Berita

jokowi/net

Arsyad, Jokowi, PDIP dan UU Pornografi

MINGGU, 02 NOVEMBER 2014 | 02:47 WIB | OLEH: ADHIE M. MASSARDI*

MUHAMMAD Arsyad dicokok Bareskrim Mabes Polri (23/10) semula atas pengaduan Henry Yosodiningrat, Ketua Tim Hukum kampanye capres-cawapres Jokowi-JK. Pedagang tusuk sate 23 tahun itu dituduh menghina dan mencemarkan nama baik (ketika itu) capres Jokowi lewat akun facebook miliknya.

Ancaman hukuman yang ditimpakan pada Arsyad memang dahsyat; KUHP (310, 311, 156, 157), UU ITE (27, 32, 35, 36, 45, 51) dan UU Pornografi (29, 30, 31, 32).

Tapi yang bikin Arsyad tak berkutik sesungguhnya bukan delik pencemaran nama baik versi KUHP. Karena harus dibuktikan dulu apakah cemarnya nama Jokowi akibat rekayasa foto bikinan Arsyad atau sebab lain.


Ehm! Bukan juga pelanggaran UU ITE yang delik aduan dan bila pengadunya menyabut aduannya urusan bisa cincai.

Yang bikin Arsyad tak bisa berkutik sesungguhnya pelanggaran UU Pornografi No 44/2008 yang dulu beken dengan nama UU APP (Anti-Pornografi dan Pornoaksi).

Dengan UU APP ini polisi bisa terus memroses hukum Arsyad sekalipun Arsyad dan ibundanya sudah sujud di kaki Jokowi, dan Presiden RI ke-7 itu lalu memaafkan. Maklum, ini bukan delik aduan.

Tapi tahukah Anda, bahwa UU APP yang bikin para pendukung PDIP dan Jokowi sumringah itu adalah UU yang kelahirannya ditolak dan dikutuk seluruh anggota PDIP di Senayan?

Pada hari yang dicatat sejarah itu, Kamis, 30 Oktober 2008, dalam sidang paripurna DPR, Ketua Fraksi PDIP Tjahjo Kumolo menegaskan RUU Pornografi itu melanggar dua hal: prosedural dan substansial.

"Kami menolak pengesahan RUU ini, dan melakukan walk out," katanya seraya meninggalkan ruang sidang dan diikuti rekan-rekannya sesama fraksi.

Begitulah. Moral cerita ini menjelaskan: Hal yang dulu ditolak dan dikutuk belum tentu sungguh-sungguh tidak bermanfaat buat para pengutuknya.

Muhammad Arysad, yang saya duga termasuk dari golongan orang-orang yang dahulu mendukung RUU Pornografi ini, niscaya juga tak pernah menduga situasi bakal jadi terbolak-balik seperti sekarang. [***]

Penulis adalah mantan Jurubicara Presiden Abdurrahman Wahid, aktivis prodemokrasi, dan penyair.

Populer

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

Pergantian KSAD jadi Sinyal Skenario Baru Penentuan Panglima TNI

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 03:02

Jokowi sudah Ditinggalkan Parpol, Polri, hingga Oligarki

Senin, 19 Oktober 2026 | 04:00

Gagal Atasi Karhutla, Pecat Menhut Raja Juli!

Jumat, 16 Oktober 2026 | 23:30

Gugat Allianz Rp1,5 Miliar, Krisdayanti Ajukan Perkara ke PN Jaksel

Minggu, 18 Oktober 2026 | 13:28

Dua Tahun Cukup bagi Prabowo Mengasuh Geng Solo

Selasa, 13 Oktober 2026 | 13:43

UPDATE

Darwis Ismail Terpilih jadi Nakhoda Baru ISKINDO Periode 2026-2031

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 03:46

Polda Metro Bongkar Penyelundupan 54 Ton Batu Galena dari Gorontalo

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 03:27

Usul LBP Makin Terasa Janggal, Reformasi Hukum Jangan Kehilangan Arah

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 02:59

Manifesto Welfare State Pesisir

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 02:30

Gerakan 1 Juta Liter Air Bersih BEM PTNU Teruskan Semangat Resolusi Jihad

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 02:05

Sidang Praperadilan Kasus Relawan Prabowo Ditunda, Hakim Tegur Kelalaian Pemanggilan

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 01:51

Langkah Cepat Polda Jatim Cegah Potensi Kericuhan Aksi Mahasiswa Tuai Apresiasi

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 01:26

PT TIMAH Buka Opsi Buyback Saham Sikapi Dinamika Pasar Modal

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 00:49

GMNI Puji Ketegasan Kapolri Bongkar Penyelundupan 1,16 Ton Ketamin

Sabtu, 24 Oktober 2026 | 00:21

PKS Dukung Pemerintah Lakukan Reformasi Bursa Saham Menyeluruh

Jumat, 23 Oktober 2026 | 23:45

Selengkapnya