Untuk mengatasi beragam masalah kebangsaan seperti kemiskinan, bencana alam, korupsi, konflik dan kekerasan, Indonesia perlu mengembangkan gerakan kepemimpinan yang bertumpu pada nilai-nilai etis dan kerendahhatian (tawadhu). Cita-cita ini mesti menjadi sebuah gerakan bersama yang dimulai dari para pemimpin, di tingkat lokal hingga nasional.
Demikian dikatakan Inayah Wahid, puteri keempat sekaligus Panitia 5 Tahun Wafatnya KH. Abdurrahman Wahid melalui siaran persnya di Jakarta, Jumat (26/12).
"Selama ini kita sering disuguhkan tontotan tingkah pemimpin, di tingkat nasional maupun daerah yang memamerkan kemewahan dan tindakan yang bertolak belakang antara perkataan dan perbuatan. Ada pemimpin yang kekayaannya menumpuk di tengah hidup warganya yang menghadapi busung lapar," tutur Inayah memberi alasan tentang tema kepemimpinan etis dan tawadhu yang diangkat dalam kegiatan 5 Tahun Wafatnya KH. Abdurrahman Wahid.
Jika tujuan dasar pemimpin adalah memenuhi kepentingan umat, jelas Inayah, maka seorang pemimpin harus betul-betul mengerti dan peka terhadap apa yang dirasakan umat yang dipimpinnya.
"Menurut kami sekeluarga, tema kepemimpinan etis dan tawadlu ini penting untuk dimunculkan tahun ini karena pergantian kepemimpinan di Indonesia. Ini pengingat bagi para pemimpin agar dalam kepemimpinannya mereka tawadlu kepada kepentingan umat. Kepentingan umatlah yang utama. Bukan kepentingan diri sendiri atau kelompok," paparnya melalui siaran persnya yang diterima redaksi, Jumat (26/12).
Dengan pegangan nilai-nilai etis itu, lanjut Inayah, seorang pemimpin akan berani mengambil resiko dan terobosan agar nilai-nilai etis bisa dicapai. Menurut koordinator Positive Movement ini, itulah pelajaran yang diambil dari sikap dan perjuangan sanga ayahanda yang melakukan beberapa terobosan ketika menjadi Presiden.
Misalnya, mencabut larangan perayaan Imlek bagi etnis Tionghoa, mengembalikan nama dari Irian Barat menjadi Papua, meminta pengampunan bagi buruh migran yang dihukum mati, menandatangani UU pengadilan HAM, dan lain-lain. Gus Dur, demikian sapaan akrabnya, selalu mengutip kaidah kebijakan pemimpin terhadap rakyatnya, bergantung pada kemaslahatan atau kesejahteraanâ€.
Dalam mengambil kebijakan, Gus Dur berusaha mengutamakan kepentingan rakyat ketimbang kelompok. Bahkan ketika kepentingan kelompok berbenturan dengan kepentingan masyarakat, beliau memilih melaksanakan kepentingan masyarakat luas, daripada kelompoknya. Inilah yang kami harapkan dapat diadopsi oleh pemerintahan yang baru ini," tambahnya.
Tahun ini, tradisi tahunan keluarga mantan Presiden RI ke-4 itu akan digelar Sabtu besok (27/12), di rumah keluarga besar KH Abdurrahman Wahid, Ciganjur, Jakarta Selatan. Selain pembacaan tahlil oleh pengasuh Pesantren Al-Aziziyah Denanyar Jombang, Jawa Timur KH. Azis Masyhuri, acara tersebut juga akan diisi testimoni tentang kehidupan presiden ke-4 RI tersebut. Di antaranya penampilan dari pelawak Mohamad Syakirun alias Kirun dan penulis Presiden Gus Dur Untold Stories, Priyo Sambadha. Sementara taushiyah, ceramah agama akan dibawakan Si Celurit Emas dari Madura: KH. Dzawawi Imron.
Acara akan dimeriahkan pula dengan tarian sufi, pertunjukan lukisan bayangan pasir oleh seniman asal bandung Ja'far Fauzan, dan pembacaan puisi Arab yang dibuat khusus KH. Husein Muhammad, murid Gus Dur yang juga mantan komisioner Komnas Perempuan. (AMDJ)
.[wid]