Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon, mempertanyakan kerjasama Indonesia dengan produsen mobil dari Malaysia, Proton, untuk melahirkan industri mobil nasional.
Fadli menanyakan, bagaimana dengan mimpi Joko Widodo sebelum menjadi presiden, untuk mengangkat mobil Esemka menjadi mobil nasional.
Menurut dia Proton bukan program pemerintah, tapi swasta. Jadi kerjasama dengan Proton adalah business to business (B to B), bukan Government to Government (G to G).
"Siapapun yang ingin kerjasama dengan Indonesia kita hargai. Presiden dukung swasta bagus saja, tapi yang jadi persoalan adalah dahulu dia (Jokowi) mau Esemka. Itu bagaimana?" gugat Fadli saat ditemui di gedung DPR RI Senayan, Jakarta, Senin (9/2).
Mobil nasional sendiri, sambung Fadli, bukan berarti mobil pemerintah melainkan mobil negara. Mobil nasional pun bukan proyek negara.
"Tapi kalau ada
transfer of technology dan kemudian jadi mobil yang bisa dirakit di Indonesia, saya kira sah-sah saja. Tapi sekali lagi, mengenai Esemka bagaimana nasibnya? Apakah ini selesai, enggak jadi atau gimana?," ungkap Fadli.
Semasa jadi Wali Kota Solo, Jokowi menjadi duta mobil Esemka yang adalah buatan pelajar Solo. Namun, perkembangan Esemka nyaris tak terdengar lagi setelah Jokowi menjadi Gubernur DKI Jakarta pada Oktober 2012 dan menjadi Presiden RI.
Banyak pihak berpendapat bahwa Jokowi hanya memanfaatkan Esemka sebagai tunggangan untuk pencitraan politiknya.
[ald]