Berita

presiden joko widodo/net

Politik

Supremasi Sipil, Jokowi Harusnya Tak Lagi Tempatkan Militer di Pimpinan BIN

SENIN, 03 NOVEMBER 2014 | 13:57 WIB | LAPORAN: SHOFFA A FAJRIYAH

Presiden Joko Widodo diharapkan dapat menempatkan sipil dalam pucuk pimpinan lembaga pertahanan negara seperti Badan Intelijen Negara (BIN).

Hal itu merupakan bagian dari penegakkan supremasi sipil yang telah digulirkan sejak awal reformasi. Supremasi sipil tersebut dinilai mampu mengurangi sekat antara militer, polisi, dan masyarakat sipil.

"Kepala BIN harusnya berasal dari kalangan sipil. Karena sekarang ini eranya bukan lagi perang senjata, bukan lagi era dominasi militer. Banyak problem di wilayah sipil yang harus ditangani Jokowi dengan gaya humanis dan clean goverment. Kalau pembantunya bernalar militeristik, dan berbau korupsi ini berbahaya," kata Direktur Eksekutif Institut Proklamasi Arif Rahman dalam rilis yang diterima redaksi beberapa waktu lalu (Senin, 3/11).


Menurut Arif, dengan menempatkan sosok sipil dipucuk lembaga pertahanan negara seperti BIN, maka diharapkan tidak lagi ada tebang pilih dalam suatu kasus pidana dan arogansi militer yang belakangan ini dinilainya cenderung meningkat.

"Saya khawatir, kalau Kepala BIN dikendalikan militer, selain adanya tebang pilih terhadap kasus tertentu, juga akan meningkatkan kesan hak istimewa kalangan militer seperti pada masa orde baru. Keistimewaan ini yang selama ini melahirkan sifat arogansi militer sejak masa Orde Baru," sambung Arif.

Menurutnya, selama ini banyak kasus yang belum jelas penanganannya. Ia juga menyebut bahwa di sejumlah daerah juga kerap terjadi konflik bersenjata yang justru diperankan oleh para prajurit militer dan polisi.

Dengan demikian, arogansi aparat bersenjata terhadap kalangan sipil harus dieliminir.

"Kalau Kepala BIN dari kalangan militer, upaya revolusi mental di tubuh militer sulit diwujudkan. Jangan sampai Presiden Jokowi mengkhianati amanat reformasi karena tidak berani melawan dominasi militer," pungkasnya. [mel]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Masuk Tahap Pembuktian, Denny Indrayana Minta MK Panggil Gibran

Senin, 28 September 2026 | 18:16

Bukan Sekadar Parlemen, MPR Penjaga Konstitusi dan Kebangsaan

Senin, 28 September 2026 | 18:09

Dari 49 Tahun, Antrean Faktual Haji Kini Jadi 14 Tahun

Senin, 28 September 2026 | 17:44

Prabowo Perintahkan Audit Forensik Tata Kelola Keuangan Haji

Senin, 28 September 2026 | 17:38

Warga Ngadu ke DPR Gegara Kasus Dugaan Mafia Tanah Disetop

Senin, 28 September 2026 | 17:33

Mengenal Megathrust, 14 Segmen Sumber Gempa di Indonesia dan Potensi Magnitudonya

Senin, 28 September 2026 | 17:25

Dirjenpas Janji Bongkar 13 Bangunan Lapas Cibinong

Senin, 28 September 2026 | 17:16

Apa Itu Fenomena Blue Fire di Gunung Papandayan? Ini Penjelasan Ahli

Senin, 28 September 2026 | 17:08

Kesaktian Silfester Mulai Berkurang

Senin, 28 September 2026 | 17:05

Harga BBM Pertamina 28 September 2026, Pertalite hingga Pertamax Masih Segini

Senin, 28 September 2026 | 16:59

Selengkapnya