Berita

jokowi dan megawati

Politik

Jokowi dan Mega Pun Saling Sandera

SENIN, 02 FEBRUARI 2015 | 07:48 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Hubungan Presiden Joko Widodo dan PDI Perjuangan yang mengusungnya dalam Pilpres 2014 lalu semakin panas.

Keputusan Jokowi menunda pelantikan Komjen Budi Gunawan menjadi Kapolri dapat juag dibaca sebagai upaya Jokowi menantang Megawati yang begitu menginginkan mantan ajudannya itu duduk di kursi Tri Brata Satu (TB-1).

Sejak silang sengkarut jabatan Kapolri ini bergulir pun Jokowi sudah melemparkan bola panas ke kubu pertahanan Mega. Begitu publik mengecam pencalonan BG yang telah ditetapkan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai tersangka, Jokowi cepat-cepat memberi isyarat bahwa Mega lah yang menginginkan BG jadi Kapolri.


Tidak itu saja, Jokowi juga mengundang sejumlah tokoh sepuh untuk memberikan pendapat mengenai pencalonan BG. Dalam hal ini, Jokowi meminjam mulut tokoh-tokoh sepuh itu untuk menyerang balik Mega yang sejak sudah dicitrakan sebagai tokoh di balik pencalonan BG.

Jokowi juga bermain api dengan mengundang Prabowo Subianto ke Istana Bogor. Banyak pendapat yang mengatakan bahwa pertemuan Jokowi dan mantan seterunya dalam Pilpres 2014 itu adalah sinyal kuat bahwa Jokowi tidak selemah yang dibayangkan Megawati dan petinggi PDIP lainnya.

Artinya, Jokowi tidak akan sungkan-sungkan mengambil langkah ekstrem untuk, misalnya, melepaskan diri dari belenggu PDIP dan bergabung dengan Partai Gerindra atau kubu KMP.

Permainan semakin menarik, manakala Puan Maharani yang selama ini dianggap kaku dalam berpolitik mulai mengambil peran.

Kemarin (Minggu, 1/2), Puan duduk bersama tokoh-tokoh KMP di sebuah perhelatan di Jakarta. Tidak tanggung=tanggung, Puan Maharani dikelilingi tokoh-tokoh kunci KMP, Prabowo Subianto, Hatta Rajasa, Aburizal Bakrie, Fachri Hamzah, Anis Matta.

Ada banyak kesan yang bisa dibaca dari pertemuan Puan dengan tokoh-tokoh kunci KMP ini. Tetapi untuk sementara yang paling kasat mata dan bold adalah kesan bahwa pertemuan itu bisa dikembangkan ke arah yang lebih menguntungkan PDIP dan kubu Megawati dalam permainan politik menghadapi Jokowi.

Singkatnya, ini adalah pesan, Jokowi bisa benar-benar sendiri bila terus melawan keinginan Megawati. [dem]

Populer

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

Kasus MBG Melebar, Tersangka Sebut 30 Tokoh Besar Terlibat

Sabtu, 06 Juni 2026 | 23:39

UPDATE

PDIP Duga Ada Pengerahan Komcad Saat Pengamanan Demo Mahasiswa, Ini Penjelasannya

Senin, 15 Juni 2026 | 08:19

Bursa Asia Hijau Sambut Kesepakatan Damai AS-Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 08:12

Harga Minyak Dunia Rontok Usai Trump Umumkan Kesepakatan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:54

Harga Logam Mulia Melonjak, Emas Mendekati Rekor Baru

Senin, 15 Juni 2026 | 07:42

AS dan Iran Bakal Teken Perjanjian Damai di Swiss Jumat Ini

Senin, 15 Juni 2026 | 07:26

Pemerintah Dorong Susu Hadir Setiap Hari dalam Program MBG

Senin, 15 Juni 2026 | 07:15

Trump Klaim Amankan Kesepakatan Damai Terbesar dengan Iran

Senin, 15 Juni 2026 | 07:00

Pengelolaan Blok Andaman Diusulkan Pakai Skema Hybrid

Senin, 15 Juni 2026 | 06:50

Dokter Tifa Dukung Prabowo Pimpin RI Tanpa Gibran

Senin, 15 Juni 2026 | 06:27

Suap di Bea Cukai Sangat Mengerikan, Bukti Negeri Ini Semakin Busuk oleh Koruptor

Senin, 15 Juni 2026 | 06:23

Selengkapnya