Berita

ilustrasi/net

Jokowi dan Rajawali WS. Rendra

SELASA, 10 FEBRUARI 2015 | 17:54 WIB | OLEH: FRITZ E. SIMANDJUNTAK

SEBUAH sangkar besi tidak bisa mengubah rajawali menjadi seekor burung nuri

Rajawali adalah pacar langit dan di dalam sangkar besi Rajawali merasa pasti bahwa langit akan selalu menanti

Langit tanpa Rajawali adalah keluasan dan kebebasan tanpa sukma


Tujuh langit, tujuh rajawali tujuh cakrawala, tujuh pengembara

Rajawali terbang tinggi memasuki sepi memandang dunia

Rajawali di sangkar besi duduk bertapa mengolah hidupnya

Hidup adalah merjan-merjan kemungkinan yang terjadi dari keringat matahari

tanpa kemantapan hati Rajawali mata kita hanya melihat matamorgana

Rajawali terbang tinggi membela langit dengan setia

Dan ia akan mematuk kedua matamu

Wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka



Sajak W.S Rendra di atas dibuat pertengahan tahun 1970 an, saat kebebasan berpendapat untuk menuntut keadilan dibelenggu oleh rejim Soeharto. Tidak sedikit aktivis mahasiswa dan kaum muda intelektual dijebloskan ke penjara karena mereka berani bersuara lantang tentang ketidakadilan. Bahkan kreativitas dan kebebasan organisasi kemahasiswaanpun dibelenggu oleh kebijakan NKK/BKK Menteri Pendidikan Daud Joesoef tahun 1978.  

Rendra menggunakan Burung "Rajawali" dalam puisinya karena "Rajawali" sering didentikkan dengan orang-orang yang memiliki kepribadian pemberani dan pejuang tanpa kenal menyerah. Melalui pusinya tersebut Rendra terus berharap agar mahasiswa dan aktivis lainnya terus berani berjuang melawan ketidakadilan meskipun pemerintah telah membelenggu organisasi mahasiswa.

Puisi Rajawali Rendra tersebut sangat tepat bila kita ingin melihat dan memahami situasi dan kondisi Presiden Jokowi belakangan ini.

Saat masih menjadi Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta, Rajawali Jokowi terbang cukup tinggi menjelajah luas langit daerahnya yang tidak terlalu luas untuk memahami kondisi rakyat di bawahnya. Masyarakat menyebut program menjelajah langit tersebut sebagai "blusukan".

Sesaat kembali mendarat ke bumi, sang Rajawali Jokowi langsung mengeluarkan kebijakan "pro rakyat kecil" dan segera bisa dilaksanakan oleh jajarannya. Melalui program blusukan dan dialog tersebut pula Jokowi mampu menyelesaikan beberapa persoalan penting di masyarakat dengan damai.

Namun saat Jokowi menjadi Presiden RI ke 7, langit yang harus dijangkau Rajawali Jokowi ternyata jauh lebih luas. Demikian juga kompleksitas permasalahan dan tantangan yang dihadapinya. Blusukan ternyata tidak cukup memberikan jawaban terang mengenai permasalahan yang ada di masyarakat.  

Program yang diinginkan Jokowi juga tidak mudah dilaksanakan. Ada DPR yang dikuasai oleh pihak oposisi KMP. Di sekeliling Jokowi ada Partai dan elite politik KIH yang haus kekuasaan. Ada pula relawan yang mengharapkan durian runtuh untuk bisa berada di lingkaran satu Jokowi seperti saat berkampanye. Tidak ketinggalan, kelompok pengusaha yang telah memberikan dana selama masa kampanye dan ternyata juga memiliki kepentingan tersendiri.  

Kesemua kepentingan tersebut telah membawa Rajawali Jokowi ke sangkar besi dan cenderung mengubahnya menjadi seekor burung nuri.  Tapi seperti Rendra katakan bahwa pacarnya Jokowi adalah langit luas atau seluruh rakyat Indonesia. Karena sebenarnya, melalui suara pacarnya itulah Jokowi berhasil menjadi Presiden RI ke 7.  

Rendra menyatakan langit tanpa Rajawali adalah keluasan dan kebebasan tanpa sukma.  Demi pacarnya sang langit atau rakyatnya itu pula Rajawali Jokowi berjanji menyerahkan marwahnya dan membangun sukma melalui program Nawa Cita.

Rajawali Jokowi sadar untuk mewujudkan program Nawa Cita kepada sang pacar, Jokowi membutuhkan Rajawali-Rajawali yang juga kuat, berani, jujur, dan selalu mengedepankan kepentingan pacarnya serta bersedia melepaskan atribut partai, organisasi maupun perusahaan. Tim yang dibangun Jokowi kemudian disebut sebagai Kabinet Kerja.

Namun pada kenyataannya Rajawali Jokowi cukup sulit menemukan burung Rajawali lainnya. Karena saat mulai mencari personil tim di Kabinet Kerja, di samping ada upaya dari pendukungnya baik langsung maupun tidak langsung ingin menjadikan Rajawali Jokowi menjadi burung nuri dan berada dalam sangkar besi mereka. Juga banyak kandidat yang diajukan ternyata tidak perkasa atau bersih dari dugaan korupsi.

Proses itu mulai terlihat saat pembentukan tim transisi, pengajuan kandidat menteri, kerjasama minyak dengan Angola, penetapan Jaksa Agung , penetapan BG sebagai Kapolri. Dan terakhir, saat Jokowi menyaksikan langsung penandatanganan kerjasama mobil nasional dengan Proton. Semua momen tersebut telah membuat hiruk pikuk politik dan silang pendapat di antara lingkaran Jokowi sendiri. Dalam beberapa kejadian, Jokowi harus memberikan klarifikasi agar situasi politik lebih tenang.

