Berita

hidayat nur wahid/net

Hidayat Nur Wahid: Sosialisasi 4 Pilar MPR Bukan Kegiatan Remeh Temeh

RABU, 01 APRIL 2015 | 01:32 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid hadir dalam kegiatan sosialisasi Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika di Universitas Negeri Jakarta, Selasa (31/3). Dalam kesempatan itu Hidayat menegaskan bahwa kegiatan sosialisasi tidak ada kaitannya dengan partai politik. Sosialisasi yang digelar merupakan sebuah semangat keindonesiaan.

"Kita hadir di sini sebagai pimpinan MPR," ujar dia di hadapan ratusan mahasiswa yang memadati Aula Brigjen Latief Hendraningrat, Gedung Dewi Sartika, Universitas Negeri Jakarta, Rawamangun, Jakarta.

Menurut dia MPR diberi tugas untuk memasyarakatkan apa yang terjadi dengan perubahan di UUD 1945 sebagai buah dari reformasi. Dan jika perubahan-perubahan ini tidak disosialisasikan maka bagaimana rakyat akan mengetahuinya.


"Untuk itu acara sosialisasi bukan acara remeh temeh," tegasnya dihadapan mahasiswa lintas fakultas itu.

Menurut Hidayat Nur Wahid, sosialisasi merupakan kegiatan yang konstitusional karena dilakukan oleh lembaga yang konstitusional, MPR. Meski MPR diberi tugas untuk mensosialisasikan namun MPR tidak sendiri. MPR mengajak presiden untuk ikut juga mensosialisasikan.

Dikatakan lebih lanjut oleh Hidayat Nur Wahid, MPR di periode sekarang membahas nama kegiatan yang diselenggarakan ini sebab sebutan Sosialisasi 4 Pilar pernah digugat oleh masyarakat ke MK. Mereka menggugat sebab menyamaratakan Pancasila dengan yang lain.

Diakui nama 4 Pilar sudah sangat familiar dan terkenal. Untuk itu antara MPR dan MK melakukan kompromi sehingga sosialisasi yang dilakukan bernama Sosialiasi 4 Pilar MPR dengan Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara, UUD NRI Tahun 1945 sebagai konstitusi negara, NKRI sebagai bentuk negara, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan negara.

Lebih lanjut Hidayat mengatakan bila kita bicara Pancasila seolah-olah itu adalah indoktrinasi. Padahal menurut Hidayat Nur Wahid tidaklah demikian. Kalau dilihat dari sila sila yang ada betapa hidupnya Pancasila. Kesalahan persepsi pada Pancasila bisa jadi karena pengalaman pada masa lalu pada masa Orde Baru, di mana Pancasila dijadikan alat penekan kepada masyarakat yang kritis pada pemerintah.

"Pada masa Orde Baru Pancasila diharuskan jadi azas tunggal organisasi," ujarnya.

"Padahal pada masa Bung Karno, Pancasila tak dijadikan azas tunggal, justru kalau menjadikan azas tunggal akan merendahkan Pancasila," sambung dia.[dem]


Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

UPDATE

Adab di Atas Selebrasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 04:12

Belgia vs Mesir Berbagi Skor 1-1

Selasa, 16 Juni 2026 | 04:10

Pidato Bernuansa Sindiran Berpotensi Memicu Reaksi Balik Publik

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:39

Membongkar Skandal #SellIndonesia, Hebatnya Rupiah Menguat

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:19

Edura School Jawab Tantangan Guru di Era Digital

Selasa, 16 Juni 2026 | 03:03

SEI Bongkar Dampak Kebijakan Batu Bara Bahlil: Pasokan Tersendat, Listrik Alami Gangguan!

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:37

Mahfud MD: UU Polri Abaikan Komisi Reformasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:24

ART Indonesia Disiksa Mirip Samsak Tinju di Malaysia

Selasa, 16 Juni 2026 | 02:01

Kerja Prabowo Sudah Bagus, tapi Jangan Pidato Meledek Lagi

Selasa, 16 Juni 2026 | 01:29

Sambut 1 Muharam Setop Saling Fitnah dan Provokasi

Selasa, 16 Juni 2026 | 01:25

Selengkapnya