Berita

Dunia

Maroko Mengenang Titik Kembali ke Masa Gemilang

KAMIS, 06 NOVEMBER 2014 | 19:36 WIB | LAPORAN: TEGUH SANTOSA

Hari ini 39 tahun lalu, sekitar 350 ribu rakyat Maroko berjalan kaki memasuki wilayah selatan di Gurun Sahara. Perjalanan berlangsung damai. Rakyat Maroko membawa Al Quran, bendera Maroko dan foto Raja Hassan II.

Green March, begitu nama peristiwa historik ini, menjadi penanda bersatunya kembali kedua wailayah Maroko setelah dipisahkan dua negara Eropa, Prancis dan Spanyol lewat Perjanjian Fez 1912. Di dalam perjanjian itu, wilayah utara Maroko dikuasai Prancis, dan wilayah selatan dijajah Spanyol.

Wilayah utara Maroko lebih dahulu mengecap kemerdekaan. Prancis meninggalkan Maroko pada tahun 1956. Sejak itu perlawanan rakyat Maroko bahu membahu berusaha membebaskan wilayah selatan dari penjajahan Spanyol. Upaya ini baru berhasil di pertengahan 1970an bersamaan dengan krisis politik Spanyol.


Dua tahun sebelum Spanyol menarik diri, Aljazair yang didukung oleh Uni Soviet ketika itu memfasilitasi sekelompok pejuang Maroko untuk mendirikan Polisario. Setelah Spanyol menarik diri dari Sahara, Fron Polisario mengklaim Sahara Barat sebagai negara yang merdeka.

Klaim Polisario ini tentu tidak diterima oleh Raja Muhammad V dan rakyat Maroko yang menyadari bahwa Sahara adalah bagian dari Maroko jauh sebelum Prancis dan Spanyol membelah dua negeri itu.

Tanggal 16 Oktober 1975 International Court of Justice (ICJ) di Den Haag mengeluarkan keputusan yang hingga kini masih kontroversial. Di satu sisi ICJ mengatakan bahwa Sahara Barat adalah wilayah yang tidak bertuan. Tetapi di sisi lain, ICJ juga mengakui bahwa ada hubungan antara Sahara dengan Kerajaan Maroko sebelumnya.

Ketidaktegasan ICJ inilah yang mendorong Raja Hassan II memerintahkan rakyat Maroko mengorganisir Green March, sebuah aksi massal yang dilakukan secara damai untuk membuktikan Sahara adalah milik Maroko.

Besok, Anda akan melintasi garis batas. Besok, Anda akan memulai Perjalanan. Besok. Anda akan berjalan di tanah milik Anda. Besok, Anda akan mencium tanah yang merupakan bagian dari negeri Anda,” ujar Raja Hassan di Agadir, sekitar 554 kilometer di baratdaya Rabat, sehari sebelumnya.

Kini, Green March di Maroko dikenang sebagai sebuah perjalanan yang mampu mengembalikan kerajaan yang berdiri pada abad ke-8 itu pada kegemilangan di masa lalu.

Namun, usaha menyatukan kembali Maroko masih mendapat tantangan dari kelompok Polisario yang berada di Aljazair. Hingga kini Maroko dan Polisario masih terlibat dalam pembicaraan di Komisi IV PBB mengenai status Sahara. Sejauh ini, hanya Maroko yang seperti permintaan DK PBB, membawa proposal damai yang komprehensif dan bisa diandalkan.[dem]

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Setelah 19 Kapolda Berganti, Apa yang Berubah bagi Masyarakat?

Selasa, 06 Oktober 2026 | 06:19

King Indo Sah Jadi Raja ASEAN Usai Geprek Thailand 4-2

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:54

Jika Gugatan Denny Indrayana Cs Diterima MK Tak Otomatis Gibran Lengser

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:33

Ada Beking Politik, Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Jaksinema Bakal Jadi Mesin Baru Ekonomi Jakarta

Selasa, 06 Oktober 2026 | 04:55

Bonus Timnas Indonesia Diatur Ketum PSSI

Selasa, 06 Oktober 2026 | 04:38

Nasib Gibran di Tangan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 04:19

Tak Mudah Pecat Gibran Meski Gugatan Denny Indrayana Cs Dikabulkan MK

Selasa, 06 Oktober 2026 | 03:28

Festival Indonesia 2026 Perkuat Diplomasi Budaya Jakarta-Seoul

Selasa, 06 Oktober 2026 | 03:03

Jakarta Butuh Regulasi Parkir Valet

Selasa, 06 Oktober 2026 | 02:23

Selengkapnya