Berita

Michel Martelly:net

Dunia

Ribuan Orang Turun ke Jalan Tuntut Presiden Mundur

SABTU, 29 NOVEMBER 2014 | 15:26 WIB | LAPORAN: SHOFFA A FAJRIYAH

Ribuan orang turun ke jalan. Mereka menuntut presiden mundur karena terus mengulur waktu pemilihan legislatif (Pileg) dan pemilihan kepala daerah (Pilkada).

Hal itu terjadi di Haiti pada Jumat (28/11). Rakyat yang sudah tiga tahun menanti diselenggarakan pilkada dan pileg menuntut Presiden Michel Martelly mundur. Pasalnya, Martelly dianggap telah mengulur waktu penyelenggaraan pemilu.

Padahal pada Juni lalu Martelly telah memutuskan bahwa gelaran Pileg dan Pilkada akan dilangsungkan pada 26 Oktober 2014. Namun, Majelis Nasional belum mengesahkan undang undang (UU) Pemilu.


Jika Pileg dan Pilkada ini tidak dilaksanakan hingga 12 Januari mendatang, di mana masa jabatan parlemen habis, maka Martelly bisa memperpanjang kekuasaannya dengan mengeluarkan dekrit presiden.

Oleh karena itu, para pengunjuk rasa menuduh Martelly berusaha mengembalikan kediktatoran di negara Karibia itu.

Seperti dilansir AFP (Sabtu, 29/11), tak hanya Martelly, Perdana Menteri Laurent Lamothe pun ikut dituntut mundur karena kedua pemimpin itu dianggap tidak mampu mengurus negara.

"Ganyang Martelly! Ganyang Lamothe! Pemimpin korupsi! Mereka harus pergi!" teriak para pengunjuk rasa, yang berkumpul di kawasan pusat pemerintahan di Ibukota Haiti, Port-au-Prince.

Selain itu, massa yang marah memblokir jalan-jalan protokol dengan meletakkan batu, membalikkan tong sampah, membakar ban, dan membuat barikade.[ian]

Populer

10.060 Jemaah Umrah Telah Kembali ke Tanah Air

Kamis, 05 Maret 2026 | 09:09

Rumah Bersejarah di Menteng Berubah Wujud

Sabtu, 07 Maret 2026 | 22:49

Pengacara Terkenal yang Menyita Perhatian Publik

Minggu, 08 Maret 2026 | 11:44

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Siapa Berbohong, Fadia Arafiq atau Ahmad Luthfi?

Sabtu, 07 Maret 2026 | 06:42

Bangsa Tak Akan Maju Tanpa Makzulkan Gibran dan Adili Jokowi

Senin, 09 Maret 2026 | 00:13

Fahira Idris Dukung Pelarangan Medsos Buat Anak di Bawah 16 Tahun

Minggu, 08 Maret 2026 | 01:58

UPDATE

Olah TKP Freeport

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:16

Rismon Rela Dianggap Pengkhianat daripada Menyembunyikan Kebenaran

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:14

Bandung Dalam Diplomasi Konfrontasi dan Kemunafikan Diplomasi

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:05

Roy Suryo Tegaskan Permintaan Maaf Rismon ke Jokowi Bersifat Pribadi

Jumat, 13 Maret 2026 | 14:00

KPK Panggil Pengusaha James Mondong dalam Kasus Suap Impor di Bea Cukai

Jumat, 13 Maret 2026 | 13:54

Aktivis KontraS Andrie Yunus Disiram Air Keras

Jumat, 13 Maret 2026 | 13:47

EMAS Rampungkan Fase Konstruksi, Fokus Kejar Target Produksi

Jumat, 13 Maret 2026 | 13:40

DPR Jangan Pilih Lagi Anggota KPU yang Tak Profesional!

Jumat, 13 Maret 2026 | 13:29

Kapolri dan Panglima TNI Pantau Pelabuhan Merak Via Helikopter

Jumat, 13 Maret 2026 | 13:23

Trump Yakin Pemimpin Baru Iran Masih Hidup tapi Terluka Parah

Jumat, 13 Maret 2026 | 13:17

Selengkapnya