Berita

ilustrasi/net

Bisnis

Cukup Enam Direktur untuk Pertamina!

SELASA, 09 DESEMBER 2014 | 02:32 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA


RMOL. Reformasi tata kelola Migas pada Pertamina akan mampu menjadikan Pertamina sebagai perusahaan energi kelas dunia dan tertutup dari incaran dan peran mafia migas. Namun sudah seharunya, reformasi tata kelola migas di Pertamina dilakukan antara lain dengan melakukan perampingan komposisi direktur di perusahan minyak pelat merah itu.

Untuk diketahui, di masa Pemerintahan SBY posisi direktur Pertamina diisi 9 orang,  yakni Direktur Utama, Direktur Hulu, Direktur Pemasaran dan Niaga, Direktur Pengolahan, Direktur Gas, Direktur Keuangan, Direktur Perencanaan Investasi dan Manajemen Resiko (PIMR) , Direktur Sumber Daya Manusia (SDM) dan Direktur Umum.

"Menteri BUMN sebaiknya melebur direktorat umum dan direktor SDM. Fungsi kedua direktorat ini pada dasarnya merupakan direktorat penunjang atau supporting function. Adanya dua direktorat pada fungsi bisnis support terkesan hanya diada-adakan untuk bagi-bagi jabatan," ujar pengamat kebijakan energi Sofyano Zakaria dalam keterangannya kepada Kantor Berita Politik , Senin (8/12).

"Menteri BUMN sebaiknya melebur direktorat umum dan direktor SDM. Fungsi kedua direktorat ini pada dasarnya merupakan direktorat penunjang atau supporting function. Adanya dua direktorat pada fungsi bisnis support terkesan hanya diada-adakan untuk bagi-bagi jabatan," ujar pengamat kebijakan energi Sofyano Zakaria dalam keterangannya kepada Kantor Berita Politik , Senin (8/12).

"Sangat tepat jika kedua direktorat itu digabung menjadi bussines support directorate. Penggabungan sekaligus bisa melahirkan efisiensi," sambung Sofyano.

Sebaliknya, kata Sofyano, pemisahan antara direktorat gas dengan direktorat hulu sudah tepat. Pemisahan ini dikatakan tepat bila dikaitkan dengan upaya Pertamina mengembangan energi baru untuk menggantikan energi fosil, dan kebutuhan besar ekplorasi cadangan gas ketimbang minyak.   

Sementara untuk meminimalisir peluang peran mafia migas di Pertamina, fungsi pengolahan dan fungsi pemasaran niaga mesti digabung menjadi fungsi hilir atau down stream function. Menurut Sofyano, fungsi pada kedua direktorat ini paling diincar oleh mafia migas sebab fungsi pengolahan di Pertamina berkaitan dengan import crude oil dan nafta sebagai bahan baku utama untuk proses pengilangan BBM, sementara impor BBM berkaitan dengan fungsi pemasaran dan niaga.

Selama ini mafia migas selalu berupaya mempengaruhi kebijakan Pemerintah untuk menghalangi digabungnya dua fungsi ini. Dengan begitu akan mudah bagi mereka mempengaruhi salah satu fungsi untuk mendukung bisnis mereka. Dengan digabungnya dua direktorat ini pada satu pimpinan akan memudahkan pemerintah melakukan kendali dan monitoring supply chain yang berkaitan pasokan BBM nasional dan  ketahanan energi nasional.

"Penggabungan direktorat pemasaran dengan direktorat pengolahan menjadi direktorat hilir yang dipimpin oleh seorang leader akan menghilangkan friksi terkait transfeer price,  losses dan biaya pokok BBM," papar Sofyano lagi.

Lebih lanjut dikatakan dia, direktorat fungsi pengolahan pada dasarnya merupakan fungsi yang membawahi kilang-kilang BBM. Direktorat pengolahan 100% berperan untuk mensupport atau sebagai pemasok BBM dan petrokimia bagi direktorat pemasaran. Karenanya dengan disatukannya kedua fungsi ini dipastikan akan mampu memberikan kontribusi besar bagi Pertamina dan negara.

"Jika saat ini Pemerintah baru mengangkat satu orang Direktur Utama dan tiga orang direktur untuk BUMN Pertamina, maka sebaiknya Pemerintah menambah jumlah direktur yang ada dengan menambah direktur Gas serta direktur SDM-Umum sehingga jumlah direktur di Pertamina akan berjumlah 6 orang direktur saja," paparnya.

Sebaiknya, kata dia lagi, untuk direktur tambahan pada Pertamina, Menteri BUMN mengangkat internal Pertamina sebagai direktur  Gas dan Direktur SDM-Umum. Orang Pertamina harus diberi kepercayaan yang lebih ketimbang pihak external. Hal ini untuk meminimalkan resistensi dan anggapan bahwa penempatan orang luar pertamina adalah untuk kepentingan politik dari Jokowi maupun parpol pendukungnya sekaligus  untuk meminimized resistensi penolakan dari pihak pekerja Pertamina.

"Internal Pertamina banyak yang mumpuni dan teruji sanggup jadi Direktur di Pertamina. Penempatan semaksimal mungkin orang Pertamina sebagai direksi juga pertanda bahwa pola pengkarieran di Pertamina telah berjalan dengan baik," demikian Sofyano.[dem]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya