Berita

rachmawati soekarnoputri/net

Dunia

Rachmawati: Amerika Serikat Harus Menarik Pasukan Militer

MINGGU, 19 OKTOBER 2014 | 08:41 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Pemerintah Amerika Serikat harus menarik pasukan Amerika Serikat yang selama ini ditempatkan di kawasan Asia Timur. Keberadaan pasukan AS itu adalah bagian dari hostile politics yang menciptakan ketegangan di Semenanjung Korea.

Demikian disampaikan Ketua Komite Solidaritas untuk Reunifikasi Damai Korea Rachmawati Soekarnoputri dalam pertemuan dengan Peter Woods yang juga merupakan salah seorang ketua di komite yang sama di kediaman Rachmawati di Jalan Jati Padang Raya, Jakarta Selatan, Sabtu sore (18/10).

Hadir dalam pertemuan itu Deputi Sekretaris Komite Solidaritas untuk Reunifikasi Damai Korea, Teguh Santosa yang juga Sekjen Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Korea Utara.


Saat ini ada sekitar 30 ribu tentara Amerika Serikat yang ditempatkan di Seoul, Korea Selatan. Dalam waktu dekat pangkalan militer AS ini akan dipindahkan ke Pyeongtaek. Selain itu, ada sekitar 50 ribu tentara AS di pangkalan militer di Okinawa, Jepang, yang jaraknya hanya “sepelemparan batu” dari Semenanjung Korea. Pangkalan militer AS di Okinawa adalah pangkalan militer AS terbesar di luar negeri.

“Penarikan pasukan AS dari kawasan Asia Timur adalah prakondisi yang dibutuhkan untuk mencapai perdamaian di Semenanjung Korea. Selama itu tidak dilakukan, sulit membayangkan pembicaraan damai bisa produktif. Akan selalu terjadi ketegangan demi ketegangan di sana,” ujar Rachma.

Dia mengatakan, Amerika Serikat berusaha untuk terus menciptakan ketegangan di Semenanjung Korea karena hanya dengan ketegangan di Semenanjung Korea itu Amerika Serikat memiliki alasan untuk tetap hadir di Kawasan Asia Timur.

Di sisi lain, sambungnya, sentimen politik di kawasan Asia Timur mengalami perubahan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir, menyusul peningkatan kemampuan militer China.

“Sulit membayangkan AS mau menarik pasukannya yang ada di Korea Selatan dan Okinawa, karena mereka kini justru merasa terancam oleh (kekuatan militer) China,” kata Rachma lagi.

Itu pula sebabnya, kini AS memberi kesempatan kepada Jepang untuk membangun kekuatan militer reguler yang punya kewenangan untuk melakukan serangan. Tidak seperti sebelumnya, Jepang dibatasi oleh Konstitusi 1950 untuk hanya memiliki pasukan bela diri. [dem]

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Indeks Kecakapan Bahasa Inggris di Indonesia Masih Rendah, Ini Sebabnya

Selasa, 09 Juni 2026 | 22:16

Putusan Kasasi MA Sengketa Lahan Digugat, Prinsipal Lapor Badan Pengawas

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:53

KPK dan Polri Ternyata Lakukan Joint Investigation dalam OTT Bupati Muara Enim

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:44

Badak Kalimantan Terakhir di Alam Liar Segera Dievakuasi

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:16

Nadiem Kecewa Replik Jaksa Abaikan Fakta Persidangan

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:05

Budi Bantah Ditawari Jadi Menkeu: Sekarang Masih Menkes!

Selasa, 09 Juni 2026 | 21:00

Citizen Lawsuit, Rangkap Jabatan Otto Hasibuan Digugat ke Pengadilan

Selasa, 09 Juni 2026 | 20:52

DEN Ingatkan Risiko Inflasi Imbas Rupiah Melemah

Selasa, 09 Juni 2026 | 20:45

Besok Prabowo ke Lampung, Tinjau RSUD Krui

Selasa, 09 Juni 2026 | 20:36

Luhut: 80 Persen Data Pemerintah Sudah Terhubung Lewat GovTech Berbasis AI

Selasa, 09 Juni 2026 | 20:21

Selengkapnya