Berita

foto: Koperasi

Politik

Koperasi di Australia Tak Ingin Budi Gunawan Jadi Kapolri

SENIN, 02 FEBRUARI 2015 | 08:15 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Penolakan terhadap pencalonan Komjen Budi Gunawan sebagai Kapolri juga datang dari negeri tetangga Australia.

Masyarakat dan mahasiswa Indonesia di Brisbane, Queensland, yang tergabung dalam Komunitas Peduli Demokrasi dan Anti-Korupsi (Koperasi) hari Sabtu (31/1) menggelar pertemuan untuk membahas perkembangan pencalonan Budi Gunawan dan tekanan yang dialami Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang telah menetapkan BG sebagai tersangka dalam kasus gratifikasi yang membuat rekeningnya gendut.

Diskusi terbuka dengan tema "Polemik KPK-Polri: Quo Vadis Pemberantasan Korupsi?" digelar Perhimpunan Pelajar Indonesia Australia di University of Queensland (PPIA UQ) dan menghadirkan Pan Mohamad Faiz dan Noel Pranoto sebagai pembicara.


Koperasi mendesak Presiden Joko Widodo mencabut pencalonan BG, juga meminta DPR RI mencabut dukungan untuk pencalonan itu.

Hanya perwira tinggi Polri yang berintegritas, bebas dari masalah hukum, dan mendukung amanat reformasi dalam pemberantasan korupsi yang pantas jadi Kapolri.

Koperasi juga memberikan dukungan untuk memperkuat KPK sebagai ujung tombakpemberantasan korupsi dan menolak segala upaya melemahkan KPK.

Kedua lembaga penegak hukum itu, Polri dan KPK, menurut mereka harus bebas dari intervensi kepentingan politik.

"Kisruh yang terjadi sekarang ini berawal dari pencalonan Kapolri oleh Presiden yang di tengah prosesnya ditetapkan menjadi tersangka oleh KPK. Ironisnya, permasalahan menjadi semakin pelik ketika DPR menyetujui pencalonan tersebut dengan dalih mekanisme prosedural pencalonan," jelas Faiz dalam keterangan yang diterima redaksi.

Faiz adalah kandidat Doktor Hukum Tata Negara dari University of Queensland yang juga mantan Ketua Umum PPI Australia.

Sementara Noel Pranoto menguraikan bahwa KPK kerap dilanda konflik dengan lembaga penegak hukum lain dalam pemberantasan korupsi, sebagaimana juga terjadi di negara-negara lain. Salah satu konflik tersebut berujung pada upaya memperlemah KPK dalam menuntaskan kasus-kasus korupsi yang besar.

"Perlu dipikirkan penguatan KPK agar tidak mudah dikriminalisasi saat menuntaskan perkara korupsi. Bentuknya bisa impunitas terbatas atau persetujuan Presiden sebelum Komisionernya dijadikan tersangka," urai mantan aktivis 98 yang telah sembilan tahun tinggal di Australia sebagai tenaga profesional.

Salah seorang peserta diskusi, Fiona Suwana, meminta Presiden Jokowi segera mengambil tindakan tegas.

"Jangan sampai ada penundaan lagi yang bisa semakin memperkeruh situasi seperti sekarang ini," ujar mahasiswi bidang Media and Communication di Queensland University of Technology (QUT) itu. [dem]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

UPDATE

PDIP Duga Ada Pengerahan Komcad Saat Pengamanan Demo Mahasiswa, Ini Penjelasannya

Senin, 15 Juni 2026 | 08:19

Bursa Asia Hijau Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 08:12

Harga Minyak Dunia Rontok Usai Trump Umumkan Kesepakatan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:54

Harga Logam Mulia Melonjak, Emas Mendekati Rekor Baru

Senin, 15 Juni 2026 | 07:42

AS dan Iran Bakal Teken Perjanjian Damai di Swiss Jumat Ini

Senin, 15 Juni 2026 | 07:26

Pemerintah Dorong Susu Hadir Setiap Hari dalam Program MBG

Senin, 15 Juni 2026 | 07:15

Trump Klaim Amankan Kesepakatan Damai Terbesar dengan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:00

Pengelolaan Blok Andaman Diusulkan Pakai Skema Hybrid

Senin, 15 Juni 2026 | 06:50

Dokter Tifa Dukung Prabowo Pimpin RI Tanpa Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 06:27

Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor

Senin, 15 Juni 2026 | 06:23

Selengkapnya