Berita

ilustrasi

Bisnis

Infrastruktur Pertanian Dukung Program Swasembada Pangan

SENIN, 26 JANUARI 2015 | 09:12 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Berbagai kendala dan kekurangan dalam sektor perta­nian akan menjadi penghambat target swasembada pangan. Na­mun, pembangunan infrastruk­tur akan menjadi kunci keber­hasilan swasembada.

"Menteri Pertanian harus fokus pada pembangunan infrastruktur pertanian dan memangkas biaya-biaya tinggi yang dikeluarkan petani yang menyebabkan ke­sulitan," kata Direktur Eksekutif Indonesia Institute for Democ­racy and Public Policy Taufan Hunneman.

Menurut Taufan, pemer­intah juga bisa melibatkan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dalam mencapai swasembada seperti mem­produksi pupuk dan benih serta permodalan.


Dia juga mengingatkan pemerintah soal masih banyak berkeliarannya mafia di sek­tor bisnis dan pendistribusian hasil pertanian.

"Banyak mafia di sektor pertanian dari mafia gula yang sering kali mempermainkan harga dan mafia yang mengua­sai jalur distribusi pangan," ungkap Taufan.

Menteri Desa, Daerah Tert­inggal dan Transmigrasi Mar­wan Jafar mengatakan, Desa Mandiri berbasis pertanian, menjadi salah satu prioritas program pemerintah ke de­pan. Hal ini mengingat target pemerintah untuk mencapai swasembada pangan dalam tiga tahun mendatang.

Pemberdayaan Desa Mandiri berbasis pertanian, imbuh Mar­wan, akan menerapkan pola pertanian terpadu. Misalnya, den­gan memperbanyak penggunaan pupuk organik yang nantinya akan dibuat atau diproduksi oleh masyarakat desa.

Selain bisa memangkas ketergantungan terhadap pu­puk pabrik, imbuh Marwan, dengan memproduksi kompos yang digunakan untuk usaha pertanian maka akan banyak keuntungan yang didapat.

Menteri Pertanian Amran Sulaiman mengatakan, ke­menteriannya menggandeng Institut Pertanian Bogor (IPB) demi memperlancar program swasembada pangan, teru­tama beras. Hal itu dilakukan mengingat swasembada pangan perlu dukungan berbagai pihak termasuk perguruan tinggi.

Menurut Amran, indikator keberhasilan swasembada pan­gan terlihat dengan tidak adanya impor beras atau substitusi impor, meski dalam WTO (World Trade Organization) masih dimung­kinkan adanya ruang impor. Untuk itu, pihaknya akan men­dorong ekspor beras sehingga neraca perdagangan beras Indo­nesia menjadi surplus. *** 

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Jokowi Intervensi Prabowo soal Kabinet Jelang Pelantikan Presiden

Jumat, 03 Juli 2026 | 06:13

Sehina-hinanya, Serendah-rendahnya

Jumat, 03 Juli 2026 | 05:48

Rezim Baru dan Kelahiran Organisasi Pemuda Paramiliter

Jumat, 03 Juli 2026 | 05:41

Satu Polisi Tewas Dibacok saat Gerebek Bandar Sabu di Katingan

Jumat, 03 Juli 2026 | 05:18

Jokowi Kecewa Berat Roy Suryo-Dokter Tifa Tak Ditahan

Jumat, 03 Juli 2026 | 05:15

Jokowi Tidak Rela Kehilangan Kekuasaan

Jumat, 03 Juli 2026 | 04:26

Spanyol Lolos ke 16 Besar setelah Gasak Austria 3-0

Jumat, 03 Juli 2026 | 04:12

Raja Juli Antoni Dituntut Terbuka soal Kasus Bupati Kuansing

Jumat, 03 Juli 2026 | 04:03

Flyover Latumenten Bisa Kurangi Kemacetan 40 Persen

Jumat, 03 Juli 2026 | 03:30

Sangat Aneh Kejaksaan Belum Periksa Jokowi

Jumat, 03 Juli 2026 | 03:17

Selengkapnya