Berita

Indonesia Butuh Polisi Siber untuk Memberantas Pornografi

SELASA, 10 FEBRUARI 2015 | 02:39 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Pemerintah harus segera membuat gebrakan dan terobosan yang komprehensif, salah satunya membentuk polisi siber dengan menggandeng masyarakat. Karena penyebaran konten pornografi paling masif via intenet dan telepon seluler (ponsel).

Demikian disampaikan Wakil Ketua Komite III DPD RI Fahira Idris menanggapi pernyataan Menteri Sosial (Mensos) Khofifah Indar Parawansa yang menyebut Indonesia sudah masuk darurat pornografi, sebab biaya belanja pornografi sepanjang 2014 mencapai Rp50 triliun.

"Ini sudah darurat. Perempuan dan anak lah yang paling banyak menderita akibat begitu mudahnya konten pornografi di dapat di negeri ini. Pemerintah baru ini, saya lihat belum ada gregetnya. Saatnya kita punya polisi siber," ujar Fahira dalam keterangannya (Selasa, 10/2).


Menurutnya, penyebaran konten pornografi bisa dicegah jika saja pemerintah bisa menggandeng masyarakat terutama pengguna internet untuk bergerak bersama-sama memberantas konten atau situs porno sampai ke akar-akarnya. Pelibatan masyarakat menjadi penting, karena konten porno seperti jamur di musim hujan yang akan terus muncul.

Pemerintah gandeng masyarakat, jadikan mereka polisi-polisi siber untuk memantau dan melaporkan jika ditemukan konten atau situs porno terutama di dunia maya. Saya rasa kalau paradigmanya perlindungan anak dan perempuan, masyarakat akan sukarela membantu,” tegas Ketua Yayasan Anak Bangsa Berdaya dan Mandiri ini.

Di satu sisi, pemerintah dalam hal ini kepolisian harus juga bisa bertindak cepat jika menemukan atau menidaklanjuti laporan masyarakat terkait konten porno. Lacak IP Address-nya, identifikasi punya siapa dan siapa pengelolanya, tangkap, hukum berat agar jera. Untuk konten yang berasal dari luar, segera diblokir. Saya rasa Polri kita punya sumber daya yang mumpuni untuk melakukan ini. Masa kalah canggih sama pemilik dan pengelola konten porno,” ucap senator asal Jakarta ini.

Bahkan di Tiongkok, lanjut Fahira, pemerintahnya memberi hadiah bagi warganya yang secara aktif melaporkan dan melacak IP address situs porno. Di Indonesia, bisnis pornografi sudah menyasar anak dan remaja. Masyarakat wajib dilibatkan, karena selain ini persoalan bangsa, pemerintah juga tidak mungkin memberantasnya sendiri.

Selain itu, terobosan lain yang patut dilakukan adalah sanski yang tegas baik hukum maupun sosial bagi semua yang terkait dalam konten porno mulai dari pemilik/pengelola situs, pelaku, dan penyebarnya.

Mereka harus dihukum maksimal, karena menjadi biang kejahatan seksual yang merusak masa depan akan-anak kita. Sementara untuk pelaku kekerasan seksual terutama kepada anak-anak, sejak awal saya sudah usul hukuman seumur hidup bahkan hukuman mati. Efek jera penting, agar mereka berpikir dua sebelum melakukan kejahatan ini. Kekerasan seksual apalagi terhadap anak adalah kejahatan kemanusian,” tegas Fahira.

Fahira menyarankan agar pemberantasan pornografi juga harus jadi gerakan nasional sama halnya dengan korupsi. Publik juga harus memberi sanksi sosial bagi mereka-meraka yang terlibat dalam pembuatan dan penyebaran pornografi yang merusak generasi muda.

Jangan seperti sekarang, pelaku pornografi yang kebetulan publik figur, bisa senyum-senyum di layar kaca. Harus ada sanksi sosial, dan itu tugas kita sebagai masyarakat,” ujarnya.


Walau sudah ada Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi dan Gugus Tugas Pencegahan dan Penanganan Pornografi yang beranggotakan menteri-menteri dan lembaga terkait, tetapi hingga saat ini belum terdengar gebrakannya.

Saat era SBY, Gugus Tugas ini dibawah koordinasi Menko Kesra. Sekarang saya tidak tahu bagaimana nasib gugus tugas ini. Karena saya amati dan dapat banyak laporan dari masyarakat, konten pornografi di negeri ini terutama via internet dan telepon seluler semakin menjadi saja,” tutup Fahira. [zul]

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

UPDATE

Tak Pandang Bulu, Prabowo Akui Serahkan Dadan ke Kejaksaan

Kamis, 17 September 2026 | 12:29

MGBKI Soroti Isu Pendidikan Dokter Spesialis

Kamis, 17 September 2026 | 12:21

Prabowo Tugaskan Bahlil Bahas RUU Migas, SKK Migas Bisa Bubar!

Kamis, 17 September 2026 | 12:15

MNK Rokan Resmi Jadi Pionir Pengembanga Migas Nonkonvensional Indonesia

Kamis, 17 September 2026 | 12:13

Dasco Pastikan Seluruh Parpol Dilibatkan dalam Pembahasan Lanjutan RUU Pemilu

Kamis, 17 September 2026 | 12:00

Ternyata Prabowo Suka Evidence-Based

Kamis, 17 September 2026 | 12:00

SMEC Perluas Akses Layanan Kesehatan Mata

Kamis, 17 September 2026 | 11:50

Berjalan Beriringan, Operasi PLTP Tak Pengaruhi Situs Waruga di Tomohon

Kamis, 17 September 2026 | 11:43

Optimalisasi Sumur Sepinggan V-7: PHKT Genjot Produksi Migas Lampaui Target

Kamis, 17 September 2026 | 11:35

Prabowo Ungkap Bakal Ada Investasi Besar-besaran Masuk RI

Kamis, 17 September 2026 | 11:19

Selengkapnya