Kejadian yang paling menonjol adalah saat penunjukan Komjen Budi Gunawan (BG) sebagai Kapolri yang langsung disetujui oleh DPR.  Namun karena KPK menjadikan BG sebagai tersangka, maka terlihat sekali kegamangan Jokowi dalam menyelesaikan persoalan tersebut.  

Akhirnya Jokowi harus menunda pelantikan BG, dan membentuk tim Independen, melakukan pendekatan dengan pimpinan oposisi KMP Prabowo Subianto, berdialog dengan mantan Presiden Habibie, serta meminta pendapat Dewan Pertimbangan Presiden.  Hingga saat ini, masih belum jelas keputusan yang akan diambil oleh Jokowi dalam kasus BG ini.

Saat penandatanganan kerjasama antara PT Adiperkasa Citra Lestari yang dipimpin A.M. Hendropriyono dengan CEO Proton Datuk Abdul Harith Abdullah, yang disaksikan oleh Mahathir, Najib Razak dan Jokowi terlihat jelas pada "backdrop" tulisan "Indonesia National Car".  Dan dalam penjelasan ke media di Kuala Lumpur jelas-jelas istilah proyek mobil nasional dilontarkan oleh kedua belah pihak.  

Tapi setelah mendapat protes dan kritikan dari masyarakat di Indonesia, baik Hendropriyono maupun Jokowi terpaksa melakukan koreksi dengan membantah bahwa penandatangan tersebut bukan untuk membangun proyek mobil nasional. Melainkan kerjasama bisnis semata.

Atas segala kejadian tersebut, kita berharap agar Jokowi kembali menjadi seekor burung Rajawali.  Konon ada cerita yang menyatakan bahwa penglihatan Rajawali sangat jauh dan tajam dibandingkan manusia biasa. Foto reseptor di retina Rajawali lebih dari 1.000.000 per mm persegi seekor Buteo, sedangkan manusia hanya 200.000.  Mata Rajawali Jokowi harus kembali mampu melihat jelas apa yang terjadi di sekitarnya.

Melalui ketajaman matanya tersebut Rajawali Jokowi harus selalu terhubung dengan langit yang luas. karena sang langit bukan hanya dijelajahi atau dipacari saja. Sang langit rakyatnya harus dibela mati-matian oleh Rajawali Jokowi seperti yang diungkapkan oleh Rendra.

Apabila ada yang ingin mencemari langit dengan menyakiti sang pacar atau menjadikannya seekor burung nuri.  Maka betapapun sang Rajawali Jokowi bisa saja mematuk kedua mata kelompok durhaka tersebut.

Sungguh suatu momen yang indah bagi sang langit yang juga pacar Rajawali Jokowi yaitu seluruh rakyat Indonesia, apabila di setiap awal pidatonya Jokowi menyatakan sebagai berikut: "Sebagai Presiden Republik Indonesia dan petugas negeri yang kita cintai ini maka saya dan seterusnya........".  

Atas sikap tegas tersebut, maka dengan gagah berani pula langit akan membela dan melindungi mati-matian sang Rajawali Jokowi dari segala mara bahaya.

Fritz E. Simandjuntak
Sosiolog dan tinggal di Jakarta

Populer

Cara Cek BLT Kesra Oktober 2026 Rp900.000, Lewat Cek Bansos Kemensos

Minggu, 25 Oktober 2026 | 17:52

KPK Dalami Keterlibatan Bobby Nasution dalam Kasus Korupsi Proyek Jalan Sumut

Jumat, 23 Oktober 2026 | 09:19

Transjabodetabek Blok M-Bandung Jadi Cara Pramono Sindir KDM

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 23:44

Menteri Warisan Jokowi akan Bersih dari Kabinet Prabowo pada 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 | 23:29

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Pencopotan Agus Suparmanto dan Taj Yasin Bukan Keinginan Ketum PPP

Kamis, 29 Oktober 2026 | 11:16

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

UPDATE

Kapolres Sukoharjo Dicopot Usai Penggerebekan Pesantren

Senin, 02 November 2026 | 18:26

DPR Gandeng Kementerian PPPA Dorong Gerakan Nasional Antibullying

Senin, 02 November 2026 | 18:20

Gibran Ingatkan Ancaman Hoaks terhadap Kerukunan Masyarakat

Senin, 02 November 2026 | 18:06

Antisipasi Gangguan Selat Hormuz, Chandra Asri Bangun Fasilitas Pengganti Nafta

Senin, 02 November 2026 | 18:02

Program Kemenag Harus Sejalan dengan Visi-Misi Prabowo

Senin, 02 November 2026 | 17:41

Kemenhaj Rekrut Tenaga Pendukung untuk Urus Visa Haji 2027

Senin, 02 November 2026 | 17:34

Ahmad Doli Harap Pimpinan Parpol Segera Bertemu Bahas Gibran

Senin, 02 November 2026 | 17:31

Gibran Tetap Blusukan ke Daerah di Tengah Polemik Putusan MA dan MK

Senin, 02 November 2026 | 17:25

Kesejahteraan Rakyat di Daerah Tambang Nikel Harus jadi Perhatian Pemerintah

Senin, 02 November 2026 | 17:09

Cegah Kekerasan di Pesantren, Kemenag Buka Pelatihan Daring melalui MOOC Pintar

Senin, 02 November 2026 | 17:02

Selengkapnya