Berita

haris rusly moti/net

Pemimpin Tak Punya Pemahaman Mendalam Masalah Bangsa Rentan Berkhianat

Menuju Satu Semester Pemerintahan Jokowi-JK
SENIN, 13 APRIL 2015 | 13:10 WIB | OLEH: HARIS RUSLY MOTI

KONSISTENSI seorang pemimpin itu lahir dan dibentuk dari pemahaman mendalamnya terhadap masalah rakyat dan bangsa serta sejarah pengorbanannya memperjuangkan cita-cita tertinggi yang membawannya ke ambang batas antara hidup dengan mati.

Para nabi serta seluruh pejuang bangsa & kemanusian adalah guru yang hidup, mengajarkan kita melalui pengetahuan dan pengorbanannya. Karena itu, walaupun sejak usia muda Bung Karno dikenal berpenampilan 'parlente', namun karena pengorbanannya membebaskan Indonesia dari penjajahan, maka kata-katanya hidup & bernyawa hingga hari ini.

Tjokroaminoto, Bung Karno, Bung Hatta, Pak Dirman, Pak Nasution, dan lain-lain. Mereka sangat paham terhadap masalah yg sedang dihadapi oleh rakyat dan bangsa. Mereka ditempa melewati fase-fase pengorbanan dan keberanian mengambil resiko, jadi pasti teguh dalam keyakinan, tak gampang diombang-ambingkan oleh keadaan politik yang dinamis bagaikan gelombang di lautan luas.


Bahkan mereka yang sangat paham dengan keadaan rakyat dan bangsa, serta punya keyakinan dan sejarah berkorban saja bisa lupa diri dan tak konsisten, apalagi yang tak paham masalah dan tak punya sejarah berkorban".

Jokowi sendiri hadir sebagai presiden tak membawa sebuah gagasan besar, hanya sebagai bonekanya event organizer, lembaga survei dan perusahaan PR, yang semua programnya dibiayai oleh pengusaha.

Bahkan seluruh pidato dan artikelnya Jokowi dibuat oleh tim sukses. Jokowi tak punya sejarah pengorbanan seperti yang pernah dialami oleh Megawati dan Gus Dur, makanya selalu bingung setiap menghadapi masalah.

Pemimpin yang tak punya pemahaman mendalam terhadap masalah bangsa dan tak punya sejarah berkorban untuk rakyat adalah yang paling rentan berkhianat pada ucapan dan janji-janjinya.

Pancasila adalah kita, Trisakti untuk kita.[***]

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Karyawan dan Konsultan Pajak Hasnur Group Dipanggil KPK Terkait Kasus Restitusi Pajak

Kamis, 09 April 2026 | 12:18

GAMKI: Ceramah Jusuf Kalla Menyakiti Umat Kristen

Senin, 13 April 2026 | 08:21

UPDATE

Serentak di Tiga Lokasi, KPK Periksa Pegawai Kemenag dan Bos Travel

Jumat, 17 April 2026 | 14:16

Waspadai Phishing dan Malware, BNI Tekankan Keamanan BNIdirect

Jumat, 17 April 2026 | 14:15

Bitcoin Stabil di Level 74.900 Dolar AS

Jumat, 17 April 2026 | 14:11

Ekonomi Jatim Tumbuh 5,33 Persen di 2025, Didongkrak Sektor Manufaktur

Jumat, 17 April 2026 | 14:05

KPK Periksa Direktur Kepatuhan Bank Papua dalam Kasus Korupsi Dana Operasional Papua

Jumat, 17 April 2026 | 14:01

Rekrutmen Manajer Kopdes Tak Boleh Ada Titipan

Jumat, 17 April 2026 | 13:50

Kasus Chat Cabul Mahasiswa Merebak di IPB, DPR Minta Kampus Bertindak Tegas

Jumat, 17 April 2026 | 13:41

Penahanan Harga BBM Non-Subsidi Dikhawatirkan Ganggu Kesehatan Fiskal

Jumat, 17 April 2026 | 13:39

PPIH Ujung Tombak Keberhasilan Penyelenggaraan Haji

Jumat, 17 April 2026 | 13:31

KPK Temukan Dapur MBG Tak Layak, Kasus Keracunan Jadi Alarm Serius

Jumat, 17 April 2026 | 13:22

Selengkapnya