalam menghadapi dan menyelesaikan berbagai macam permasalahan bangsa. Karenanya Bapak SBY juga memiliki otoritas untuk mengajak orang lain memperoleh pendidikan dan pencerahan," jelas Prof. Sunarto membeberkan alasan pertama dari 11 11 alasan mengapa SBY mendapat gelar Guru Bangsa.

Kedua, SBY dengan kearifannya mengajarkan pikiran-pikiran dan konsep-konsep tentang kejernihan berpikir dan kesantunan berperilaku, membangun kerukunan dan harmoni kehidupan bangsa, penegakan hukum secara adil, dan membangun hubungan kehidupan antar bangsa yang harmonis.

Ketiga, SBY secara konsisten terus menerus memberikan semangat dan motivasi bagi generasi muda untuk memajukan negerinya dalam mewujudkan masa depan bangsa yang lebih baik. Keempat, SBY telah menunjukkan kemampuannya dalam membimbing dan menyelamatkan bangsa dari berbagai krisis, sehingga berhasil menemukan jalan kehidupan yang lebih terang lebih maju dalam persaingan global.

Kelima, SBY telah menjadi figur pemimpin tempat banyak pihak, baik dari dalam maupun luar negeri untuk meminta nasehat maupun berbagi pengalaman dalam menghadapi berbagai permasalahan bangsa.

"Keenam, banyak yang patut ditiru dari bapak SBY tentang komitmen dan konsistensi nya dalam mengemban tugas dan pengabdiannya, baik dalam ucapan, sikap maupun tindakannya. Dengan sabar bapak SBY terus mengemban tugas meskipun kerap menghadapi kritik dan hujatan dalam alam keterbukaan dan kebebasan yang luas di Indonesia," imbuhnya.

Ketujuh, SBY selama ini telah menunjukkan sikap kenegarawanannya dalam mengemban tugas dan pengabdiannya, mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi, golongan dan partai, yang tercermin dalam kearifannya dalam mengelola berbagai persoalan dan suasana kritis yang kerap terjadi di negeri kita.

Kedelapan dalam kapasitasnya sebagai salah satu World Leaders, sebagai Presiden, SBY aktif berperan dan berkontribusi nyata bagi terjaganya perdamaian dan keamanan internasional, termasuk resolusi konflik, serta agenda-agenda global lainnya.

Kesembilan adalah merupakan fakta bahwa dunia telah menunjukkan kepercayaanya yang tinggi atas kepemimpinan dan keteladanan SBY. SBY telah menerima banyak penghargaan dari berbagai institusi dan komunitas Internasioanal. SBY juga menerima 10 (sepuluh) gelar Doktor Honoris Causa dari berbagai Universitas, dalam dan luar negeri.

Kesepuluh, setelah selesai mengemban tugas sebagai Presiden Republik Indonesia, SBY memperoleh kepercayaan untuk menduduki sejumlah jabatan baru. Seperti menjadi Presiden and Chairman Global Green Growth Institute (GGGI) hingga saat menjadi guru besar Universitas Pertahanan Indonesia di bidang Ketahanan Nasional.

"Kesebelas Bapak SBY telah menulis buku dan artikel, serta menulis puisi dan menciptakan lagu yang sarat dengan pesan-pesan moral dan kebajikan. Tanpa henti Bapak SBY mengajak saudara nya rakyat Indonesia, untuk bersikap optimis, berfikir positif dan memiliki semangat harus bisa dalam membangun bangsa. Tulisan dan lagunya penuh dengan nilai-nilai kasih sayang, kerukunan dan toleransi, cinta tanah air, politik yang beretika kecintaan terhadap lingkungan dan sebagainya," tandasnya.[zul]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

KPK Periksa Sejumlah Pejabat BPK di Kasus Suap Audit Pemkab Muara Enim

Senin, 14 September 2026 | 14:27

Pembukaan Rekening Massal Bikin Fiskal Pemerintah Makin Tertekan

Senin, 14 September 2026 | 14:26

Menteri Haji Minta Jemaah Bersiap, Biaya Haji Ditargetkan Tuntas Sepekan

Senin, 14 September 2026 | 14:16

Pembunuh Wanita Muda di Kamar Hotel di Tanah Abang Dibekuk

Senin, 14 September 2026 | 14:12

Megaproyek Northern Metropolis Ambisi Hong Kong Cetak Pusat Ekonomi Baru

Senin, 14 September 2026 | 14:09

Dolar AS Jadi Aset Paling Aman Setahun ke Depan

Senin, 14 September 2026 | 14:01

Mantan Aspri Ridwan Kamil Dipanggil KPK

Senin, 14 September 2026 | 14:01

Mobil Listrik China Mulai Jadi Favorit, JAECOO dan BYD Adu Penjualan

Senin, 14 September 2026 | 13:56

Kemenhaj Kawal Keberangkatan 282 Jemaah Umrah PT AAT Mulai 15 September

Senin, 14 September 2026 | 13:48

Kenaikan Harga Cabai Tak Picu Inflasi di Jakarta

Senin, 14 September 2026 | 13:48

Selengkapnya