Berita

kim jong un/net

Mengapa Ada Anggapan Kim Jong Un akan ke Bandung

MINGGU, 05 APRIL 2015 | 21:36 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Kim Jong Un memegang dua posisi kunci di Korea Utara yang memantapkan posisinya sebagai pemimpin tertinggi negeri itu. Kedua posisi kunci itu adalah Sekretaris Jenderal Partai Pekerja dan Ketua Komisi Pertahanan Nasional.

Selain Partai Pekerja dan Komisi Pertahanan Nasional ada satu lagi lembaga tinggi di Korea Utara, yakni Majelis Tertinggi Rakyat yang dipimpin seorang ketua yang disebut presiden. Sejak 1998, Majelis ini dipimpin Kim Yong Nam, salah seorang sahabat pendiri Korea Utara, Kim Il Sung.

Majelis Tertinggi Rakyat memiliki tiga organ penting, yakni Presidium, Kabinet dan Kejaksaan.


"Lembaga ini merupakan lembaga pemerintah, dan ketuanya sering juga disebut sebagai presiden," ujar Sekjen Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Korea Utara, Teguh Santosa, dalam perbincangan dengan redaksi barusan.

Teguh mengatakan, perbedaan sistem politik antara Indonesia dan Korea Utara inilah yang kelihatannya memunculkan spekulasi Kim Jong Un akan datang ke Bandung untuk menghadiri peringatan Konferensi Asia Afrika (KAA).

"Kelihatannya setiap kali disebutkan Presiden Korea Utara, secara otomatis kita yang mendengar langsung mengasosiasikannya dengan Kim Jong Un, karena kita menggunakan sistem politik kita sebagai patokan. Padahal Kim Jong Un bukan presiden. Dia adalah Ketua Komisi Pertahanan Nasional dan mendapat gelar resmi Marshal Kim Jong Un," jelas Teguh.

Posisi Kim Jong Un, sambung dosen FISIP UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta ini, berada di atas Partai Pekerja, Komisi Pertahanan Nasional dan Majelis Rakyat Tertinggi.

"Karena itu, seperti kakek dan ayahnya dia disebut sebagai pemimpin tertinggi," ujar Teguh lagi.

Teguh mengatakan, pihak Kedubes Korea Utara di Jakarta telah memastikan bahwa delegasi Korut dalam peringatan KAA itu akan dipimpin oleh Presiden Kim Yong Nam. Selain itu, Kementerian Luar Negeri RI pun mengirimkan surat undangan untuk Kim Yong Nam, bukan untuk Kim Jong Un. [dem]

Populer

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Jaksa Watch Lapor KPK, Ada Dugaan Penyalahgunaan Aset Sitaan Korupsi

Jumat, 17 April 2026 | 17:46

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Pengamat Endus Isu Pemakzulan Presiden Didesain Wapres

Kamis, 16 April 2026 | 00:32

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

Eksepsi Mardiono terkait Gugatan Muktamar PPP Ditolak PN Jakpus

Kamis, 16 April 2026 | 18:10

UPDATE

Khalid Basalamah Ngaku Hanya jadi Korban di Kasus Yaqut

Kamis, 23 April 2026 | 20:16

Laba BCA Tembus Rp14,7 Triliun

Kamis, 23 April 2026 | 20:10

Singapura Masih jadi Investor Terbesar RI, Suntik Rp79 Triliun di Awal 2026

Kamis, 23 April 2026 | 20:04

TNI-Polri Buru Anggota OPM Penembak ASN di Yahukimo

Kamis, 23 April 2026 | 19:43

Hilirisasi Sumbang Rp147,5 Triliun Investasi di Triwulan I 2026

Kamis, 23 April 2026 | 19:26

Bareskrim Gandeng FBI Buru Ribuan Pembeli Alat Phising Ilegal

Kamis, 23 April 2026 | 19:17

Jemaah Haji Terima Uang Saku 750 Riyal dari BPKH

Kamis, 23 April 2026 | 19:15

Data Rosan Ungkap Investasi RI Lepas dari Cengkeraman Jawa-Sentris

Kamis, 23 April 2026 | 19:02

PLN Pastikan Listrik Jakarta Sudah Pulih 100 Persen

Kamis, 23 April 2026 | 18:56

Idrus Marham Sindir JK: Jangan Klaim Jasa, Biarlah Sejarah Menilai

Kamis, 23 April 2026 | 18:41

Selengkapnya